Peluncuran uji coba rudal balistik jarak jauh China ke Samudera Pasifik memicu gelombang kekhawatiran baru di kawasan. Australia, Selandia Baru, Jepang, dan sejumlah negara lain menilai langkah itu sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas dan bersifat provokatif.
Yang membuatnya lebih sensitif, uji tembak tersebut dilakukan dari kapal selam bertenaga nuklir dengan hulu ledak tiruan dan jatuh di wilayah Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan. Beijing menyebutnya sebagai latihan rutin, tetapi waktu peluncuran dan lokasinya memberi sinyal geopolitik yang sulit diabaikan.
Pesan Strategis di Tengah Ketegangan Regional
Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok menyatakan peluncuran itu merupakan bagian dari siklus pelatihan militer tahunan. Mereka juga menegaskan bahwa uji tersebut mengikuti hukum internasional dan tidak ditujukan kepada negara tertentu.
Namun, konteksnya membuat pesan itu berbeda. Peluncuran dilakukan berbarengan dengan latihan angkatan laut gabungan China dan Rusia di lepas pantai Qingdao, yang memperkuat kesan bahwa Beijing ingin menunjukkan kekuatan militer sekaligus koordinasi dengan Moskow.
| Fakta Utama | Rincian |
|---|---|
| Jenis uji coba | Rudal balistik jarak jauh dengan hulu ledak tiruan |
| Platform peluncuran | Kapal selam bertenaga nuklir |
| Lokasi jatuh | Samudera Pasifik, di Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan |
| Waktu terkait | Bersamaan dengan latihan gabungan China-Rusia di lepas pantai Qingdao |
Sejumlah analis menduga rudal itu merupakan JL-3, jenis yang disebut mampu menjangkau daratan Amerika Serikat. Jika benar, uji coba tersebut memperlihatkan kemajuan penting dalam penangkal nuklir China yang diluncurkan dari kapal selam.
Waktu peluncuran juga menarik perhatian karena terjadi pada hari yang sama ketika Australia dan Fiji menandatangani pakta pertahanan. Kesepakatan itu bertujuan merespons pengaruh China di Pasifik, sehingga uji rudal tersebut langsung terbaca sebagai unjuk jangkauan militer Beijing kepada negara-negara tetangganya.
Mengapa Reaksi Regional Begitu Keras
Zona tempat rudal itu mendarat bukan wilayah biasa. Kawasan itu berada di bawah Perjanjian Rarotonga 1986, dan China meratifikasi protokolnya pada 1987 dengan janji tidak menguji senjata nuklir di sana.
Karena itu, meski hulu ledaknya tiruan, peluncuran tersebut tetap dianggap melanggar norma dan simbol yang seharusnya dijaga. Bagi banyak pemerintah di Pasifik, persoalannya bukan hanya soal teknis militer, melainkan soal kepercayaan dan penghormatan terhadap komitmen yang sudah disepakati.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut langkah itu “meng destabilisasi” dan memperingatkan risiko salah perhitungan di kawasan yang ingin tetap menjadi “samudra perdamaian.” Selandia Baru juga menyebut peluncuran tersebut “tidak diinginkan dan mengkhawatirkan,” apalagi pemberitahuan baru diterima beberapa jam sebelumnya.
Jepang meminta China mempertimbangkan kembali langkah tersebut dan menyampaikan “keprihatinan serius.” Papua Nugini telah diberi pengarahan sebelumnya, tetapi tetap waspada terhadap semakin luasnya jejak militer China di Pasifik.
Bayangan Ekspansi Nuklir China
Uji coba ini juga kembali menyorot modernisasi kekuatan nuklir China. Pentagon memperkirakan Beijing memiliki lebih dari 500 hulu ledak nuklir operasional pada 2023, dan jumlah itu diproyeksikan melampaui 1.000 pada 2030.
Catatan itu membuat setiap peluncuran dari kapal selam menjadi sangat penting bagi perencana pertahanan Amerika Serikat dan sekutunya. Jangkauan rudal yang diduga JL-3 memperkuat kekhawatiran bahwa kemampuan penangkal nuklir China terus berkembang ke arah yang lebih sulit diprediksi.
China terakhir kali melakukan uji coba serupa pada September 2024, yang disebut sebagai peluncuran pertama di perairan internasional dalam beberapa dekade. Sejak itu, tiap langkah serupa semakin dibaca sebagai sinyal bahwa Beijing bersedia menunjukkan kemampuan nuklirnya di luar perbatasan sendiri.
Dengan demikian, uji rudal ini bukan sekadar latihan teknis yang diklaim rutin oleh Beijing. Bagi kawasan Pasifik, peluncuran itu menjadi pengingat bahwa persaingan pengaruh, modernisasi militer, dan risiko eskalasi kini bergerak beriringan.
Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan apakah negara-negara regional akan membalas dengan penahanan diri atau justru memperkuat langkah pertahanan mereka masing-masing.
Source: www.viva.co.id






