Selat Hormuz Ditutup Iran, Serangan AS Kini Menghantam Listrik hingga Air Bersih

Author: Qoo Media

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini mengancam layanan paling mendasar di kawasan Teluk, dari pasokan listrik hingga air bersih. Serangan bolak-balik pada Sabtu (18/7) menargetkan infrastruktur dan sasaran militer ketika perebutan kendali Selat Hormuz makin intens.

Iran telah secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran sejak perang dimulai pada 28 Februari. Penutupan jalur vital itu menekan perdagangan energi dunia sekaligus memberi Teheran posisi tawar besar dalam negosiasi.

Fasilitas air dan listrik ikut terdampak

Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS menghantam pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi di Hormozgan, Iran selatan. Salah satu lokasi yang disebut berada di Bonji, desa pesisir Iran yang terletak di Selat Hormuz.

Serangan terhadap fasilitas desalinasi juga terjadi di Kuwait, menurut otoritas negara tersebut. Kuwait menyatakan telah mencegat rudal dan drone Iran, namun sebuah pabrik desalinasi air dilaporkan terkena serangan hingga memicu kebakaran.

Ini menjadi kali kedua dalam dua hari Iran menargetkan infrastruktur desalinasi Kuwait. Negara gurun kecil itu bergantung pada desalinasi untuk sekitar 90 persen kebutuhan air minumnya.

Wilayah Sasaran atau kejadian Dampak yang dilaporkan
Hormozgan, Iran Pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi Dihantam serangan udara AS
Kuwait Pabrik desalinasi air Kebakaran setelah terkena serangan
Irbil, Irak Drone di atas kota Ditembak jatuh
Yordania dan Bahrain Rudal Iran dan ancaman udara Rudal dicegat, sirene berbunyi di Bahrain

Di Irak, pemerintah menyatakan sebuah drone telah ditembak jatuh di atas Irbil. Kantor berita negara Yordania, Petra, juga melaporkan sistem pertahanan udara kerajaan menjatuhkan rudal Iran, sementara Bahrain beberapa kali membunyikan sirene udara.

Komando Pusat AS menyebut serangan malam ketujuh berturut-turut mereka menghantam situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran. Serangan tersebut memperlihatkan perluasan sasaran dari fasilitas militer menuju jaringan pendukung operasi dan layanan sipil.

Menurut laporan www.cnnindonesia.com, media pemerintah Iran sehari sebelumnya juga menyebut AS menyerang jalan raya serta jembatan kereta api. Serangan itu dinilai tampak bertujuan memutus akses Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran, dari wilayah tengah negara itu hingga Teheran.

Kementerian Energi Iran untuk pertama kalinya mengakui adanya serangan terhadap infrastruktur listrik selama kampanye udara AS. Kementerian meminta warga di provinsi selatan mengurangi penggunaan listrik karena wilayah tersebut mengalami panas ekstrem, tanpa merinci fasilitas yang terkena.

Otoritas Iran menyatakan sedikitnya 46 orang tewas dan lebih dari 400 orang terluka akibat serangan AS terbaru. Delapan di antaranya dilaporkan meninggal dalam serangan terhadap sebuah jembatan pada Jumat.

Di pihak AS, pejabat militer mengakui 13 personel tambahan terluka sejak Senin, terdiri dari 10 tentara Angkatan Darat dan tiga personel Angkatan Laut. Sejak perang dimulai, 14 anggota militer AS dilaporkan tewas dan 427 lainnya terluka.

Tekanan energi dari jalur laut

Selat Hormuz selama masa damai pernah dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia. Iran menegaskan selat itu harus berada di bawah kendali penuhnya dan kapal-kapal yang melintas harus membayar biaya kepada Teheran.

Pelacak pelayaran MarineTraffic.com mencatat hanya delapan kapal melintasi selat itu pada Kamis, angka terendah dalam tiga minggu. Berkurangnya pelayaran ikut mendorong harga minyak pada Jumat melampaui US$86 per barel, mendekati titik tertinggi dalam sebulan.

Pengiriman energi melalui pipa di kawasan memang meningkat, tetapi volumenya belum mampu menutup kekurangan akibat turunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz. AS juga memberlakukan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan Iran untuk menghentikan pengiriman minyak mentah.

Presiden Donald Trump dalam pidato kepada publik AS pada Kamis malam menyatakan perang berjalan baik bagi negaranya. “Kita juga menang besar di Iran, dan Anda akan melihat hasil dari kerja keras itu dalam waktu yang sangat, sangat singkat,” katanya.

Namun, konflik yang telah berlangsung lebih dari empat bulan itu belum menunjukkan penyelesaian setelah gencatan senjata sementara runtuh. Tekanan terhadap infrastruktur energi, transportasi, dan desalinasi membuat dampak konflik meluas jauh melampaui sasaran militer.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru