Iran menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang lebih dulu melanggar komitmen dalam Nota Kesepahaman yang baru ditandatangani kedua negara bulan lalu. Tuduhan itu membuat kesepahaman yang sempat dibangun lewat jalur diplomasi kini disebut sudah masuk tahap krisis.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyampaikan posisi itu dalam konferensi pers mingguan pada Senin (13/7), ketika ia menyoroti apa yang disebutnya sebagai agresi baru Amerika Serikat terhadap Iran. Menurut Baqaei, tindakan tersebut tidak hanya melanggar kesepakatan terbaru, tetapi juga bertentangan dengan hukum internasional.
MoU yang Dibayangi Pelanggaran Dini
Baqaei menegaskan Iran tidak pernah menjadi pihak pertama yang melanggar kewajiban. Ia mengatakan Republik Islam Iran selalu mengikuti setiap perundingan dengan serius dan tetap mengutamakan kepentingan rakyat Iran.
Karena itu, Teheran disebut bertindak dengan itikad baik saat menandatangani memorandum di Islamabad. Dalam penjelasannya, Baqaei menuding Washington tidak sabar melanggar perjanjian dan bahkan tidak menunggu masa satu bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 MoU terkait kewajiban Iran di Selat Hormuz.
Menurut dia, pelanggaran justru sudah muncul sejak hari-hari pertama setelah kesepahaman diteken. Merujuk pada memorandum yang memuat 14 poin, Iran disebut akan tetap mematuhi isi kesepakatan selama pihak lain juga menjalankan kewajibannya.
| Pokok Kesepahaman | Keterangan | Pernyataan Iran |
|---|---|---|
| Lokasi penandatanganan | Islamabad | Ditandatangani dengan itikad baik |
| Jumlah poin | 14 poin | Iran akan patuh jika pihak lain patuh |
| Ketentuan waktu | Pasal 5, masa satu bulan | AS disebut tidak menunggu tenggat itu |
Sengketa Selat Hormuz Makin Menajam
Dalam penjelasan yang dikutip mediaindonesia.com, Baqaei juga membantah klaim Presiden AS Donald Trump soal isi pembicaraan terbaru antara Iran dan Oman. Ia menegaskan tidak ada topik lain selain Selat Hormuz yang dibahas dalam perundingan di Muscat, sesuai kerangka Paragraf 5 MoU.
Baqaei menyebut kebohongan telah menjadi bagian dari pola perilaku pemerintah Amerika Serikat. Ia bahkan mengatakan Washington telah “kecanduan” terhadap kebohongan, menanggapi klaim Trump bahwa delegasi Iran di Muscat menyetujui semua hal, termasuk isu nuklir dan Selat Hormuz, tetapi kemudian menyerang kapal-kapal dua jam setelahnya.
Iran sendiri menyatakan tujuan pembahasan dengan Oman adalah membangun mekanisme bersama untuk menjamin pelayaran yang aman di Selat Hormuz. Namun, upaya itu disebut tidak tercapai karena tekanan terang-terangan maupun terselubung dari Amerika Serikat terhadap Oman.
Ketegangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya kesepahaman yang baru dibangun di tengah pertarungan narasi antara Teheran dan Washington. Selama kedua pihak saling menuding pelanggaran dan kebohongan, masa depan MoU tersebut tampak semakin sulit dipertahankan.
