
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,1 mengguncang Mindanao dan langsung melumpuhkan banyak fasilitas publik di wilayah selatan Filipina. Gangguan terbesar muncul pada jaringan listrik dan komunikasi, sementara warga di sejumlah titik menghadapi kondisi darurat dengan akses informasi yang terbatas.
Pemerintah Filipina bergerak cepat untuk menangani dampak guncangan yang luas. Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan seluruh kementerian terkait turun membantu dan menegaskan, “Pemerintah nasional tengah bergerak dan kami tidak akan meninggalkan Mindanao.”
Respons Darurat Pemerintah
Marcos Jr. juga menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak. Kebijakan itu diberlakukan tanpa batas waktu demi menjaga keselamatan para pelajar di tengah situasi yang belum stabil.
Langkah tersebut muncul saat ketegangan politik ikut membayangi penanganan bencana di Mindanao. Namun, fokus utama pemerintah tetap tertuju pada penyelamatan warga dan pemulihan layanan dasar yang lumpuh setelah gempa.
Listrik Padam, Komunikasi Terputus
Kerusakan paling terasa terjadi pada infrastruktur vital yang menopang aktivitas harian warga. Jaringan listrik dan saluran komunikasi nirkabel dilaporkan terganggu total, sehingga proses pendataan korban dan koordinasi antarlembaga menjadi jauh lebih sulit.
Kondisi itu juga membuat aparat penanggulangan bencana bergerak dengan keterbatasan besar. Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Provinsi Sarangani, Rene Punzalan, mengatakan kepada DZBB bahwa “tidak ada listrik dan sinyal telepon hanya tersedia secara terbatas.”
Warga dan Pelaku Usaha Bertahan
Di Kota General Santos, sejumlah bangunan dilaporkan runtuh dan sebuah pusat perbelanjaan mengalami kerusakan parah. Dampaknya langsung dirasakan pelaku usaha, termasuk restoran hidangan laut dekat Teluk Sarangani yang kehilangan hampir seluruh persediaannya.
Cathy Velez, karyawan restoran itu, mengatakan, “Restoran kami masih berdiri, tetapi hampir seluruh persediaan kami hancur.” Ia menambahkan bahwa seluruh pekerja selamat di rumah singgah karyawan.
Sejumlah warga juga menggambarkan betapa kuatnya guncangan yang terjadi. Tomas Alon, warga General Santos, berkata kepada DZBB, “Saya bahkan tidak bisa berdiri, guncangannya sangat kuat,” dan menyebut seluruh barang di rumahnya jatuh.
Evakuasi di Rumah Sakit dan Pesisir
Manajemen rumah sakit di daerah terdampak juga melakukan evakuasi medis untuk menghindari risiko dari bangunan yang rusak. Para pasien dipindahkan ke area terbuka di luar gedung utama sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan.
Di sisi lain, aparat bencana menyisir kawasan pantai dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah pesisir untuk evakuasi darurat. Punzalan menegaskan bahwa timnya sudah bergerak, sambil menyoroti keterbatasan pasokan listrik dan sinyal telepon di lapangan.
Transportasi Udara dan Aktivitas Pemerintahan Terhenti
Gangguan pascagempa tidak berhenti pada fasilitas umum dan pemukiman warga. Bandara General Santos ikut ditutup sementara, yang berujung pada pembatalan massal sedikitnya 17 jadwal penerbangan domestik.
Aktivitas birokrasi di beberapa kota besar seperti Davao juga berhenti total. Situasi ini memperlihatkan betapa luasnya dampak gempa terhadap layanan publik, mobilitas warga, dan koordinasi pemerintahan di Mindanao.
Mindanao berada di kawasan Filipina yang secara historis dikenal sebagai salah satu zona paling rawan bencana seismik di dunia. Letaknya yang berada di atas jalur patahan aktif Cincin Api Pasifik membuat wilayah ini kerap menghadapi ancaman gempa besar dan kerusakan berlapis pada infrastruktur penting.
Source: www.suara.com








