Donald Trump mulai memberi sinyal melunak soal program nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berjalan antara Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat itu kini membuka ruang agar Iran tetap bisa melakukan pengayaan uranium, selama berada pada kadar rendah dan tidak dipakai untuk tujuan militer.
Sikap itu berbeda dari tuntutan sebelumnya yang mendesak penghentian total pengayaan uranium oleh Iran. Kepada New York Times, Trump menegaskan Iran hanya boleh mengolah uranium untuk kebutuhan nonmiliter, sambil menekankan bahwa pembahasan teknis tidak ingin ia buka ke publik secara rinci.
Perubahan sikap Washington
Pernyataan terbaru Trump menjadi sinyal penting karena menunjukkan adanya pergeseran dari posisi keras ke pendekatan yang lebih fleksibel. Dalam kerangka baru ini, Iran masih dapat menjalankan aktivitas pengayaan uranium, tetapi dengan batasan yang ketat agar tidak berkembang menjadi program senjata.
Trump juga menyebut kedua pihak masih membicarakan kemungkinan penghentian sementara aktivitas pengayaan uranium oleh Iran. Jika sebelumnya Amerika Serikat mengusulkan jeda selama 20 tahun, kini Trump memberi isyarat bahwa masa penangguhan sekitar 15 tahun masih bisa diterima.
Meski membuka ruang kompromi, Trump tetap menegaskan bahwa Iran tidak boleh melampaui batas tertentu. Ia tidak membeberkan angka yang dimaksud, tetapi menekankan bahwa tingkat pengayaan yang diizinkan harus tetap rendah dan tidak punya nilai militer.
Sebagai pembanding, kesepakatan nuklir pada masa Presiden Barack Obama membatasi pengayaan uranium Iran hingga 3,67 persen. Angka itu dinilai cukup untuk kebutuhan pembangkit listrik, tetapi tidak memadai untuk pembuatan senjata nuklir.
Negosiasi masih berjalan
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran disebut telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Proses ini dipimpin utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, sementara Iran tetap mempertahankan pandangannya bahwa hak melakukan pengayaan uranium dijamin dalam perjanjian internasional.
Trump menyatakan hasil akhir yang diinginkan tetap sama, yakni memastikan Iran hanya memakai uranium untuk tujuan damai. Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan itu harus berlaku permanen dan tidak memberi ruang bagi penggunaan nondamai.
Di saat yang sama, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa isu nuklir belum masuk dalam rancangan nota kesepahaman atau MoU yang sedang difinalisasi. Dokumen tersebut justru lebih berfokus pada penghentian konflik bersenjata dan pembukaan jalur menuju perundingan lanjutan.
Iran masih berhati-hati
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran atau SNSC mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar akan mengakhiri operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon. Iran juga menegaskan pembahasan menuju kesepakatan final belum akan dimulai sebelum seluruh komitmen dalam MoU dijalankan oleh pihak lawan.
Sikap itu menunjukkan kehati-hatian Teheran terhadap Washington. Pengalaman keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir sebelumnya membuat Iran meminta jaminan yang lebih konkret sebelum bergerak ke tahap negosiasi berikutnya.
Dengan posisi yang mulai melunak, Trump tampak mencoba mencari titik temu yang memungkinkan Iran tetap menjalankan pengayaan uranium dalam batas tertentu. Namun, batas itu masih menjadi sumber utama perdebatan karena Washington ingin memastikan aktivitas tersebut tidak pernah bergeser ke arah militer.
Source: www.medcom.id






