
Donald Trump kembali mengancam akan memerintahkan serangan Amerika Serikat terhadap Iran setelah menuduh Tehran mempermainkan Washington dalam pembahasan damai untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Pernyataan itu muncul saat gencatan senjata yang rapuh kembali terguncang oleh baku tembak baru dan sorotan internasional terhadap risiko perang yang lebih luas.
Trump mengatakan serangan AS akan dilanjutkan karena Iran dianggap terlalu lama menyepakati kesepakatan. Ia menuduh para negosiator Iran “playing us for suckers” dan menyebut Tehran “all talk and no action”.
Diplomasi masih berjalan di tengah ancaman
Nada keras Trump datang hanya sehari setelah ia mengatakan pembicaraan damai berada dalam “final throes”. Namun pada hari berikutnya, ia memberi penilaian berbeda dan menyatakan Iran akan “pay the price” karena dinilai terlalu lama bernegosiasi.
Meski begitu, upaya diplomatik belum berhenti. Negosiator dari Qatar disebut bergerak ke Tehran untuk bertemu pihak Iran dan mencoba menjembatani celah yang tersisa, dengan Pakistan juga membantu proses mediasi.
Ketegangan meningkat setelah Iran dan AS kembali saling tembak usai jatuhnya sebuah helikopter Amerika. Pertukaran serangan itu menambah tekanan pada gencatan senjata yang mulai berlaku pada April, tetapi berkali-kali diwarnai ledakan kekerasan.
Kekhawatiran meluas ke kawasan dan pasar energi
Perang yang dimulai lewat serangan AS-Israel terhadap Iran sebelumnya sempat membuat kawasan kacau dan mengguncang pasar global. Konflik itu juga mendorong lonjakan harga energi setelah Tehran membalas dengan nyaris menutup Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dunia.
Trump pada Rabu mengatakan militer AS diam-diam membantu 100 juta barel minyak melewati selat yang disengketakan itu. Klaim tersebut menambah dimensi baru pada perang informasi dan perebutan kendali jalur energi strategis di kawasan.
Seruan menahan diri datang dari banyak pihak, termasuk kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memperingatkan bahaya kembali ke “full war”. Menjelang Piala Dunia yang digelar bersama oleh AS dan diikuti Iran, tekanan internasional untuk meredakan situasi juga semakin besar.
Serangan balasan dan klaim saling menghantam
Iran menyatakan telah menyerang pangkalan Amerika di Yordania dan Bahrain pada Rabu setelah AS melancarkan serangan balasan atas jatuhnya helikopter itu. Di sisi lain, militer AS menyebut Apache yang jatuh menjadi pesawat berawak kedua yang dikonfirmasi ditembak jatuh Iran selama perang, meski dua awaknya berhasil diselamatkan.
Bahrain mengatakan telah mencegat dan menghancurkan sejumlah serangan udara Iran. Militer Yordania juga menyebut pihaknya menembak jatuh lima rudal tanpa korban jiwa atau kerusakan materi.
Militer Kuwait turut mengatakan pertahanan udaranya menghadapi “hostile aerial targets”. Di saat yang sama, kementerian luar negeri Iran menegaskan kembali tanggung jawab hukum dan moral negara-negara tetangga agar tidak membiarkan wilayah mereka dipakai AS atau Israel untuk menyerang Iran.
CENTCOM menyebut pihaknya lebih dulu menyerang pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan lokasi radar pengintai di dekat Selat Hormuz. Militer AS juga mengatakan sebuah pesawat tempur Amerika menembak dan melumpuhkan sebuah tanker di Teluk Oman yang berusaha mengangkut minyak dari Iran dengan melanggar blokade AS atas pelabuhan Iran.
Dampak merembet ke Lebanon dan kawasan Teluk
AS juga melakukan serangan yang merusak dua reservoir air yang memasok wilayah kota pelabuhan Sirik di Iran. Perusahaan air setempat kemudian mengatakan pada Rabu bahwa pasokan air telah dipulihkan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi dengan menegaskan bahwa infrastruktur vital adalah “the lifeblood of the people”. Ia menyebut ancaman untuk menargetkan infrastruktur bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda keputusasaan.
Ketegangan itu memicu seruan de-eskalasi dari sekutu Iran, Rusia dan China. Juru bicara kementerian luar negeri China mendesak kedua pihak untuk berhenti memperdalam konflik dan menghentikan eskalasi situasi.
Di tengah krisis ini, Iran tetap menegaskan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang harus mencakup gencatan senjata di Lebanon. Syarat itu terkait dengan keterlibatan Hezbollah yang didukung Iran, setelah kelompok bersenjata di Lebanon itu menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret.
Israel membalas dengan serangan udara dan invasi darat yang disebut telah menewaskan lebih dari 3.600 orang, sementara baku tembak dengan Hezbollah tetap berlangsung meski ada gencatan senjata nominal. Pada Rabu, sumber medis mengatakan serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan 12 orang.
Di Sidon, sebuah serangan menghantam pusat kota dan seorang koresponden AFP melihat sebuah mobil terbakar ketika petugas darurat bergerak ke lokasi setelah mendengar ledakan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyerukan warga Lebanon untuk bergabung dengan Israel melawan Hezbollah, dengan menyebut negara itu telah disandera kelompok tersebut.
Militer Israel sebelumnya meminta seluruh kota Tyre di selatan untuk dievakuasi. Seorang warga, Elias Barbour, mengatakan keluarganya sudah berkemas dan bersiap pergi, sambil mempertanyakan apa yang telah mereka lakukan dan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.









