Wang Jibing menghabiskan hari-harinya mengejar batas waktu pengantaran makanan di China. Namun, pengalaman di jalanan itu justru membawanya meraih Penghargaan Sastra Lu Xun, salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di negara tersebut.
Kurir makanan berusia 56 tahun itu menang lewat kumpulan puisi Di Chu Fei Xing atau Terbang Rendah. Penghargaan edisi kesembilan itu diumumkan pada Rabu, 15/7/2026.
Wang menulis di sela pekerjaannya, ketika menunggu pesanan disiapkan, mengantre lift, hingga berdiri di depan pintu pelanggan. Puisi-puisinya merekam kerasnya hidup serta kegelisahan pekerja yang setiap hari berpacu dengan perintah aplikasi.
Menulis dari Ritme Kota yang Terburu-buru
Setelah menerima penghargaan, Wang mengatakan keinginannya tetap sederhana, yakni kembali menaiki skuter untuk mengantar pesanan. Kepada media, seperti dikutip Xinhua, ia berkata, “Hanya dengan tetap berpijak pada kehidupan nyata, pikiran saya bisa benar-benar jernih untuk menulis.”
Pilihan Wang untuk tetap bekerja bukan tanpa alasan. Ia menilai seluruh inspirasinya justru berasal dari pekerjaan sebagai pengantar makanan.
Menurut laporan www.liputan6.com, Wang lahir pada 1969 di Provinsi Jiangsu, China timur, dan berhenti sekolah saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Sebelum menjadi kurir, ia pernah bekerja sebagai buruh bangunan, pengeruk pasir, pedagang kaki lima, hingga pengumpul barang bekas.
Minatnya pada bacaan tetap tumbuh di tengah berbagai pekerjaan tersebut. Wang kerap menghabiskan waktu di lapak buku bekas dan membaca koran yang telah dibuang.
Bersama istrinya, ia kemudian menetap di Kunshan, Jiangsu, serta membuka toko kecil. Pasangan itu menabung selama bertahun-tahun sebelum mencicil apartemen yang ingin mereka pertahankan.
Pada 2019, Wang mendengar pekerjaan kurir makanan dapat memberi penghasilan cukup baik. Saat memulainya pada usia 50 tahun, ia menjadi kurir tertua di tempatnya bekerja.
Tekanan Algoritma Menjadi Bahan Puisi
Setiap hari, Wang menyusuri kota dengan sepeda listrik sambil mengejar hitung mundur pada aplikasi pengantaran. Sistem itu menjadi tekanan yang kemudian mengilhami puisi terkenalnya, Man in a Hurry atau Lelaki yang Terburu-buru.
Puisi tersebut menjadi perhatian luas pada 2022 setelah diunggah ke internet oleh seorang pencinta puisi. Karya Wang lalu dipandang sebagai gambaran kehidupan pekerja yang bergerak di bawah ritme algoritma.
| Kelompok pekerja | Gambaran aktivitas | Tekanan yang dihadapi |
|---|---|---|
| Kurir makanan | Mengantar pesanan dengan sepeda listrik | Mengejar batas waktu aplikasi |
| Pengemudi transportasi daring | Menempuh perjalanan di kota | Menembus kemacetan berkepanjangan |
| Host siaran langsung | Bekerja di depan layar | Menjalani jam kerja hingga larut malam |
Tekanan itu tidak hadir sebagai keluhan dalam puisi Wang. Ulasan sebuah media sastra China menyebut pengalaman berlomba melawan waktu justru melahirkan kelembutan yang tenang dalam karyanya.
Dalam Terbang Rendah, Wang menulis, “Terbang rendah tetaplah terbang… Suara yang mengalun dekat dengan tanah adalah simfoni bagi segala sesuatu yang berusaha tumbuh ke atas.” Larik itu menegaskan pandangannya bahwa perjuangan hidup sehari-hari memiliki nilai dan martabatnya sendiri.
Suara Pekerja Biasa Masuk Panggung Sastra
Penghargaan Sastra Lu Xun dinamai dari sastrawan yang dikenal melalui catatan tajam mengenai kehidupan masyarakat China pada awal abad ke-20. Penghargaan ini diberikan setiap empat tahun untuk kategori novela, cerita pendek, reportase sastra, puisi, prosa, teori dan kritik sastra, serta penerjemahan.
Profesor sastra China Universitas Peking, Zhang Yiwu, menilai kemenangan Wang penting karena puisinya berakar kuat pada kehidupan masa kini. Menurut dia, karya Wang menyuarakan kelompok yang kerap luput dari perhatian sekaligus menggambarkan perubahan besar di China.
Wang bukan satu-satunya penulis akar rumput yang masuk daftar pendek tahun ini. Kumpulan esai seorang pedagang pasar masuk nominasi prosa, sementara cerita pendek penulis internet menembus seleksi akhir.
Kritikus sastra Dai Zhishen melihat keberagaman latar sosial para peserta sebagai perubahan dalam sistem penilaian sastra. “Sastra bukanlah kemewahan yang sulit dijangkau dan hanya diperuntukkan bagi kalangan elite,” katanya.
Data resmi menunjukkan lebih dari 80 juta orang bekerja dalam berbagai bentuk pekerjaan baru di China. Kelompok ini mencakup pengantar makanan, pengemudi transportasi daring, dan host siaran langsung yang ikut menjaga pergerakan kota serta konsumsi.
Regulator China dalam beberapa tahun terakhir memperkenalkan kebijakan untuk membatasi algoritma pengantaran yang memberatkan dan meningkatkan transparansi batas komisi platform bagi pengemudi daring. Akses pekerja ekonomi gig terhadap program jaminan sosial juga diperluas.
Berbagai pusat layanan bagi pekerja ekonomi gig turut bermunculan di sejumlah wilayah. Di Beijing, terdapat lebih dari 14.000 pusat yang menyediakan ruang istirahat, minum, dan berteduh dari hujan.
Bagi Wang, kemunculan penulis seperti dirinya lebih dari sekadar pengakuan sastra. “Hubungan kami dengan kehidupan nyata mungkin lebih dalam, dan cara kami mengungkapkannya lebih tulus,” ujarnya.
Dalam salah satu puisinya, Wang membandingkan semut yang menerjang hujan dengan pengantar makanan yang melindungi kotak pesanan di tanjakan basah. Ia pun memilih tetap mengantar pesanan sambil menulis, dengan keyakinan bahwa “Sebanyak apa pun salju yang ditimpakan kehidupan kepada saya, sebanyak itu pula musim semi yang akan saya temui.”
