Demonstrasi besar yang digerakkan oleh generasi muda Nepal, yang dikenal sebagai Gen Z, berhasil menggulingkan Perdana Menteri KP Sharma Oli pada September 2025. Aksi protes yang bermula dari pemblokiran 26 platform media sosial seperti Facebook, X, dan Instagram ini berubah menjadi gelombang kemarahan lebih luas terhadap korupsi dan tata kelola pemerintahan yang buruk. Keputusan Oli tersebut dianggap membatasi kebebasan berekspresi kaum muda yang sangat bergantung pada media sosial, memperparah ketidakpuasan publik yang sudah lama terpendam.
Selama masa jabatannya, Sharma Oli menghadapi kritikan tajam terkait nepotisme, skandal visa, dan gaya hidup mewah segelintir politikus yang memicu kemarahan rakyat. Permasalahan ekonomi juga memburuk dengan tingginya angka pengangguran pemuda yang mencapai 20-22,7 persen dan kemiskinan ekstrem yang dialami jutaan warga Nepal. Banyak proyek pembangunan yang mandek, menambah citra negatif pemerintahannya. Respons aparat keamanan di bawah pimpinan Oli justru menimbulkan kekhawatiran, dengan penggunaan kekuatan berlebihan yang mengakibatkan sedikitnya 19 hingga 22 orang tewas dan ratusan luka-luka, hingga mendapat kecaman PBB.
Mengontraskan era Oli adalah sosok Manmohan Adhikari, Perdana Menteri komunis pertama Nepal yang menjabat selama sembilan bulan dari November 1994 hingga September 1995. Meski singkat, masa kepemimpinan Adhikari dikenang sebagai periode dengan fokus kuat pada kesejahteraan sosial dan pembangunan ekonomi yang berpihak pada rakyat. Ia meluncurkan program progresif seperti “Let’s Build Our Village Ourselves” dan tunjangan hari tua bagi warga lansia, yang kemudian menjadi model jaminan sosial di Asia Selatan.
Adhikari juga dikenal berjuang untuk pemberdayaan komunitas terpinggirkan serta mendorong reformasi lahan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Karakternya yang sederhana dan integritas tinggi, didukung latar belakang sebagai aktivis demokrasi yang pernah dipenjara selama 14 tahun, membuatnya dihormati sebagai pemimpin yang benar-benar mengutamakan hak dan kesejahteraan rakyat. Berbeda dari kepemimpinan Oli, tidak ada catatan kekerasan aparat keamanan atau penindasan demonstran selama masa Adhikari.
Perbandingan kedua era ini memperlihatkan perbedaan fundamental dalam pendekatan kepemimpinan. Pada keamanan dan kesejahteraan, Adhikari membangun dasar jaminan sosial dan program pemberdayaan tanpa menggunakan kekerasan terhadap pengkritik. Sebaliknya, kepemimpinan Oli diwarnai oleh tindakan represif dan penggunaan kekuatan berlebihan yang mencederai hak-hak sipil. Dari sisi ekonomi, Adhikari memprioritaskan pembangunan inklusif yang mengangkat komunitas ekonomi bawah, sementara Oli menghadapi kegagalan menangani pengangguran pemuda dan ketimpangan sosial yang makin melebar.
Yang terpenting, perlakuan terhadap kebebasan berekspresi menjadi titik krusial yang memicu keruntuhan pemerintahan Oli. Pemblokiran media sosial memicu gelombang protes Gen Z yang mengedepankan digitalisasi dan kebebasan informasi. Sedangkan Adhikari sebagai pejuang demokrasi menghormati ruang publik dan hak rakyat untuk berdemonstrasi secara damai. Ini menjadi pelajaran penting bagi Nepal tentang pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap hak-hak dasar, terutama di era digital yang menghubungkan generasi muda.
Demonstrasi yang dipelopori Gen Z ini mengingatkan bahwa generasi muda menuntut bukan hanya janji kosong tetapi perubahan nyata serta tata kelola pemerintah yang bersih dan responsif. Warisan Manmohan Adhikari menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat membawa dampak positif sepanjang masa melalui kebijakan yang berorientasi rakyat dan integritas. Sementara pengalaman masa Oli menjadi peringatan bahwa pembatasan kebebasan serta pemerintahan represif sulit dipertahankan dalam masyarakat yang semakin kritis dan terhubung.
Nepal ke depan membutuhkan kepemimpinan yang mendengarkan aspirasi rakyat dan menghargai ruang demokratik, serta aparat keamanan yang mampu mengayomi tanpa menindas. Dengan demikian, masa depan pembangunan sosial dan politik Nepal dapat lebih inklusif dan berkelanjutan, selaras dengan harapan generasi mudah yang semakin berdaya dan sadar akan hak-haknya.
