Situasi di Nepal kini tengah dalam kondisi sangat mencekam setelah gelombang protes massal yang berujung pada tewasnya sedikitnya 20 orang dan hampir 350 lainnya mengalami luka-luka. Tekanan yang luar biasa dari masyarakat dan kerusuhan yang meluas akhirnya memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri. Krisis ini bahkan menarik perhatian Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, yang secara resmi menyerukan penyelidikan menyeluruh serta mendesak agar semua pihak menahan diri demi menghindari kekerasan lebih jauh.
Protes Massal dan Pemicu Kerusuhan
Gelombang kemarahan publik ini dipicu oleh kebijakan kontroversial yang diambil oleh PM Oli, yakni larangan terhadap penggunaan media sosial di seluruh negeri. Kebijakan ini dianggap sebagai tindakan represif yang membatasi kebebasan berekspresi warga Nepal. Selain itu, PM Oli juga menuntut agar perusahaan teknologi multinasional membuka kantor perwakilan di Nepal, menambah ketegangan yang pada akhirnya membakar semangat protes di ibu kota Kathmandu.
Para demonstran yang memprotes kebijakan tersebut kemudian melakukan aksi-aksi anarkis dengan menyerbu dan membakar sejumlah gedung publik, termasuk gedung parlemen dan kantor partai politik. Bahkan kediaman para pejabat tinggi dan Kantor Presiden turut menjadi sasaran massa yang marah. Meski pemerintah sempat mencabut larangan media sosial, hal ini tidak meredakan kemarahan yang telah berubah menjadi bentrokan brutal antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.
Seruan Tegas dari Sekjen PBB Antonio Guterres
Melalui akun resmi media sosialnya, Antonio Guterres menyampaikan dukacita mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan ini. Ia menegaskan perlunya penyelidikan penuh terhadap kejadian tersebut agar dapat mengidentifikasi dan mempertanggungjawabkan semua pelaku kekerasan. Guterres juga mengimbau semua pihak untuk menahan diri, menolak segala bentuk kekerasan, dan mengedepankan dialog konstruktif sebagai jalan keluar dari krisis.
Ia menegaskan pentingnya penegakan hukum hak asasi manusia oleh aparat keamanan dalam penanganan demonstran. Menurutnya, hak untuk menyampaikan pendapat harus dihormati selama dilakukan secara damai, dan tindakan aparat keamanan harus sesuai dengan standar internasional yang menjunjung tinggi perlindungan terhadap kehidupan dan harta benda.
Militer Ambil Alih Kekuasaan dan Dampak Politik
Ketegangan politik meningkat tajam hingga akhirnya pada Selasa malam, militer Nepal mengambil alih kendali pemerintahan, menandakan situasi darurat di negara tersebut. Dalam perkembangan terkini, Presiden Ramchandra Paudel telah menerima surat pengunduran diri dari PM Oli dan kini tengah mempersiapkan proses pembentukan pemerintahan baru.
Berikut adalah rangkuman kondisi terkini yang menyertai krisis ini:
- Jumlah korban meninggal akibat bentrokan mencapai 20 orang.
- Sedikitnya 350 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
- Larangan media sosial yang kontroversial menjadi pemicu utama gelombang protes.
- Gedung parlemen, kantor partai politik, dan kediaman pejabat tinggi dibakar oleh massa.
- Militer mulai mengambil alih kekuasaan pada puncak krisis.
- Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan penyelidikan dan menghormati hak asasi manusia.
- PM KP Sharma Oli mengundurkan diri di bawah tekanan massa dan situasi politik.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Situasi yang dihadapi Nepal saat ini sangat kompleks, dengan risiko eskalasi kekerasan yang dapat berdampak lebih luas lagi. Intervensi dari PBB sebagai organisasi internasional mendorong upaya penyelesaian melalui jalur damai dan dialog politik. Presiden Ramchandra Paudel dituntut untuk membentuk pemerintahan yang mampu meredam ketegangan sekaligus memulihkan stabilitas nasional.
Krisis Nepal ini menjadi peringatan penting bagi negara-negara lain terkait risiko penggunaan kebijakan represif terhadap kebebasan digital dan hak sipil. Ke depan, pengelolaan aspirasi publik yang inklusif dan penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah kunci utama untuk mencegah terjadinya kekerasan serupa.
