Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa militer AS mengamankan 100 juta barel minyak di Selat Hormuz memunculkan tanda tanya besar. Pernyataan itu terdengar ambisius, tetapi sejumlah data pelayaran dan keterangan pejabat pemerintah AS justru tidak memperlihatkan bukti yang sejalan.
Trump menyebut operasi rahasia itu membantu menjaga harga minyak dunia tetap berada di kisaran US$ 90 per barel. Ia juga mengatakan kapal-kapal tanker dan kapal komersial berhasil melintas tanpa lampu karena radar tidak berfungsi setelah infrastruktur strategis Iran dihancurkan.
Klaim Trump dan respons di dalam pemerintah AS
Trump mengulang pernyataan tersebut melalui Truth Social setelah menyampaikannya kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih. Dalam unggahannya, ia mengatakan telah memerintahkan militer AS menjalankan misi rahasia untuk mengamankan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Ia bahkan menulis bahwa lebih dari 200 kapal komersial telah melintas dengan aman dan menyebut keberhasilan itu sebagai bukti bahwa Amerika Serikat, bukan Iran, yang menguasai selat tersebut. Namun, penjelasan itu tidak langsung mendapat dukungan dari lingkungan pemerintahannya sendiri.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dalam sidang dengar pendapat di Kongres bahwa dirinya tidak mengetahui adanya operasi militer yang berhasil memindahkan jutaan barel minyak seperti yang diklaim Trump. Wright tetap mengakui militer AS membantu sejumlah kapal keluar dari jalur pelayaran itu, tetapi ia menegaskan kapal-kapal tersebut bukan milik Iran.
Mengapa Selat Hormuz sangat penting
Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi perdagangan energi global karena sekitar 20% pasokan energi dunia melewati perairan itu. Jalur sempit di antara pantai Iran dan Oman ini juga menjadi rute utama ekspor energi dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, dan Qatar.
Ketegangan di kawasan membuat lalu lintas kapal terganggu sejak awal Maret setelah serangan AS dan Israel terhadap Teheran memicu eskalasi. Iran sempat menyatakan tidak akan mengizinkan kapal apa pun melintas, sebelum kemudian memberi izin terbatas kepada kapal dari negara yang dianggap bersahabat dengan syarat negosiasi langsung soal hak transit.
Situasi makin rumit setelah AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran pada 13 April, lima hari setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara. Di tengah pembatasan dari kedua sisi, hanya sebagian kecil kapal yang tetap bisa melintas dibandingkan kondisi normal.
Data pelayaran tidak mendukung angka 100 juta barel
Analisis Al Jazeera menilai klaim Trump sulit dipadankan dengan volume pelayaran yang tercatat selama konflik. Angka 100 juta barel setara dengan sekitar lima hari produksi minyak global sebelum perang terjadi.
Sebelum konflik, rata-rata sekitar 140 kapal, termasuk tanker minyak, melintasi selat itu setiap hari. Volume pengiriman mencapai sekitar 20 juta barel minyak per hari, sehingga lalu lintas selama lima hari normal saja bisa mencapai sekitar 700 kapal.
Dengan perbandingan itu, klaim pemindahan 100 juta barel membutuhkan aktivitas pelayaran yang sangat besar. Hingga kini, belum ada bukti yang menunjukkan volume transit selama perang mencapai tingkat tersebut, meski sebagian kapal yang dikawal militer AS disebut mematikan transponder selama perjalanan.
Catatan pemantau pelayaran menunjukkan angka lebih rendah
Sejumlah perusahaan intelijen maritim juga mencatat jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz selama konflik jauh di bawah angka yang tersirat dari klaim Trump. Windward mencatat hampir 80 kapal komersial meninggalkan Kawasan Teluk dalam lima pekan terakhir.
Lloyd’s List memperkirakan sekitar 142 kapal telah keluar dari kawasan itu sejak Maret. Sementara Kpler mencatat 264 transit kapal selama periode konflik, dan angka itu tetap jauh dari volume yang dibutuhkan untuk mendukung klaim 100 juta barel minyak.
Perbedaan antardata memang muncul karena definisi transit kapal yang digunakan tiap perusahaan tidak selalu sama. Meski begitu, seluruh catatan tersebut menunjukkan skala pergerakan kapal yang masih jauh di bawah klaim yang disampaikan Trump.
Iran masih punya pengaruh kuat di jalur strategis itu
Sejumlah laporan juga menunjukkan banyak kapal yang berhasil melintas tetap mendapat izin langsung dari Iran. Dalam beberapa kasus, kapal disebut membayar biaya transit kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC agar memperoleh akses pelayaran yang aman.
Beberapa negara yang memiliki hubungan baik dengan Teheran, termasuk Pakistan, India, dan Rusia, juga disebut telah menegosiasikan jalur transit khusus untuk sebagian kapal yang membawa pasokan energi penting. Ada pula laporan bahwa sejumlah pembayaran transit dilakukan menggunakan yuan.
Bagi Iran, Selat Hormuz tetap menjadi instrumen ekonomi penting di tengah tekanan akibat blokade angkatan laut AS. Teheran menerapkan biaya yang menyerupai premi asuransi bagi kapal yang ingin melintas, sementara Washington menolak praktik itu dan menganggapnya sebagai pungutan ilegal di jalur pelayaran internasional.
Iran memiliki pandangan berbeda. Pemerintah Teheran menyatakan Selat Hormuz bukan perairan internasional sepenuhnya, melainkan wilayah yang pengelolaannya dibagi secara eksklusif antara Iran dan Oman, dan perbedaan tafsir itulah yang membuat ketegangan di jalur ini terus berlanjut.
Source: www.beritasatu.com






