Latihan Terhenti Dua Setengah Tahun, Brigade Parasut IDF Uji Pendaratan Berat ke Zona Tempur Dengan Pesawat Angkut

Di tengah perang yang sudah berlangsung dua setengah tahun, Brigade Paratroopers IDF kembali menguji kemampuan yang selama ini belum dilatihkan: mendaratkan pasukan terjun payung beserta perlengkapan beratnya ke zona tempur menggunakan pesawat angkut. Latihan ini melibatkan Batalyon 202 dan menjadi salah satu penekanan terbaru IDF pada keterhubungan operasi antara Angkatan Udara dan pasukan darat.

Para prajurit dari Batalyon 202 menjalani drill yang membawa batalion berikut perlengkapannya ke zona tempur dengan pesawat angkut Karnaf dan Shimshon. Bagi IDF, latihan ini menandai upaya memperkuat kesiapan menghadapi skenario yang kompleks setelah periode panjang tanpa latihan serupa sejak awal perang.

Latihan yang memadukan pesawat, kendaraan, dan pasukan

Wakil komandan Batalyon 202, Mayor P., menjelaskan bahwa drill ini dipecah menjadi beberapa elemen. Dua pesawat tiba di sebuah fasilitas di Hatzerim, lalu kendaraan dimuat, dan pasukan berlatih masuk bersama kekuatan pendukungnya.

Ia menambahkan bahwa latihan juga mencakup proses bongkar muat di lapangan. Menurut dia, latihan seperti ini penting bagi pasukan infanteri agar siap menghadapi setiap skenario dan perkembangan di berbagai sektor.

Tantangan mengangkut kekuatan tempur penuh

Pilot Skuadron 131, Kapten D., menyebut operasi yang melibatkan pengangkutan tentara ke sektor tempur sudah beberapa kali terjadi selama dua setengah tahun terakhir, termasuk dalam perang yang sedang berlangsung. Namun, ia menekankan bahwa mendaratkan kekuatan besar bersama kendaraan dan perlengkapannya tetap merupakan prosedur yang rumit.

Kapten D. menjelaskan bahwa setiap kendaraan memiliki tingkat kesulitan sendiri saat dimuat ke pesawat. Semakin dekat ke tanah, menurut dia, prosesnya juga semakin kompleks.

Hubungan udara dan darat makin dipertegas

Latihan pekan ini juga mencerminkan perubahan di tubuh IDF yang menempatkan hubungan operasional antara Angkatan Udara dan pasukan darat sebagai prioritas. Kapten D. mengatakan hubungan dengan pasukan terjun payung sejak 7 Oktober sangat kuat, dan skuadronnya banyak dibantu dalam misi logistik, pengangkutan tentara dan kendaraan, serta tugas tambahan lainnya.

Ia juga menyebut hubungan personal dengan Mayor P. yang sudah terjalin sejak Bahad 1. Baginya, keterlibatan skuadron dalam mendukung manuver darat terasa penting secara profesional dan emosional.

Mayor P. menambahkan bahwa banyak hal terkait kesiapan sempat terabaikan karena kebutuhan operasional. Ia mengatakan adanya ketenangan operasional memberi ruang untuk kembali berinvestasi pada hal-hal tambahan dan memperbaiki kerja sama dengan pesawat.

Pengalaman tempur dan pelajaran yang masih membekas

Selama 7 Oktober dan sepanjang perang, Angkatan Udara telah melakukan banyak pergerakan pasukan ke zona tempur dengan pesawat Shimshon dan Karnaf. Dalam salah satu kejadian dekat Kibbutz Alumim, sebuah helikopter Yasur yang baru menurunkan tentara dari Batalyon 890 ke wilayah pertempuran di Kibbutz Be’eri terkena rudal anti-tank.

Helikopter itu terbakar setelah dihantam, tetapi tidak ada tentara atau awak yang terluka selain pilot yang mengalami luka ringan di tangan. Pengalaman semacam ini memperlihatkan bahwa pergerakan pasukan dan perlengkapan di medan tempur tetap membawa risiko tinggi, sekaligus menjelaskan mengapa latihan gabungan seperti ini kembali diprioritaskan.

Terkait