Prancis Dihantam Gelombang Panas Ekstrem, Lebih Dari 1.000 Warga Tewas Dalam Sepekan

Author: Qoo Media

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa terus menimbulkan dampak serius, dengan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan dalam sepekan terakhir. Di saat yang sama, Jerman mencatat suhu yang memecahkan rekor dan memicu kebakaran hutan di sejumlah wilayah.

Otoritas kesehatan Prancis menyebut lonjakan kematian terjadi ketika gelombang panas mencapai puncaknya. Di Berlin, polisi bahkan memakai meriam air untuk membantu mendinginkan kerumunan warga yang terdampak suhu ekstrem.

Prancis mencatat lonjakan kematian saat suhu memuncak

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan peningkatan tajam angka kematian, terutama di rumah-rumah pribadi dan banyak terjadi di wilayah Paris. Pada Rabu (24/6/2026), jumlah kematian harian di Prancis mencapai lebih dari 1.200 kasus ketika suhu berada pada titik tertinggi.

Angka itu terus naik menjadi lebih dari 1.400 kematian per hari pada Kamis dan Jumat. Sebagai pembanding, sebelum gelombang panas melanda, rata-rata kematian harian di Prancis pada April hingga Mei berada di kisaran 900 hingga 1.000 orang.

Berdasarkan data sementara, otoritas kesehatan memperkirakan ada sedikitnya 1.000 kematian tambahan hanya dalam tiga hari tersebut. Jumlah ini masih berpotensi bertambah karena laporan baru, termasuk kematian yang terjadi di rumah, terus masuk.

Lonjakan paling besar tercatat di wilayah yang berstatus peringatan merah akibat suhu ekstrem. Saat puncak gelombang panas, sekitar tiga perempat wilayah Prancis berada dalam status tersebut.

Jerman pecahkan rekor suhu

Di Jerman, Dinas Cuaca Jerman atau DWD mencatat rekor baru suhu malam hari di Kubschütz, Saxony, yang mencapai 29,4 derajat celsius. Beberapa jam sebelumnya, suhu siang hari di Mockern-Drewitz, Saxony-Anhalt, menembus 41,5 derajat celsius.

Catatan suhu itu melampaui rekor yang baru terbentuk sehari sebelumnya. Kondisi panas ekstrem juga berdampak pada sejumlah wilayah dan ikut memicu kebakaran hutan.

Polisi di Berlin merespons situasi ini dengan menggunakan meriam air untuk mendinginkan warga yang berkumpul di ruang publik. Langkah itu menunjukkan betapa besar tekanan suhu ekstrem terhadap aktivitas harian masyarakat di kota-kota besar Eropa.

Perubahan iklim dinilai memperbesar risiko

Studi terbaru dari World Weather Attribution, kolaborasi ilmuwan yang berbasis di Eropa, menyimpulkan gelombang panas dan kelembapan ekstrem yang terjadi pekan ini tidak mungkin muncul tanpa pengaruh perubahan iklim. Temuan itu menegaskan bahwa cuaca ekstrem seperti ini kini jauh lebih berisiko dibandingkan masa lalu.

Penelitian yang dirilis Jumat (26/6/2026) itu menyebut fenomena serupa hampir mustahil terjadi 50 tahun lalu. Studi tersebut juga menyatakan kemungkinan kejadiannya kini sekitar 200 kali lebih besar dibandingkan 20 tahun lalu.

Peringatan kesehatan dan catatan suhu yang terus pecah menunjukkan gelombang panas ini belum sepenuhnya mereda. Dengan cuaca ekstrem yang bergerak menuju kawasan timur Eropa, otoritas di berbagai negara masih menghadapi tantangan besar untuk melindungi kelompok rentan, terutama lansia yang paling banyak menjadi korban di Prancis.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru