Agresi AS-Israel ke Iran Diprediksi Berlanjut Hingga Oktober, Peta Timur Tengah Kian Menegang

Prediksi terbaru menunjukkan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih berpotensi berlangsung panjang, bahkan hingga Oktober 2027. Pandangan itu disampaikan Pakar Hubungan Internasional Binus University, Dinna Prapto Raharja, yang menilai eskalasi militer belum menunjukkan tanda mereda dalam waktu dekat.

Dinna mengatakan perang itu masih bisa berlanjut setidaknya sampai pemilu Israel berikutnya. Ia menyebut Israel tetap berada pada jalur serangan militer terhadap kelompok pejuang Libanon, Hizbullah, yang juga menjadi sekutu Iran di kawasan Timur Tengah.

Perang belum mendekati titik selesai

Menurut Dinna, dinamika konflik saat ini masih jauh dari kata selesai karena para pihak belum mencapai titik jenuh untuk beralih dari opsi militer ke jalur damai. Ia menilai negosiasi yang dimediasi Pakistan antara AS dan Iran juga sulit menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.

Ia menekankan bahwa masing-masing pihak masih bertahan pada tuntutan yang sulit dipenuhi lawan. Dalam pandangannya, kondisi itu membuat perundingan berjalan buntu dan belum membuka ruang kompromi yang memadai.

Dinna juga menyoroti bahwa Iran merasa tidak berada dalam posisi yang lemah. Di sisi lain, Amerika Serikat dinilai belum memperhitungkan kekuatan Iran secara utuh, sementara amunisi AS disebut mulai menipis setelah perang yang telah berlangsung sekitar 100 hari.

Aset beku, sanksi, dan isu nuklir

Selain faktor militer, kebuntuan juga muncul dari isu ekonomi dan nuklir. AS masih membekukan miliaran dolar aset Iran di sejumlah negara dan tetap menjatuhkan sanksi kepada Teheran, sementara Iran menuntut pencairan aset itu sebagai salah satu syarat utama penyelesaian konflik.

Di tengah situasi tersebut, Dinna meyakini Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya seperti yang diminta Washington. Ia menilai persoalan nuklir justru menjadi salah satu bagian paling berat dalam negosiasi, apalagi ketika Israel terus meningkatkan tekanan di Libanon dan kawasan Timur Tengah.

“Justru dengan Israel makin agresif di Libanon dan negara-negara Timur Tengah, Iran makin tidak mau melepas program nuklirnya,” ujar Dinna.

Dampak konflik meluas ke kawasan

Eskalasi tidak berhenti di hubungan AS, Israel, dan Iran. Serangan Israel ke Libanon memperluas dampak konflik dan menambah ketegangan di Timur Tengah, terutama karena Hizbullah memiliki kaitan erat dengan kepentingan Iran di kawasan itu.

Dinna bahkan menyebut Israel ingin menjadikan Beirut sebagai simbol kejatuhan Libanon. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa arah konflik tidak hanya menyentuh aspek militer, tetapi juga dimensi politik dan simbolik yang memperdalam ketegangan regional.

Selat Hormuz ikut menjadi titik rawan

Perseteruan kedua negara juga masih berkutat pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Posisi selat itu membuat setiap eskalasi di kawasan berpotensi memicu gangguan yang lebih luas terhadap keamanan energi global.

Bagi Dinna, seluruh perkembangan tersebut menunjukkan bahwa situasi masih berada dalam kondisi deadlock. Ia menilai proses menuju perjanjian damai masih sangat panjang dan peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat tetap kecil.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button