Sebut Konflik Israel-Hamas Reda, Trump Klaim Jadi Ahli Selesaikan Perang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik antara Israel dan Hamas telah mereda seiring kesepakatan gencatan senjata yang dinilainya akan bertahan lama. Pernyataan ini disampaikan saat Trump dalam perjalanan menuju Israel untuk menyaksikan pembebasan sandera yang selama ini ditahan di Gaza. Menurut Trump, gencatan senjata tersebut menjadi momen penting dalam upaya mengakhiri perang yang selama ini memicu kehancuran besar-besaran di wilayah tersebut.

Trump menjelaskan bahwa gencatan senjata dicapai dengan peran aktif dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Qatar yang berfungsi sebagai mediator utama dalam negosiasi. Ia optimistis bahwa situasi damai ini akan terus berlanjut dan menyebut bahwa kondisi Ghaza yang saat ini seperti “lokasi kehancuran” akan segera ada perubahan signifikan. “Semua orang senang, dan saya pikir ini akan tetap seperti itu,” jelas Trump kepada awak media seperti dikutip dari BBC.

Trump Klaim Ahli Penyelesaian Perang

Dalam kesempatan tersebut, Trump juga menegaskan kemampuannya dalam menangani dan menyelesaikan konflik bersenjata. Ia mengaku memiliki keahlian dalam menciptakan perdamaian dan mengakhiri peperangan. “Saya ahli dalam menyelesaikan perang. Saya ahli dalam menciptakan perdamaian,” ujar Trump. Hal ini disampaikan untuk membangun kepercayaan bahwa perdamaian di Gaza dapat dipertahankan jangka panjang.

Selain itu, Trump menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Gaza secara langsung guna melihat kondisi nyata pascaperang. “Saya ingin menapakkan kaki di sana, setidaknya,” katanya, menandai komitmennya terhadap proses rehabilitasi dan pemulihan wilayah yang terdampak.

Pembentukan Board of Peace untuk Gaza

Trump juga mengumumkan rencana pembentukan sebuah badan pengawas bernama Board of Peace yang akan mengawasi proses rekonstruksi dan stabilisasi di Gaza. Badan ini diharapkan dapat memastikan jalannya perdamaian serta memudahkan pemulihan sosial ekonomi di wilayah tersebut. Menurut Trump, pembentukan Board of Peace akan dilakukan dalam waktu sangat singkat, mengindikasikan keseriusan upaya pengelolaan pascakonflik.

Ia menambahkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, Gaza bisa berubah menjadi “keajaiban” jika stabilitas dan rekonstruksi berjalan dengan baik. Langkah ini diharapkan mampu membawa normalisasi kehidupan masyarakat Gaza setelah mengalami dampak perang yang berat.

Waktu Batas Pembebasan Sandera dan Agenda Internasional

Menurut jadwal yang diinformasikan, batas waktu bagi Hamas untuk membebaskan seluruh sandera yang masih ditahan adalah hingga tengah hari waktu setempat (sekitar pukul 10.00 BST). Trump juga dijadwalkan melanjutkan perjalanannya ke Mesir pada hari Senin, 13 Oktober 2025, untuk menghadiri konferensi internasional yang difokuskan pada penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

Konferensi internasional ini menjadi langkah lanjutan yang melibatkan banyak pihak, termasuk negara-negara terkait dan organisasi internasional, dalam mencari solusi jangka panjang atas konflik yang sudah lama berlangsung. Peranan AS di bawah kepemimpinan Trump tampak strategis dalam mendorong partisipasi global untuk menciptakan suasana stabil.

Pandangan Para Pihak Terkait

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendapat pujian dari Trump atas perannya dalam mendukung gencatan senjata dan membebaskan sandera. Selain itu, Qatar juga diakui sebagai mediator penting yang membantu menjembatani negosiasi antara Israel dan Hamas hingga tercapai kesepakatan.

Meski kondisinya masih rapuh, sikap optimis Trump dan langkah konkret yang diambil para pemimpin regional menunjukkan harapan baru bagi perdamaian di Gaza yang selama ini menjadi pusat konflik sengit.


Dengan perkembangan terbaru ini, perhatian dunia kini tertuju pada implementasi gencatan senjata dan efektivitas Board of Peace dalam memastikan proses perdamaian dan rekonstruksi berjalan sesuai rencana. Sekaligus menjadi tolok ukur kemampuan Donald Trump dalam peranannya sebagai mediator dalam konflik internasional yang kompleks seperti ini.

Source: www.beritasatu.com

Exit mobile version