Di Pemakaman Juliana, Sang Ayah Kritik Keamanan Jalur Pendakian RI

Author: Qoo Media

Keluarga Juliana Marins, yang baru-baru ini meninggal dunia saat mendaki Gunung Rinjani, Indonesia, mengemukakan kritik terhadap standar keamanan jalur pendakian di Tanah Air. Ayah Juliana, Manoel Marins, menyatakan bahwa prosedur keselamatan di lokasi tersebut tidak memadai, mengakibatkan kesulitan dalam upaya penyelamatan putrinya yang berusia 26 tahun itu.

Juliana dilaporkan terjatuh dalam pendakian yang seharusnya menyenangkan. Keluarga awalnya berencana untuk mengkremasi jenazahnya, namun mengubah keputusan tersebut agar dapat dilakukan autopsi di masa mendatang. Pengadilan Brasil menolak permohonan itu dengan alasan kematian Juliana dianggap mencurigakan.

Dalam wawancara, Manoel mengungkapkan kekhawatirannya terkait kurangnya fasilitas keselamatan yang ada di jalur pendakian Indonesia. Ia membandingkan dengan pengalaman keluarganya saat mendaki di Chapada Diamantina, Brasil, di mana terdapat tali dan pemandu di kawasan berbahaya. “Di Chapada, di tempat-tempat yang sulit, ada tali dan pemandu yang membantu kami. Ini seharusnya ada di Indonesia,” ujarnya.

Ayah Juliana juga mengakui berterima kasih kepada relawan yang berpartisipasi dalam proses pencarian putrinya. Ia menjelaskan bahwa upaya Pertahanan Sipil setempat hanya mampu menjangkau jarak 400 meter dari lokasi jatuhnya, sedangkan Juliana berada 600 meter dari titik tersebut. “Jika relawan tidak datang, kemungkinan besar Juliana tidak akan bisa diselamatkan,” tambahnya.

Jenazah Juliana kemudian dimakamkan di Pemakaman Parque da Colina, Niterói, Brasil, dengan dihadiri oleh banyak pelayat. Upacara tersebut dibagi menjadi dua sesi, pertama untuk masyarakat umum dan kemudian hanya untuk keluarga dan teman dekat pada sesi kedua. “Setidaknya kami memiliki Juliana kembali di Brasil,” ungkap Mariana, saudari Juliana, yang juga hadir di pemakaman.

Sementara itu, pihak keluarga juga mengungkapkan keinginan untuk memastikan kebenaran dari laporan autopsi yang dilakukan di Indonesia. Keluarga menegaskan pentingnya mengetahui waktu dan sebab kematian Juliana agar semua keraguan bisa terjawab. Manoel juga mengungkapkan keprihatinan terhadap keterlambatan dalam upaya penyelamatan Juliana, yang terjadi 20 menit setelah kecelakaan.

Hasil autopsi awal di Bali menunjukkan bahwa Juliana meninggal akibat beberapa patah tulang dan cedera internal, tanpa adanya tanda-tanda hipotermia. Namun, keluarga merasa prosedur penyampaian informasi tersebut sangat membingungkan dan tidak adil. Mariana menjelaskan bahwa pihak keluarga dipanggil ke rumah sakit untuk menerima laporan, tetapi berita tersebut sudah diumumkan dalam konferensi pers terlebih dahulu.

Dalam konteks ini, pihak Berwenang Indonesia menyatakan kesediaan untuk meninjau kembali protokol keamanan di taman nasional. Dinas Pengelolaan Umum (DPU) telah mengirim surat kepada Kepolisian Federal Brasil untuk membuka penyelidikan terkait bisakah kelalaian terjadi dalam upaya penyelamatan Juliana. Pengacara federal juga menekankan urgensi untuk melakukan pemeriksaan cepat agar semua elemen yang dapat memperjelas fakta dapat diidentifikasi.

Keluarga Juliana berharap agar kejadian tragis ini tidak terulang kembali, dan sebagai kenyataan pahit bagi banyak pendaki lainnya, perlunya adanya langkah preventif untuk menghindari kecelakaan serupa di jalur pendakian Indonesia. Pengeluaran rekomendasi untuk meningkatkan keselamatan di jalur-jalur pendakian diperlukan demi menjaga keselamatan pendaki dan mencegah kebangkrutan nyawa di kemudian hari.

Terbaru