Mengenal Kapal Flotilla Bawa Bantuan untuk Gaza Disergap Tentara Israel

Global Sumud Flotilla (GSF), rombongan kapal bantuan kemanusiaan yang berupaya mengirimkan bantuan untuk warga Gaza, mengalami penyergapan oleh pasukan angkatan laut Israel saat mendekati perairan Jalur Gaza. Kapal utama dalam armada ini, Mikeno (Al Bireh), terdeteksi berada di perairan internasional Mediterania, sekitar 100-120 kilometer barat daya Gaza City, sebelum akhirnya dicegat. Sekitar 201 aktivis dari 37 negara ditangkap dan dibawa ke pelabuhan Israel dalam insiden yang terjadi pada Rabu (1/10).

Mengenal Global Sumud Flotilla

Global Sumud Flotilla merupakan sebuah armada terkoordinasi dari kapal-kapal kecil yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan di kawasan Mediterania. Armada ini lahir dari inisiatif internasional yang bertujuan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Gaza, yang sudah bertahun-tahun terkungkung dalam krisis akibat blokade yang diberlakukan. Armada yang berisi gabungan dari berbagai koalisi global, seperti Armada Sumud Maghreb, Koalisi Armada Kebebasan, dan Gerakan Global ke Gaza ini, memiliki misi tidak hanya mengirim bantuan bahan pokok, tetapi juga memberikan simbol solidaritas dan menolak blokade ilegal yang dijalankan oleh Israel.

Mengapa Memilih Jalur Laut?

Jalur laut menjadi pilihan utama untuk mengirim bantuan karena jalur udara dan darat menuju Gaza sudah lama diblokade. Israel mengontrol secara ketat wilayah udara dan perairan sejak tahun 2007 dan Bandara Internasional Yasser Arafat di Gaza telah hancur pada tahun 2001. Dengan menggunakan armada laut, GSF bisa mengirimkan barang bantuan penting sekaligus menyuarakan tuntutan agar blokade dan pengepungan yang menimpa Gaza segera diakhiri.

Dukungan Global dan Keikutsertaan Beragam Pihak

Dalam misi yang dimulai pada 31 Agustus 2025 tersebut, lebih dari 44 negara dari enam benua mengirimkan delegasi untuk bergabung dalam Global Sumud Flotilla. Delegasi tersebut tidak mewakili pemerintah atau partai politik manapun, namun datang atas dasar kemanusiaan dan solidaritas. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, seperti jurnalis, tenaga kesehatan, hingga aktivis, termasuk aktivis iklim terkenal Greta Thunberg. Peserta tersebut bersatu untuk menegakkan hak atas kebebasan dan akses yang adil bagi rakyat Gaza.

Serangan Berulang dan Penyergapan Terbaru

Sejak awal pelayaran, GSF sudah beberapa kali mengalami serangan yang diyakini oleh para aktivis sebagai upaya pencegatan yang dilaksanakan oleh Israel. Serangan-serangan tersebut terjadi saat kapal-kapal GSF berlayar di perairan Yunani dan saat berlabuh di Tunisia. Insiden terbaru terjadi saat armada mulai mendekati pantai Gaza, di mana kapal Mikeno bersama kapal-kapal lain dicegat dan disergap oleh angkatan laut Israel. Sebanyak 15 kapal berhasil ditahan, sementara sekitar 200 aktivis diculik dan ditahan oleh pihak Israel.

Meski demikian hingga Kamis (2/10/2025), masih ada sekitar 32 kapal yang masih berlayar menuju Gaza dan berpotensi mencapai tujuan jika tidak ada hambatan lebih lanjut. Penyergapan terhadap Global Sumud Flotilla ini memunculkan berbagai kecaman internasional yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kemanusiaan karena menghalangi pengiriman bantuan darurat kepada penduduk Gaza yang sangat membutuhkan.

Insiden ini kembali menyoroti dinamika kompleks di kawasan Jalur Gaza dan upaya solidaritas global yang kerap menghadapi tantangan serius dari kontrol ketat Israel di wilayah tersebut. Keberadaan Global Sumud Flotilla terus menjadi simbol perjuangan kemanusiaan di tengah konflik yang berlarut-larut dan blokade yang menekan kehidupan warga sipil Gaza.

Source: www.suara.com

Exit mobile version