Trump Klaim Operasi Rahasia Tewaskan Bos Tren de Aragua, Sinyal Baru Perburuan Narkoterorisme

Presiden Donald Trump mengklaim militer Amerika Serikat menewaskan Héctor Rusthenford Guerrero Flores, tokoh yang disebut sebagai pemimpin geng Tren de Aragua, dalam sebuah operasi rahasia yang ia sebut dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Kelompok itu telah ditetapkan Washington sebagai organisasi teroris.

Trump menyampaikan klaim itu lewat media sosial Truth Social dan menegaskan bahwa Tren de Aragua tidak lagi memiliki tempat aman di Venezuela maupun di wilayah lain. Ia juga mengatakan pemerintahannya akan terus memburu para pelaku kekerasan dan perdagangan narkoba yang disebutnya sebagai ancaman serius bagi Amerika Serikat.

Klaim serangan dan respons pejabat AS

Menteri Pertahanan Pete Hegseth kemudian menulis di platform X bahwa serangan tersebut berlangsung pada awal pekan ini dan menyasar sebuah markas Tren de Aragua di Venezuela. Hegseth menyebut operasi itu sebagai bagian dari upaya bersama untuk melawan “narco-teroris” dan mencegah mereka memiliki ruang aman di kawasan Amerika.

Pernyataan Hegseth memperkuat narasi pemerintah Trump yang selama ini menempatkan Tren de Aragua sebagai salah satu target utama dalam kampanye keamanan dan anti-narkoba. Di sisi lain, klaim itu muncul dalam suasana politik yang sejak lama menyorot imigrasi dan kejahatan sebagai isu utama pemerintahan Trump.

Pernyataan Venezuela dan identitas korban

Pemerintah Venezuela juga mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi adanya operasi di negara bagian Bolívar, wilayah tenggara Venezuela. Dalam pernyataan itu disebutkan terjadi bentrokan dengan anggota kelompok kriminal, yang berujung pada tewasnya Héctor Rusthenford Guerrero Flores, atau “Niño Guerrero”.

Guerrero Flores sebelumnya didakwa di pengadilan federal New York atas tuduhan konspirasi pemerasan terorganisasi dan sejumlah kejahatan lain. Otoritas AS juga menyebut ada dakwaan terkait dukungan kepada teroris dalam aktivitas kriminal yang disebut telah berlangsung lebih dari satu dekade.

Latar belakang Tren de Aragua

Tren de Aragua berasal dari sebuah penjara di negara bagian Aragua, Venezuela tengah, lebih dari satu dekade lalu. Kelompok ini berkembang ketika sistem penjara di Venezuela melemah dan para narapidana berhasil mengambil kendali atas fasilitas itu melalui kekerasan dan pemerasan.

Guerrero Flores kembali dipenjara pada 2013 setelah divonis atas kasus pembunuhan dan kejahatan lain. Seiring waktu, penjara tersebut berubah menjadi semacam kompleks tertutup dengan fasilitas seperti kebun binatang, lapangan bisbol, kasino, hingga restoran, sementara Guerrero Flores disebut memiliki suite pribadi yang mewah.

Langkah keras pemerintahan Trump

Pemerintahan Trump memang telah mengambil langkah-langkah agresif terhadap kelompok yang disebutnya sebagai ancaman narkotika. Salah satunya adalah serangkaian serangan terhadap kapal kecil yang dituduh dipakai untuk menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat.

Sejak awal September, ketika pemerintahan Trump mulai menargetkan pihak-pihak yang disebut sebagai narco-teroris, sedikitnya 207 orang dilaporkan tewas dalam serangan di Samudra Pasifik bagian timur dan Laut Karibia. Angka itu menunjukkan skala operasi yang jauh lebih luas dari sekadar satu sasaran di Venezuela.

Trump dan para pejabatnya berulang kali menuduh Tren de Aragua menjadi sumber kekerasan dan peredaran narkoba ilegal di sejumlah kota AS. Trump juga berkali-kali mengaitkan kelompok itu dengan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, meski penilaian intelijen AS yang telah dideklasifikasi disebut bertentangan dengan klaim tersebut.

Dampak regional dan sorotan lanjutan

Di luar Amerika Serikat, Tren de Aragua juga dituduh terlibat dalam gelombang kekerasan di negara-negara yang menampung banyak migran Venezuela, termasuk Peru dan Kolombia. Namun, menurut InSight Crime, kelompok ini tidak memiliki peran besar dalam penyelundupan kokain lintas negara seperti sejumlah jaringan kriminal dari Kolombia, Amerika Tengah, dan Brasil.

Di Venezuela sendiri, para pemimpin geng kriminal telah lama dikaitkan dengan aktivitas ilegal seperti pertambangan emas dan perdagangan narkoba. Isu itu ikut bersinggungan dengan rencana pemerintah AS untuk membuka jalan pemulihan ekonomi Venezuela, termasuk pada sektor pertambangan legal, yang disebut sebagai bagian dari pendekatan bertahap Washington terhadap negara itu.

Source: www.viva.co.id

Terkait