Greta Thunberg dan 70 Aktivis Asing Ditangkap di Israel, Segera Dipulangkan

Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, bersama lebih dari 70 aktivis asing lainnya dijadwalkan akan dipulangkan dari Israel pada Senin, 6 Oktober 2024. Pemulangan ini terjadi setelah mereka ditahan oleh militer Israel dalam operasi penangkapan terhadap armada kemanusiaan Global Sumud yang berupaya menembus blokade maritim Israel menuju Gaza.

Menurut pernyataan resmi dari beberapa pemerintah Eropa, para aktivis yang dibebaskan akan diterbangkan terlebih dahulu ke Athena, Yunani, sebelum melanjutkan perjalanan ke negara masing-masing. Para aktivis tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk 28 warga Prancis, 27 warga Yunani, 15 warga Italia, dan sembilan warga Swedia. Sementara itu, pada Minggu, 5 Oktober, sudah ada 21 warga Spanyol yang dipulangkan ke negaranya. Namun, masih terdapat sekitar 28 warga Spanyol dan beberapa aktivis asing lain yang tetap berada dalam tahanan Israel.

Para aktivis ini merupakan bagian dari armada Global Sumud yang terdiri dari 45 kapal dan membawa lebih dari 400 aktivis, politisi, serta pengacara. Misi armada tersebut adalah mengantarkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan serius. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Gaza menghadapi ancaman kelaparan akibat blokade yang diberlakukan oleh Israel.

Pada Rabu pekan lalu, militer Israel mencegat kapal-kapal Global Sumud di perairan internasional dan mencegah seluruh kapal memasuki Gaza. Seorang pejabat Israel mengonfirmasi keberhasilan operasi tersebut, menegaskan tidak satu pun kapal yang lolos menuju wilayah Gaza.

Kementerian Luar Negeri Italia dan Yunani menyatakan bahwa aktivis asal kedua negara mereka yang telah dibebaskan akan dipulangkan melalui penerbangan menuju Athena pada hari Senin. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menambahkan bahwa pemerintah Italia akan memberikan dukungan penuh kepada para aktivis asal negaranya guna memastikan mereka dapat kembali ke Roma dengan selamat. Pihak Swedia juga merespons, dengan menteri luar negeri Maria Malmer Stenergard yang mengonfirmasi bahwa sembilan warga Swedia yang ditahan telah dikunjungi staf kedutaan di Tel Aviv dan akan segera dipulangkan.

Perlakuan Aktivis Saat Penahanan

Meski proses pemulangan berjalan, sejumlah laporan dari aktivis yang telah dibebaskan mengungkapkan adanya perlakuan tidak manusiawi selama ditahan oleh militer Israel. Jurnalis asal Italia, Saverio Tommasi, yang bekerja untuk media Fanpage, menyatakan bahwa dirinya mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan di bagian punggung dan kepala. Dia menggambarkan perlakuan tersebut seperti “monyet di sirkus tahun 1920-an,” yang mencerminkan intimidasi dan perlakuan kasar.

Sementara itu, aktivis asal Spanyol, Rafael Borrego, juga memberikan kesaksian serupa. Ia mengatakan bahwa mereka mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental secara berulang kali, termasuk dipaksa berlutut dan menerima pukulan dari petugas Israel selama masa penahanan.

Respons dan Tuntutan Pemerintah Eropa

Menanggapi laporan kekerasan tersebut, sejumlah pemerintah Eropa menuntut kejelasan dari otoritas Israel mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami para aktivis. Diplomasi antarnegara kini sedang berjalan untuk memastikan perlindungan dan keadilan bagi warga negaranya yang terlibat dalam insiden ini.

Proses pemulangan aktivis ini menjadi bagian penting dari penanganan lanjutan kasus penangkapan armada Global Sumud yang memicu berbagai reaksi global. Insiden ini juga semakin meningkatkan sorotan internasional terhadap blokade laut yang diberlakukan Israel di Gaza, di mana penduduk sipil menghadapi kondisi kritis akibat keterbatasan akses bantuan kemanusiaan.

Source: mediaindonesia.com

Exit mobile version