Kepala Babi Ditemukan di Depan Masjid Paris, Macron Langsung Turun Tangan

Sedikitnya sembilan kepala babi ditemukan di depan sejumlah masjid di wilayah Paris dan pinggiran kotanya pada Selasa, 9 September 2025, memicu keprihatinan serius terkait kebencian anti-Muslim yang meningkat di Prancis. Kepala Polisi Paris, Laurent Nunez, menyatakan bahwa kepala babi tersebut ditemukan di empat lokasi masjid di Paris dan lima di pinggiran kota, dengan kemungkinan jumlah kejadian lebih banyak lagi.

Polisi dan Penyelidikan Resmi

Pihak kepolisian Paris segera membuka penyelidikan atas insiden ini dengan dugaan hasutan kebencian berbasis ras dan agama. "Tindakan ini tercela," ujar Nunez dalam konferensi pers, menegaskan bahwa simbol kepala babi sangat sensitif bagi umat Muslim karena dalam ajaran Islam, konsumsi daging babi dianggap haram dan tidak murni. Selain itu, beberapa kepala babi tersebut juga ditemukan bertuliskan nama keluarga Presiden Emmanuel Macron menggunakan tinta berwarna biru, menambah unsur provokatif yang memperkeruh situasi.

Menurut Nunez, ada kemungkinan keterkaitan dengan insiden sebelumnya yang diduga melibatkan campur tangan asing. Ia mengingatkan agar penyelidikan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terburu-buru menyimpulkan. Kasus sebelumnya pada Juni 2025 pernah melibatkan tiga warga Serbia yang didakwa atas vandalisme situs Yahudi, yang diduga mendapat dukungan dari pihak Rusia.

Konteks dan Latar Belakang Kebencian Anti-Muslim di Prancis

Prancis merupakan negara dengan komunitas Muslim terbesar di Uni Eropa dan populasi Yahudi terbesar di luar Israel dan Amerika Serikat. Data dari Badan Hak Asasi Manusia Uni Eropa mencatat peningkatan tajam kebencian anti-Muslim dan antisemitisme sejak pecahnya konflik di Gaza pada Oktober 2023. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat insiden anti-Muslim meningkat hingga 75 persen selama periode Januari hingga Mei 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Serangan fisik terhadap individu yang beridentitas Muslim juga telah meningkat tiga kali lipat.

Respons Pemerintah dan Tokoh Masyarakat

Menanggapi insiden ini, Presiden Emmanuel Macron langsung turun tangan dengan bertemu perwakilan komunitas Muslim untuk menyampaikan dukungan dan menegaskan posisi pemerintah menentang segala bentuk intoleransi. Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, mengecam tindakan ini sebagai tindakan rasis, dan menginformasikan bahwa langkah hukum telah diambil untuk menangani kasus tersebut.

Menteri Dalam Negeri, Bruno Retailleau, juga mengecam insiden ini dengan keras. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai "keterlaluan dan sama sekali tidak dapat diterima." Retailleau menekankan pentingnya agar umat Muslim dapat beribadah dan menjalani keyakinannya dengan damai tanpa rasa takut.

Rektor Masjid Agung Paris, Chems-Eddine Hafiz, menggambarkan peristiwa ini sebagai bentuk nyata Islamofobia, bahkan menyebutnya sebagai “tahap baru yang menyedihkan” dalam kebangkitan kebencian terhadap umat Muslim di Prancis. Ketua kelompok antidiskriminasi Addam, Bassirou Camara, memperingatkan potensi eskalasi kekerasan jika tindakan diskriminatif semacam ini dibiarkan berlanjut. Camara menyoroti bahwa sejak beberapa bulan terakhir sudah ada peringatan yang tidak diindahkan “Apa yang akan terjadi selanjutnya? Melempar kepala babi ke jamaah atau melakukan serangan fisik?”

Dukungan Masyarakat dan Langkah Solidaritas

Di luar salah satu masjid yang menjadi sasaran, sejumlah warga menunjukkan rasa solidaritas dengan meletakkan bunga sebagai tanda dukungan moral kepada komunitas Muslim. Seorang mantan direktur asosiasi berusia 40 tahun yang turut hadir menyampaikan, “Orang-orang tidak seharusnya takut untuk menunjukkan keyakinannya.” Hal ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat ikut prihatin dan mengutuk keras tindakan kebencian tersebut.

Sejarah Insiden Serupa

Kasus penemuan kepala babi bukan kali pertama terjadi di Prancis. Pada tahun 2024, sebuah asosiasi Muslim di wilayah Pas-de-Calais, utara Prancis, juga menjadi korban serangan dengan ditemukannya kepala babi di pintu masuk masjid. Kejadian berulang ini mencerminkan masalah lama yang belum terselesaikan terkait islamofobia dan kebencian berbasis agama di negara tersebut.

Dengan latar belakang peningkatan ketegangan dan kebencian itu, pemerintah Prancis terus berupaya memperkuat langkah hukum dan diplomasi sosial guna melindungi hak-hak komunitas minoritas, khususnya umat Muslim, agar dapat menjalankan ibadah dengan aman dan damai di tengah masyarakat yang beragam.

Exit mobile version