Gelombang panas ekstrem diperkirakan menjadi tantangan serius bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa perubahan signifikan dalam jadwal, kesehatan para pemain dan penggemar bisa terancam. Peringatan ini muncul setelah gelaran Piala Dunia Antarklub FIFA di AS yang baru saja berlangsung, di mana suhu tinggi dan kondisi cuaca buruk menjadi gambaran awal tantangan yang akan dihadapi pada Piala Dunia mendatang.
Suhu global terus meningkat, dan data dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS menunjukkan bahwa suhu musim panas secara global telah meningkat lebih dari satu derajat sejak 1930. Di Eropa, kenaikan bahkan mencapai hampir dua derajat sejak 1990-an. Ahli iklim, Profesor Piers Forster dari Priestley Centre for Climate Futures, menekankan bahwa tanpa perubahan radikal dalam jadwal, risiko kesehatan akan semakin besar. “Alternatifnya adalah bermain di bulan-bulan musim dingin atau di lokasi yang lebih sejuk,” ujarnya.
Dalam upaya menangani masalah panas, FIFA telah memulai beberapa adaptasi pada Piala Dunia Antarklub sebelumnya. Jeda minum tambahan, penyediaan banyak air di sisi lapangan, dan penggunaan kipas angin di bangku cadangan merupakan langkah-langkah yang diambil. Namun, meskipun ada upaya tersebut, mantan pemain Chelsea, Enzo Fernández, mengungkapkan bahwa pemain tetap merasakan efek panas yang kuat, dan ia menyarankan agar pertandingan tidak dilaksanakan pada siang hari.
FIFPRO, serikat pemain sepak bola dunia, menyatakan bahwa enam dari 16 kota tuan rumah Piala Dunia 2026 berada dalam kategori “risiko sangat tinggi” terhadap tekanan panas. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengungkapkan bahwa beberapa pertandingan di siang hari mungkin akan dipindahkan ke stadion tertutup untuk mengatasi isu-isu ini. Namun, keputusan konkret mengenai penjadwalan keseluruhan masih belum jelas.
Meskipun FIFA menyatakan bahwa panas ekstrem tidak akan menjadi masalah besar pada Piala Dunia mendatang, banyak ilmuwan iklim memandang pernyataan tersebut dengan skeptisisme. Mereka menganggap, meremehkan risiko ini bisa berdampak serius di lapangan. Julien Périard dari Universitas Canberra menegaskan bahwa hipertermia, yang merupakan peningkatan suhu tubuh berlebihan, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius. “Ini bukan sekadar ketidaknyamanan; ini adalah risiko medis yang serius,” tegasnya.
Berbicara tentang penjadwalan, Piala Dunia 2022 di Qatar merupakan pengecualian karena dilaksanakan pada November-Desember untuk menghindari kondisi panas ekstrem. Namun, pemindahan waktu turnamen semacam itu sering dianggap mengganggu liga domestik di Eropa. Oleh karena itu, FIFA tetap mempertahankan jadwal Piala Dunia di bulan Juni-Juli. Ilmuwan dan aktivis kini mendesak FIFA untuk serius mempertimbangkan perubahan ini, dengan menyebutkan bahwa risiko panas yang dihadapi atlet dan masyarakat umum telah meningkat 28 persen dibandingkan dengan tahun 1990-an.
Jika FIFA tidak segera mengambil tindakan, Piala Dunia 2026 bisa berpotensi berubah menjadi krisis kesehatan publik berskala besar. Perubahan iklim kini tidak lagi hanya menjadi isu lingkup lingkungan, melainkan juga berdampak langsung pada olahraga dan kehidupan sehari-hari. Michael Mann, ilmuwan iklim dari Universitas Pennsylvania, menyatakan bahwa kondisi ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh semua pihak.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak perubahan iklim, penting bagi FIFA untuk tidak hanya berpegang pada tradisi, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi. Umat manusia berada di titik kritis yang memerlukan langkah nyata dan konkret agar turnamen sepak bola terbesar di dunia tetap menjadi perayaan, bukan ancaman terhadap kesehatan.
