
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali naik setelah Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan serangan lanjutan terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik. Informasi itu memicu kekhawatiran baru karena langkah tersebut berpotensi memperluas konflik dari sasaran militer ke fasilitas yang lebih vital.
Laporan Fox News menyebut Trump menilai Iran sengaja memperlambat jalannya negosiasi yang masih berlangsung. Karena itu, Iran disebut harus “membayar harga” atas penundaan yang terjadi.
Sasaran serangan yang dipertimbangkan
Opsi yang sedang dibahas tidak hanya menyasar satu titik, tetapi sejumlah infrastruktur penting di Iran. Pembangkit listrik menjadi salah satu fasilitas yang ikut masuk dalam daftar pertimbangan tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi lapangan yang sudah lebih dulu memanas. Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi jet tempur AS menyerang fasilitas pertahanan udara dan radar Iran di sekitar Selat Hormuz pada Selasa malam (9/6).
Washington menyebut serangan itu sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS. Setelah serangan tersebut, Iran langsung memberi balasan melalui Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
Balasan Iran dan eskalasi di kawasan
IRGC mengklaim telah menargetkan 21 fasilitas militer Amerika Serikat. Sasaran itu disebut berada di sejumlah pangkalan udara dan pangkalan angkatan laut di kawasan Timur Tengah.
Rangkaian aksi saling serang ini memperlihatkan hubungan kedua negara yang makin memburuk. Kondisi itu juga terjadi setelah keduanya sempat menyepakati gencatan senjata pada 7 April lalu.
Trump dalam pernyataannya juga menegaskan bahwa kekuatan militer Iran kini melemah. Ia menyebut militer Iran “benar-benar porak-poranda” dan menambahkan bahwa angkatan laut serta udara Iran nyaris tidak ada lagi.
Diplomasi belum memberi hasil
Di jalur diplomatik, upaya yang dimediasi Pakistan di Islamabad belum menunjukkan kemajuan berarti. Negosiasi masih berjalan untuk menyusun nota kesepahaman, tetapi bentrokan dan serangan di lapangan tetap terjadi.
Situasi ini membuat ancaman terhadap infrastruktur sipil Iran menjadi perhatian serius. Jika wacana serangan terhadap pembangkit listrik benar-benar dijalankan, dampaknya dikhawatirkan dapat memperluas konflik dan meningkatkan risiko bagi stabilitas kawasan.
Komunitas internasional kini memantau perkembangan tersebut dengan cermat, terutama karena eskalasi di lapangan terus bergerak seiring mandeknya jalur diplomasi. Dalam kondisi seperti ini, setiap langkah militer baru berpotensi memicu respons balasan yang lebih luas dari Iran.
Source: www.medcom.id








