Rupiah menutup perdagangan Selasa sore dengan penguatan tipis terhadap dolar AS. Sentimen utamanya datang dari respons positif pasar setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dan memprediksi pertumbuhan ekonomi tetap di level 5% per tahun hingga tiga tahun ke depan.
Nilai tukar rupiah naik 18 poin atau 0,10% menjadi 18.091 per dolar AS dari sebelumnya 18.109 per dolar AS. Di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia juga menguat ke 18.099 per dolar AS dari 18.131 per dolar AS.
Dukungan dari S&P Global
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah terjadi seiring respons positif terhadap proyeksi tersebut. Ia menyebut S&P tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek stabil.
S&P menilai peringkat itu ditopang prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Lembaga pemeringkat tersebut juga menilai pengaturan kebijakan ekonomi makro Indonesia cukup bijak, sementara beban utang eksternal dan utang pemerintah masih relatif lebih ringan dibandingkan negara lain di kelompok BBB.
Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didorong belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi. S&P melihat kebijakan pemerintah dalam hilirisasi dan penguatan kontrol atas sumber daya mineral berpotensi meningkatkan penerimaan serta penghasilan ekspor.
| Indikator | Posisi Terbaru | Sebelumnya |
|---|---|---|
| Rupiah per dolar AS | 18.091 | 18.109 |
| JISDOR BI | 18.099 | 18.131 |
Proyeksi pertumbuhan masih dijaga
Meski ekonomi Indonesia sempat tumbuh 5,6% pada kuartal I 2026, pasar keuangan mengalami gejolak pada semester I 2026. Saham tercatat tertekan dengan kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar, sementara rupiah turun sekitar 7% terhadap dolar AS pada periode yang sama.
Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% seiring peluang moderasi pertumbuhan pada kuartal-kuartal berikutnya. Ibrahim menyebut faktor itu dipengaruhi ketidakpastian eksternal yang masih berlanjut dan tingginya suku bunga dalam negeri.
Tekanan dari sentimen global
Dari luar negeri, pasar juga mencermati langkah Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Militer AS menyebut blokade itu mulai berlaku pada Selasa, 14 Juli 2026, dengan target lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran.
Investor khawatir eskalasi militer lanjutan bisa mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Kekhawatiran itu bertambah setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah.
Sentimen berikutnya datang dari pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller. Ia mengatakan jika Indeks Harga Konsumen naik pekan ini, maka kenaikan suku bunga harus dipertimbangkan dalam waktu dekat.
Waller juga menegaskan inflasi inti yang tinggi akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga segera. Namun ia masih melihat peluang inflasi mencapai target 2% tanpa kenaikan suku bunga, sambil menilai pasar tenaga kerja lebih dekat ke target lapangan kerja maksimum The Fed.
Pergerakan rupiah pada penutupan perdagangan kali ini menunjukkan pasar masih menimbang dua arah sentimen sekaligus. Di satu sisi ada dukungan dari keyakinan atas prospek ekonomi Indonesia, tetapi di sisi lain tekanan global tetap membuat investor berhati-hati.
Source: www.liputan6.com






