Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap kapal kedua yang diduga milik kartel narkoba Venezuela, menewaskan tiga orang dalam operasi tersebut. Serangan ini merupakan kelanjutan dari upaya keras Pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menindak penyelundupan narkoba yang dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui platform media sosial Truth Social, Presiden Trump menyatakan bahwa serangan ini terjadi atas perintah langsungnya. Dia menegaskan bahwa kapal-kapal tersebut beroperasi di perairan internasional dengan tujuan mengangkut narkotika ilegal yang dapat membahayakan warga Amerika. “Serangan itu dilakukan ketika para teroris narkotika Venezuela yang telah dikonfirmasi berada di perairan internasional membawa narkoba menuju AS,” tulis Trump.
Serangan ini menjadi episode terbaru dalam rangkaian operasi militer yang dilakukan AS terhadap kapal-kapal yang diduga terkait dengan kartel narkoba asal Venezuela. Awal bulan ini, militer AS juga menembaki kapal pertama yang diduga membawa narkoba, dan dalam insiden tersebut 11 orang tewas. Operasi awal tersebut diberi otorisasi berdasarkan wewenang Presiden di bawah Pasal 2 yang memungkinkan tindakan tegas terhadap ancaman teroris, terutama terhadap kelompok geng Venezuelan Tren de Aragua yang telah dinyatakan sebagai organisasi teroris asing oleh pemerintahan AS.
Meski demikian, pemerintah Venezuela membantah tuduhan AS tersebut. Mereka mengklaim bahwa kapal yang diserang adalah kapal penjaga pantai yang tidak terlibat dalam aktivitas narkoba. Selain itu, pemerintah Venezuela menyatakan bahwa para korban dalam insiden serangan militer AS bukanlah anggota geng atau pengedar narkoba yang dituduhkan. Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menegaskan bahwa investigasi lokal belum menemukan indikasi keterlibatan para korban dengan kartel narkoba atau kelompok kriminal yang disebut oleh AS.
Kendati bukti detil dari AS masih terbatas, pemerintah Amerika menegaskan telah memonitor dan melacak muatan narkoba yang diduga dimuat ke kapal-kapal tersebut. Trump juga menolak pertanyaan mengenai legalitas serangan, dengan alasan narkoba yang dibawa merupakan ancaman berbahaya yang membenarkan tindakan militer.
Penguatan kehadiran militer AS di wilayah Karibia dan sekitarnya terus berlangsung. Beberapa hari terakhir, lima jet tempur F-35 ditempatkan di Puerto Riko, bergabung dengan sejumlah kapal perusak dan kelompok kesiapan amfibi yang ditugaskan menghalau penyelundupan narkoba. Angkatan Laut AS di kawasan tersebut terdiri dari kelompok kesiapan Iwo Jima dengan ribuan personel marinir dan kapal perang, serta unit tambahan untuk memperkuat operasional.
Operasi militer ini mendapat reaksi beragam di dalam negeri AS. Senator Demokrat Adam Schiff mengeluarkan pernyataan kritik serius terkait otorisasi Presiden yang memungkinkan tindakan militer sepihak terhadap kapal-kapal tersebut. Schiff menyatakan sedang menyusun resolusi untuk membatasi wewenang Presiden dalam menggunakan kekuatan militer dan mengkhawatirkan risiko terjadinya pembunuhan tanpa prosedur hukum yang jelas.
Sementara itu, dari Caracas, Presiden Venezuela Nicolás Maduro mengutuk agresi militer AS dan menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan kedaulatan dan melawan intervensi asing. Pernyataan Maduro disampaikan beberapa jam sebelum Trump mengumumkan serangan terhadap kapal kedua, dan dia juga menyerang keras politik luar negeri AS melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Konflik militer AS dengan kapal-kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba Venezuela ini merupakan bagian dari eskalasi ketegangan yang menyoroti masalah narkoba sebagai ancaman transnasional. Pemerintah AS berupaya keras memotong jaringan distribusi narkoba dengan mengerahkan kekuatan militer, sementara Venezuela tetap menyangkal keterlibatan dan menuduh AS melakukan tindakan agresi yang tidak beralasan.
Dalam konteks regional, operasi militer AS terhadap kelompok kriminal dan kartel narkoba mendapat perhatian besar, mengingat dampaknya terhadap stabilitas politik dan keamanan di negeri-negeri Amerika Latin. Keberlanjutan strategi militer ini akan terus diawasi oleh komunitas internasional dan menjadi bahan perdebatan terkait legalitas dan efektivitasnya dalam memberantas perdagangan narkoba lintas negara.
