Netanyahu Akui Israel Dikucilkan Dunia, Serukan Rakyat Mandiri Total

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa negaranya tengah mengalami isolasi yang semakin parah di tingkat internasional. Dalam sebuah konferensi akuntan jenderal Kementerian Keuangan di Yerusalem pada 17 September 2025, Netanyahu menyatakan Israel mulai dikucilkan dunia, terutama di tengah desakan embargo senjata dan seruan sanksi dari sejumlah negara Eropa akibat konflik yang sedang berlangsung di Gaza.

Israel Hadapi Isolasi dan Ancaman Baru

Netanyahu menyebut situasi ini sebagai isolasi yang memaksa Israel untuk bertransformasi menjadi negara yang benar-benar mandiri total secara ekonomi dan militer. Ia memperingatkan bahwa Israel perlu menjadi “super-Sparta,” istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemandirian dalam menghadapi tekanan luar. Menurutnya, meskipun konsep ekonomi autarki — keadaan di mana suatu negara tidak bergantung pada perdagangan global — adalah sesuatu yang tidak diinginkan, keadaan saat ini memaksakan Israel untuk beradaptasi dengan pola tersebut.

“Kita perlu mengembangkan industri persenjataan kita sendiri, tidak hanya untuk penelitian dan pengembangan tetapi juga untuk produksi alat-alat yang kita butuhkan secara mandiri,” ujarnya. Netanyahu juga menekankan bahwa Israel harus meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri supaya tidak bergantung pada pasokan luar di saat-saat kritis.

Dampak Serangan Hamas dan Perang yang Terus Berlanjut

Konflik yang dipicu oleh serangan kelompok teroris Hamas pada 7 Oktober 2023 telah memperuncing ketegangan Israel di panggung internasional. Netanyahu menyatakan bahwa Israel menghadapi dua ancaman signifikan yang selama ini sudah terencana namun baru muncul jelas setelah perang berkecamuk.

Pertama adalah perubahan demografis di negara-negara Eropa akibat migrasi besar-besaran dari negara mayoritas Muslim. Warga Muslim yang kini menjadi minoritas vokal di Eropa kerap mendorong kebijakan-kebijakan yang lebih condong ke arah anti-Israel. Netanyahu menyebut kondisi tersebut telah menciptakan batasan dan berbagai jenis sanksi terhadap Israel, termasuk ancaman embargo senjata dan kemungkinan sanksi ekonomi di masa depan.

Kedua adalah upaya investasi oleh aktor-aktor saingan Israel, seperti Qatar dan Tiongkok, yang memanfaatkan teknologi digital dan media sosial. Menurut Netanyahu, mereka menjalankan propaganda anti-Israel menggunakan kecerdasan buatan, iklan digital, hingga platform populer seperti TikTok. Hal ini semakin memperdalam isolasi Israel di dunia maya dan berupaya mendemonisasi negara tersebut.

Kebutuhan Israel untuk Mandiri Total

Dalam menghadapi tekanan ini, Netanyahu menegaskan bahwa Israel harus lebih mandiri, terutama dalam hal pertahanan dan produksi militer. Ia menegaskan bahwa jika Israel gagal melakukan intervensi, Iran dapat membangun satu atau dua bom nuklir serta kekuatan rudal balistik penghancur dalam waktu satu tahun. Oleh sebab itu, keberlanjutan industri pertahanan dalam negeri menjadi kunci utama kelangsungan keamanan Israel.

Netanyahu juga mengingatkan bahwa keberhasilan Israel dalam memerangi ancaman Iran dan kelompok-kelompok proksi teror di kawasan merupakan bagian dari kampanye untuk menghilangkan ancaman eksistensial sekaligus menjaga kelangsungan negara. Menurutnya, segala persoalan ekonomi, sosial, dan politik akan menjadi tidak berarti jika Israel sampai hancur.

Respons Politik dan Industri terhadap Pernyataan Netanyahu

Seruan Netanyahu agar Israel berubah menjadi negara mandiri total mendapat tanggapan beragam. Bahwa di satu sisi, pengakuan bahwa Israel tengah dikucilkan menimbulkan kekhawatiran di kalangan politik dan industri teknologi tinggi. Beberapa pihak bahkan menyalahkan perdana menteri atas merosotnya posisi Israel di forum dunia.

Namun, di sisi lain, penguatan industri persenjataan dan peningkatan kapasitas produksi lokal saat ini dianggap sangat penting untuk menghadapi kondisi global yang tidak pasti. Ini menjadikan pembangunan kekuatan internal Israel sebagai langkah strategis yang tak bisa ditawar dalam menghadapi era isolasi tersebut.

Israrel dalam Skenario “Athena dan Sparta Super”

Netanyahu menggambarkan strategi Israel dengan analogi “Athena dan Sparta super,” di mana negara perlu menjalankan pendekatan ganda: menjadi cerdas dan kreatif sekaligus kuat dan mandiri secara militer. Pendekatan ini diharapkan dapat mengatasi upaya-upaya untuk mengisolasi Israel serta tantangan baru yang muncul akibat perubahan geopolitik dan teknologi.

Selain itu, Israel juga perlu merespons dengan cermat propaganda digital dan pengaruh yang diberikan oleh negara dan kelompok dengan agenda anti-Zionis di dunia maya. Netanyahu mengakui bahwa melawan demonisasi tersebut membutuhkan investasi dana yang sangat besar, namun hal ini menjadi sangat penting agar narasi Israel tetap tersampaikan dengan seimbang.

Pada akhirnya, kondisi ini menunjukkan betapa dinamis dan kompleksnya tantangan yang tengah dihadapi oleh Israel di tengah konflik regional dan tekanan global yang semakin intens. Kebijakan dan strategi kemandirian yang digaungkan Netanyahu akan menjadi fokus utama penguatan posisi Israel ke depan.

Exit mobile version