Mengapa Persia Berganti Nama Jadi Iran, Ini Sejarah Panjang di Baliknya

Nama Persia dan Iran sering dipakai seolah-olah merujuk pada hal yang berbeda, padahal keduanya menunjuk pada wilayah dan peradaban yang sama. Perbedaan itu terutama lahir dari sudut pandang luar dan identitas yang dipakai masyarakat setempat selama ribuan tahun.

Perubahan nama resmi menjadi Iran pada abad ke-20 bukan sekadar urusan istilah. Keputusan itu berkaitan dengan sejarah panjang peradaban, kebijakan politik, dan upaya menegaskan identitas nasional yang lebih sesuai dengan sebutan penduduk asli.

Dari Parsa ke Persia

Nama Persia berasal dari sebutan bangsa luar, terutama Yunani kuno, yang memakai istilah Parsa atau Pars untuk wilayah di bagian selatan dataran tinggi Iran. Istilah itu lalu meluas untuk menyebut seluruh kekaisaran yang dipimpin Cyrus the Great.

Seiring waktu, Persia diadopsi oleh berbagai negara Eropa dan bertahan dalam peta, dokumen diplomatik, serta literatur Barat selama berabad-abad. Dalam tradisi itu, Persia menjadi exonym, yaitu nama dari pihak luar untuk suatu wilayah.

Sementara itu, Iran adalah nama yang berasal dari masyarakat setempat. Kata ini berakar pada bahasa Avestan airyānąm yang terkait dengan istilah Arya, dan sejak lama digunakan dalam teks Zoroastrianisme maupun sastra Persia kuno.

Warisan Kerajaan Kuno yang Masih Terasa

Sejarah wilayah yang kini disebut Iran sudah sangat panjang, bahkan jejak permukiman kuno ditemukan sejak sekitar 7.200 SM di situs Chogha Bonut. Dataran tinggi Iran sendiri telah dihuni manusia sejak era Paleolitikum sekitar 100.000 tahun lalu.

Peradaban Persia mulai menonjol ketika Cyrus II menyatukan berbagai suku semi-nomaden dan mengalahkan bangsa Medes pada 550 SM. Kemenangan itu melahirkan Kekaisaran Achaemenid, salah satu kerajaan terbesar di dunia kuno.

Pada masa jayanya, wilayah Achaemenid membentang dari Lembah Sungai Nil di Mesir hingga Lembah Indus di India. Cyrus dikenal menerapkan pemerintahan yang relatif toleran, termasuk lewat Cyrus Cylinder pada 539 SM yang memberi kebebasan agama, bahasa, dan tradisi kepada bangsa-bangsa taklukkan.

Salah satu kebijakan yang paling terkenal adalah pembebasan bangsa Yahudi dari pembuangan di Babilonia. Pada masa Darius the Great antara 522 hingga 486 SM, administrasi kerajaan berkembang makin maju dengan sistem mata uang standar, ukuran seragam, Royal Road, dan sistem pos yang mempercepat komunikasi antardaerah.

Teknologi irigasi bawah tanah atau qanat juga dikembangkan untuk mendukung pertanian di wilayah kering. Dalam seni dan budaya, Persia meninggalkan jejak besar melalui artefak seperti Oxus Treasure dan kompleks Persepolis yang kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Identitas Persia Bertahan Setelah Penaklukan

Setelah Kekaisaran Achaemenid ditaklukkan Alexander Agung pada 330 SM, identitas Persia tidak hilang. Dinasti Parthia dan Sassanian meneruskan warisan politik dan budaya yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dinasti Parthia berkuasa antara 247 SM hingga 224 M dan dikenal lewat taktik Parthian shot, yaitu memanah ke belakang saat berkuda menjauh dari musuh. Strategi ini berhasil digunakan melawan pasukan Romawi dalam Pertempuran Carrhae pada 53 SM.

Kekuasaan kemudian berpindah ke Dinasti Sassanian yang memerintah dari 224 hingga 651 M. Banyak sejarawan menilai periode ini sebagai masa keemasan terakhir Persia kuno karena munculnya inovasi seperti yakhchal, sistem irigasi yang lebih maju, dan Academy of Gondishapur yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kedokteran berpengaruh.

Pada masa itu, Zoroastrianisme menjadi agama utama negara sebelum wilayah tersebut ditaklukkan pasukan muslim Arab pada abad ke-7. Meski terjadi perubahan besar, bahasa, sastra, seni, dan tradisi Persia tetap bertahan dalam kehidupan masyarakat.

Kenapa Nama Iran Dipilih Secara Resmi

Perubahan resmi dari Persia menjadi Iran terjadi pada masa Reza Shah Pahlavi. Pada 4 Desember 1934, Pemerintah Iran melalui Kementerian Luar Negeri mengirim pemberitahuan kepada berbagai negara agar memakai nama Iran dalam komunikasi diplomatik.

Permintaan itu mulai berlaku secara internasional pada Maret 1935, bertepatan dengan perayaan Nowruz atau Tahun Baru Persia. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari program modernisasi besar yang dijalankan Reza Shah sejak naik takhta pada 1925.

Langkah itu dimaksudkan agar nama negara di dunia internasional sesuai dengan identitas yang selama ini digunakan masyarakat setempat. Pemerintah juga ingin menegaskan kedaulatan nasional dan mengurangi ketergantungan pada istilah yang berasal dari dunia Barat.

Sejumlah intelektual saat itu menilai Persia terlalu sempit karena hanya merujuk pada satu wilayah atau kelompok etnis tertentu. Iran dianggap lebih mewakili keberagaman etnis dan budaya di dalam negara tersebut.

IstilahAsalMakna PenggunaanStatus
PersiaBangsa luar, terutama Yunani kunoNama untuk wilayah dan kekaisaran yang merujuk ke Parsa/ParsExonym
IranMasyarakat setempatNama yang dipakai penduduk asli untuk tanah air merekaEndonym

Respons Dunia dan Posisi Persia Hari Ini

Keputusan mengganti nama sempat membingungkan sebagian negara Barat. Di Inggris, misalnya, ada kekhawatiran karena Iran dianggap terlalu mirip dengan Irak sehingga bisa memicu kesalahan dalam komunikasi diplomatik.

Sejumlah perusahaan, lembaga keuangan, dan institusi yang telah lama memakai nama Persia juga perlu menyesuaikan identitas mereka. Meski begitu, sebagian besar negara akhirnya mengikuti permintaan Pemerintah Iran dalam dokumen resmi.

Pada 1959, Pemerintah Iran kemudian menyatakan istilah Persia dan Iran dapat digunakan bergantian dalam konteks internasional. Hingga kini, Iran tetap menjadi nama resmi negara tersebut, sementara Persia lebih sering dipakai untuk menyebut warisan sejarah, budaya, seni, sastra, dan peradaban kuno.

Dalam penggunaan modern, kedua istilah itu memiliki fungsi berbeda tetapi tidak terpisahkan. Persia merujuk pada fondasi sejarah, sedangkan Iran menjadi nama negara modern yang mewarisi perjalanan panjang peradaban itu.

Source: www.beritasatu.com
Terkait