Seorang peserta open trip asal Madiun bernama Femas diduga menghilang saat perjalanan wisata di Korea Selatan. Kasus ini menjadi perhatian karena pihak travel menyebut kejadian tersebut dapat memunculkan konsekuensi besar bagi penyelenggara dan peserta lain.
Menurut unggahan akun Threads @sarjanabackpacker, Femas terakhir kali meminta izin untuk melihat-lihat sepatu di Myeongdong. Setelah itu, ia disebut tidak kembali ke hotel dan tidak merespons telepon dari rombongan.
Pihak travel mengaku telah melakukan pencarian selama beberapa hari setelah Femas tidak dapat dihubungi. Upaya itu disebut mencakup penyisiran lokasi terakhir di Myeongdong hingga pelaporan kepada pihak berwenang di Korea Selatan.
| Tahap | Keterangan | Informasi dari Pihak Travel |
|---|---|---|
| Izin keluar | Femas meminta izin melihat sepatu di Myeongdong | Terjadi pada malam hari |
| Kontak terputus | Femas tidak kembali ke hotel | Telepon disebut tidak dijawab |
| Pencarian | Lokasi terakhir disisir dan pihak berwenang dihubungi | Belum membuahkan hasil |
Unggahan tersebut pertama kali ramai di Threads pada Kamis, 16 Juli 2026. www.viva.co.id melaporkan bahwa kabar itu kembali dikutip pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Penyelenggara perjalanan menilai persoalan ini tidak berhenti pada hilangnya satu peserta dari rombongan. Mereka menyebut harus memberikan penjelasan kepada vendor, mempertanggungjawabkan situasi kepada pihak di Korea, serta menghadapi risiko denda.
Dalam unggahannya, pemilik akun menekankan bahwa peserta lain yang tidak mengetahui persoalan tersebut juga berpotensi terkena dampaknya. Pihak travel menyatakan keputusan satu orang dapat mengganggu usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pencarian Berlanjut ke Kediaman Keluarga
Pihak travel juga mengaku mendatangi rumah keluarga Femas di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Madiun. Kunjungan itu dilakukan untuk mencari jalan keluar dan memperoleh informasi mengenai keberadaan peserta tersebut.
Menurut pemilik akun, orang tua Femas pada awalnya menyatakan tidak mengetahui persoalan yang sedang terjadi. Namun, pihak travel menilai keterangan yang disampaikan berubah sepanjang percakapan berlangsung.
Mereka juga menyoroti percakapan WhatsApp antara Femas dan ibunya yang disebut sudah tidak ada di ponsel. Saat ditanya mengenai penghapusan percakapan itu, sang ibu disebut menjawab bahwa tindakan tersebut dilakukan karena emosi.
Pihak travel mempertanyakan penghapusan pesan tersebut karena percakapan dengan anak yang diduga hilang dapat menjadi petunjuk dalam pencarian. Mereka juga menyebut melihat aplikasi Papago, aplikasi penerjemah yang umum digunakan untuk bahasa Korea, di ponsel sang ibu.
Permintaan untuk Bertanggung Jawab
Pemilik akun @sarjanabackpacker mengatakan publikasi dilakukan bukan untuk mempermalukan atau menghakimi Femas. Mereka meminta siapa pun yang mengenalnya agar menyampaikan pesan agar ia pulang ke Indonesia dan menghadapi persoalan tersebut.
“Pulanglah ke Indonesia. Hadapi masalah ini dengan baik, jangan biarkan begitu banyak orang menanggung akibat dari keputusanmu,” tulis pemilik akun tersebut. Hingga informasi itu dibagikan, pihak travel menyatakan pencarian dan upaya menghubungi Femas belum memperoleh hasil.
