Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengukir momen bersejarah dalam Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan pidato yang penuh semangat dan kontroversial, mengutuk tindakan Israel di Gaza dan menuding peran Amerika Serikat serta NATO dalam genosida yang terjadi. Pidato ini tidak hanya mengguncang ruangan, tapi juga memancing reaksi keras dari delegasi Amerika Serikat yang memutuskan untuk meninggalkan sidang sebagai bentuk protes.
Kritik Tajam terhadap Peran Amerika Serikat dan Israel
Dalam pidatonya, Petro secara tegas menyebut tindakan militer Israel di Gaza sebagai genosida yang dilakukan dengan persetujuan Amerika Serikat, khususnya di bawah pemerintahan Donald Trump. Ia menyoroti bahwa Trump "tidak berbicara tentang demokrasi, krisis iklim, atau kehidupan", melainkan "mengancam dan membiarkan puluhan ribu orang terbunuh". Presiden Kolombia itu menolak pandangan fundamentalis sayap kanan yang menganggap ada "umat pilihan Tuhan", dan menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah satu kesatuan tanpa keunggulan ras.
Petro menegaskan bahwa Dewan Keamanan PBB gagal mengambil tindakan efektif karena hak veto yang dimiliki oleh negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, yang menjadi sekutu Israel dan turut mempersenjatai operasi militer di Gaza. "Majelis ini adalah saksi bisu dan kaki tangan genosida di dunia saat ini," katanya sambil menyatakan bahwa diplomasi konvensional telah kehilangan perannya dalam menyelesaikan krisis tersebut.
Seruan untuk Intervensi Militer Internasional
Dalam pidatonya yang mengundang perhatian global, Petro menyerukan adanya intervensi bersenjata internasional untuk menghentikan genosida yang sudah berlangsung hampir dua tahun di Gaza. Ia meminta negara-negara yang menolak genosida untuk mengerahkan pasukan guna membela kehidupan rakyat Palestina.
Petro mengajak seluruh bangsa dan rakyat dunia untuk menyatukan kekuatan militer sebagai langkah mendesak. Ia menyebutkan secara spesifik perlunya campur tangan pasukan dari Asia, bangsa Slavia yang dikenal dalam sejarah karena mengalahkan Nazi, dan juga pasukan Amerika Latin yang disebutnya sebagai "Bolívar".
"Sudah cukup bicara; saatnya untuk pedang kebebasan atau kematian Bolívar," tegas Petro, merujuk pada simbol perjuangan kemerdekaan Amerika Latin, Simón Bolívar. Pesan ini menegaskan tekadnya agar dunia bergerak dari kata-kata ke aksi nyata dalam menghadang apa yang disebutnya sebagai tirani dan totalitarianisme yang didukung oleh Washington dan NATO.
Reaksi Delegasi Amerika Serikat
Pidato keras ini memancing reaksi tegas dari delegasi Amerika Serikat yang memutuskan untuk meninggalkan aula sidang PBB sebagai bentuk protes terhadap tudingan dan kritik yang dilontarkan oleh Presiden Petro. Langkah ini menegaskan ketegangan diplomatik yang meningkat seputar isu Gaza di forum dunia tersebut.
Reaksi AS ini juga menjadi gambaran nyata bagaimana isu Palestina masih menjadi titik panas dalam hubungan internasional, terutama melibatkan negara adidaya yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam konflik tersebut.
Konteks Internasional dan Dukungan Indonesia
Seruan Petro tidak berdiri sendiri. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidato terpisah di Sidang Umum PBB, juga menyatakan kesediaan Indonesia untuk mengirimkan 20.000 tentara untuk pasukan internasional yang dapat dikerahkan di Gaza. Ini menunjukkan bahwa isu kemanusiaan di Palestina mendapatkan perhatian luas dan dukungan dari berbagai negara di dunia, tidak hanya dari Amerika Latin dan Asia, tetapi juga lintas benua.
Hambatan Politik di PBB
Meski ada seruan untuk intervensi militer, upaya ini dibayangi oleh kekuasaan hak veto di Dewan Keamanan PBB yang kerap kali menghambat pengambilan keputusan tegas terhadap isu Palestina. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi anggota Majelis Umum yang ingin mengambil langkah konkret untuk menghentikan kekerasan dan penderitaan rakyat Gaza.
Pidato Petro juga menjadi pengingat keras bahwa forum-forum internasional sering menghadapi kontradiksi antara retorika dan tindakan nyata, terutama ketika kepentingan geopolitik mendominasi.
Pesan Kemanusiaan yang Menggetarkan
Dengan nada yang emosional dan penuh keyakinan, Presiden Petro mengakhiri pidatonya dengan ajakan persatuan kemanusiaan, melampaui perbedaan politik dan sejarah. Ia mengingatkan bahwa kemanusiaan harus ditempatkan di atas segalanya dan bahwa penindasan dan genosida harus dihentikan demi masa depan yang lebih adil dan damai.
Pidato ini sukses menarik perhatian dunia, viral di media sosial, dan menjadi salah satu momen paling menggelegar dalam Sidang Umum PBB tahun ini, membuka perdebatan baru mengenai peran negara-negara besar dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan urgensi perubahan kebijakan global.
