Trump Klaim AS Sudah Menang Secara Militer, Ketegangan dengan Iran Masih Membara

Author: Qoo Media

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan posisinya dalam ketegangan dengan Iran. Ia menyebut AS sudah “menang secara militer” meski belum bisa memastikan apakah situasi itu akan berkembang menjadi konflik berskala penuh.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan AS memiliki banyak cara untuk menang jika eskalasi benar-benar terjadi. Pernyataan ini muncul di tengah rangkaian serangan dan balasan yang membuat hubungan kedua negara kembali memanas.

Serangan AS dan balasan Iran

Pada Rabu dini hari, pasukan AS melancarkan serangkaian serangan dahsyat terhadap Iran. Keesokan harinya, Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan pasukan AS telah menyerang sekitar 90 sasaran di Iran.

Iran kemudian mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer milik AS di Bahrain dan Kuwait. Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga menyatakan bahwa mereka membalas serangan AS dengan menyerang dua pangkalan AS di Kuwait dan dua pangkalan di Bahrain.

Pihak Langkah yang Diklaim Lokasi
AS Menyerang sekitar 90 sasaran di Iran Iran
Iran Serangan balasan ke pangkalan militer AS Bahrain dan Kuwait

Pernyataan Trump soal peluang perang

Ketika ditanya seberapa besar kemungkinan ketegangan itu berubah menjadi konflik militer skala penuh, Trump menjawab, “Saya tidak tahu. Kami menang dengan sangat cepat. Ini cara lain untuk melakukannya. Kami punya banyak cara untuk menang, tetapi kami sudah menang secara militer.”

Ucapan itu memperlihatkan keyakinan Trump bahwa tekanan militer AS telah memberi hasil, walau ia tidak menutup kemungkinan adanya eskalasi lanjutan. Di saat yang sama, pernyataan itu juga menandai bahwa jalur konflik belum sepenuhnya tertutup.

Respons Tehran terhadap ancaman lanjutan

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menanggapi ancaman Trump dengan nada keras. Dalam unggahan di X pada Rabu 8 Juli 2026, ia menilai Trump tampaknya lebih memahami “bahasa kekerasan”.

Gharibabadi menulis bahwa pernyataan Trump yang menghina bangsa Iran dan mengancam serangan lanjutan bukanlah “tanda kekuatan, tetapi pengakuan atas kegagalan kebijakan yang selama bertahun-tahun dibangun di atas kekerasan, sanksi, dan ancaman”. Ia juga menegaskan bahwa kebijakan Trump gagal membuat bangsa Iran bertekuk lutut.

Ia menambahkan, “Dengan Trump yang kriminal dan kejam, kita harus berbicara dalam bahasanya sendiri. Tampaknya, ia lebih memahami bahasa kekerasan,” kata Gharibabadi. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Iran belum menunjukkan tanda akan meredakan retorika setelah serangkaian serangan tersebut.

Ketegangan antara kedua negara kini bergantung pada langkah berikutnya dari masing-masing pihak. Di satu sisi, AS mengklaim sudah berada dalam posisi menang secara militer, sementara di sisi lain Iran menegaskan belum tunduk dan telah membalas serangan yang datang ke wilayahnya.

Source: www.viva.co.id
Terbaru