Saudi Pertimbangkan Serangan ke Houthi, Fasilitas Minyak Riyadh Terancam

Author: Qoo Media

Arab Saudi dikabarkan sedang mempertimbangkan langkah militer ofensif terhadap Houthi di Yaman. Wacana itu muncul ketika kelompok tersebut mengancam akan menjadikan fasilitas minyak dan instalasi vital Riyadh sebagai sasaran rudal serta drone.

Ancaman itu meningkatkan risiko bagi keamanan Saudi di tengah rapuhnya gencatan senjata dengan Houthi yang telah berjalan selama empat tahun. Ketegangan baru juga dikhawatirkan memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman serta mengganggu jalur energi regional.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Timur Tengah mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman memberi isyarat AS telah memberikan lampu hijau bagi operasi ofensif terhadap Houthi. Namun, para pemimpin Saudi disebut belum mengambil keputusan akhir terkait rencana tersebut.

Menurut seorang pejabat AS dan seorang pejabat dari negara Barat, pembicaraan mengenai serangan itu memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di lingkungan kerajaan Saudi. Perbedaan tersebut menandakan pilihan antara membuka kembali perang atau mempertahankan jalur diplomasi masih diperdebatkan.

Rangkaian ketegangan Saudi dan Houthi

Peristiwa Pihak terkait Rincian
Serangan di Abha Houthi Rudal dan drone diluncurkan ke kota di barat daya Saudi.
Serangan bandara Sanaa Pemerintah Yaman Landasan pacu dibom untuk mencegah pesawat Iran mendarat.
Ancaman fasilitas vital Abdul Malik al-Houthi Fasilitas minyak, bandara, dan pelabuhan Saudi disebut dapat menjadi sasaran.

Pekan ini, Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke Kota Abha. Saudi kemudian menyatakan seluruh serangan tersebut berhasil dicegat.

Houthi menyebut serangan ke Abha sebagai balasan atas pengeboman landasan pacu Bandara Sanaa pada 13 Juli. Kelompok itu menuduh Saudi melakukan serangan untuk mencegah sebuah pesawat dari Iran membawa pejabat Houthi mendarat di ibu kota Yaman tersebut.

Pesawat itu disebut membawa pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah resmi Yaman yang didukung Saudi mengaku bertanggung jawab atas serangan bandara dan menyatakan penerbangan tersebut melanggar kedaulatan Yaman.

Penerbangan menuju Sanaa umumnya hanya datang dari Amman, Yordania, dan Kairo, Mesir. Perselisihan terkait penerbangan itu kini menjadi salah satu pemicu baru di tengah hubungan Saudi dan Houthi yang kembali memanas.

Menurut laporan CNN Indonesia, eskalasi ini berlangsung saat perang antara AS dan Iran meningkat. Situasi tersebut membuat ancaman terhadap infrastruktur energi Saudi mendapat perhatian lebih besar karena Laut Merah menjadi jalur penting ekspor minyak negara itu.

Sejak Iran berupaya menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, sekitar 4,5 juta barel minyak Saudi per hari dikirim melalui Pipa Timur-Barat. Jalur itu mengarah ke Laut Merah dan menjadi penting bagi pergerakan ekspor minyak Arab Saudi.

Mohammed Al Basha, pakar Yaman yang berbasis di AS, menilai konflik ini tidak memiliki jalan keluar mudah. Ia mengatakan kepada Middle East Eye, “Kesepakatan damai [dengan Houthi] akan berarti miliaran dolar dalam bentuk ganti rugi, sementara kembalinya perang memiliki peluang 50-50 bagi kemenangan Arab Saudi.”

Houthi sebelumnya melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah setelah Israel menyerang Gaza pada Oktober 2023. Serangan itu disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, sementara kelompok tersebut juga dipercaya bertanggung jawab atas beberapa serangan darat di Saudi.

Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi pada Kamis (16/7) menyampaikan ancaman langsung dalam pidato yang disiarkan televisi. “Semua fasilitas minyak Saudi dan instalasi vital akan menjadi sasaran rudal dan drone kami jika Riyadh terlibat (dalam menyerang Yaman lagi),” katanya.

Ia juga menyatakan, “Bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, dan blokade untuk blokade.” Pernyataan itu menegaskan bahwa setiap langkah militer baru terhadap Houthi berpotensi diikuti serangan balasan ke titik-titik penting Saudi.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru