Malawi menggelar pemilihan umum yang sangat dinanti pada Rabu (13/9/2024), dengan persaingan utama antara Presiden petahana Lazarus Chakwera dan mantan Presiden Peter Mutharika. Pemilu ini menjadi ajang penting bagi rakyat Malawi yang tengah menghadapi sejumlah tantangan ekonomi berat, mulai dari inflasi tinggi hingga kekurangan bahan bakar, sekaligus menjadi penentu arah masa depan negara yang dikenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia ini.
Dua Tokoh Utama Bertarung Kembali
Presiden Lazarus Chakwera, seorang pendeta berusia 70 tahun, kembali berhadapan dengan Peter Mutharika, mantan profesor hukum berusia 85 tahun, yang juga pernah menjabat sebagai presiden. Kedua tokoh ini sudah bersaing dalam pemilu sebelumnya pada 2019, yang akhirnya dibatalkan karena terbukti ada kecurangan, sehingga pemilu ulang diadakan pada 2020 dengan Chakwera keluar sebagai pemenang.
Dalam pemilu tahun ini, fokus utama para pemilih adalah upaya mengatasi krisis ekonomi yang melanda. Inflasi di Malawi telah menembus angka 27%, sementara biaya hidup melonjak hingga 75% dalam satu tahun terakhir, menurut data dari organisasi nonpemerintah Centre for Social Concern. Sementara itu, Bank Dunia melaporkan sekitar 70% dari total populasi 21 juta jiwa hidup dalam kemiskinan.
Antusiasme Pemilih Muda
Ribuan warga, termasuk banyak pemilih muda, memenuhi tempat pemungutan suara di berbagai wilayah Malawi, termasuk area perkotaan seperti Lilongwe. Kelompok pemilih muda yang mencapai 60% dari 7,2 juta pemilih terdaftar menunjukkan dorongan kuat untuk perubahan. Ettah Nyasulu (28), seorang pelayan di Lilongwe, menyuarakan keinginannya agar pemerintah baru dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan memperbaiki kualitas hidup generasi muda.
Semangat ini menggambarkan harapan yang besar terhadap perbaikan di tengah tantangan struktural, terutama sektor pertanian yang merupakan tumpuan hidup mayoritas penduduk. Sektor ini juga baru saja menghadapi bencana alam seperti kekeringan pada 2024 dan siklon besar pada 2023, yang semakin memperparah kondisi ekonomi rakyat.
Pemberian Bantuan dan Mobilisasi Massa
Saat memberikan suaranya di desa asalnya, Malembo, sekitar 56 kilometer dari Lilongwe, Presiden Chakwera didampingi oleh ratusan warga dan pengawalan militer. Dukungan kepada Chakwera terlihat dari cerita Tilore Chimalizeni, seorang petani sekaligus ibu tunggal, yang mengakui bantuan jagung dari sang presiden sebagai "penyelamat".
Selain memilih presiden, warga Malawi juga memberikan suara untuk anggota parlemen dan dewan lokal. Ketua Komisi Pemilihan Umum Malawi, Annabel Mtalimanja, menyatakan proses pemungutan suara berjalan lancar dan damai, dengan hasil awal diharapkan diumumkan paling cepat pada Kamis (18/9). Karena calon pemenang harus memperoleh lebih dari 50% suara, kemungkinan besar pemilu akan berlanjut ke putaran kedua dalam waktu 60 hari.
Tuduhan Kronisme dan Kesempatan Pilihan Sulit
Kedua kandidat utama menghadapi tudingan soal kronisme, korupsi, dan pengelolaan ekonomi yang buruk selama masa jabatan mereka. Mantan Presiden Joyce Banda, satu-satunya kandidat perempuan dalam pemilu ini, diperkirakan tidak memiliki dukungan signifikan dalam persaingan ketat yang hampir hanya dikuasai oleh Chakwera dan Mutharika.
Analis politik Chris Nhlane menggambarkan situasi ini sebagai "pilihan antara dua kekecewaan," di mana rakyat Malawi harus memilih antara dua figur yang sama-sama dipandang memiliki potensi yang belum terpenuhi dan harapan yang belum terwujud.
Kinerja Ekonomi yang Menjadi Polemik
Chakwera yang berasal dari Partai Kongres Malawi (MCP) mengusung kampanye untuk melanjutkan program pembangunan dan menyelesaikan proyek infrastruktur yang sudah dimulai. Namun, ia mengakui berbagai keluhan masyarakat terkait tingginya biaya hidup dan kelangkaan pangan dalam kampanye terakhirnya. Popularitas Chakwera dinilai menurun akibat kinerja ekonomi yang mengecewakan, menurut pengamat Mavuto Bamusi.
Sementara itu, Mutharika yang tampil dengan bendera Partai Progresif Demokratik (DPP) berjanji akan mengembalikan stabilitas dan menyelamatkan negara dari krisis yang berkepanjangan. Dalam kampanye di kota Blantyre, basis pemilih utamanya, ia menegaskan komitmennya untuk membawa perubahan yang dibutuhkan oleh Malawi.
Pemilu di Malawi kali ini bukan hanya sekadar ajang pergantian pemimpin, tapi juga merupakan momen krusial bagi masyarakat untuk memilih arah pemulihan di tengah tantangan ekonomi yang kompleks dan beragam. Proses penghitungan suara dan pengumuman hasil resmi masih dinanti publik, dengan harapan bahwa hasilnya dapat mencerminkan aspirasi rakyat dan mendorong kemajuan negara yang sedang memperjuangkan masa depannya.
