Varian virus Influenza A H3N2 yang dikenal dengan istilah Super Flu kini menjadi sorotan dunia kesehatan. Varian ini memicu lonjakan kasus flu secara signifikan di berbagai negara, termasuk Inggris, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.
Super Flu disebut demikian karena memiliki mutasi yang cukup banyak pada protein permukaannya. Perubahan ini membuat sistem imun dan vaksin flu standar menjadi lebih sulit mengenali dan melawan virus tersebut. Kondisi ini menyebabkan penyebaran penyakit yang lebih luas dan gejala lebih berat dari flu biasa.
Menurut para ahli dari Northeastern University, pola penyebaran virus di beberapa negara menjadi indikator awal bahwa varian ini berpotensi menyebar secara global. Hal ini membuat kewaspadaan terhadap Super Flu menjadi sangat penting untuk mencegah epidemi meluas.
Mutasi pada virus membuat efektivitas vaksin flu menurun. Data awal menunjukkan efektivitas vaksin pada orang dewasa turun hingga sekitar 32%. Meski demikian, vaksin tetap menjadi alat penting, terutama karena masih memberikan perlindungan efektif pada anak-anak dan mampu mengurangi keparahan penyakit.
Gejala Super Flu umumnya mirip dengan flu biasa, namun terasa lebih berat dan melelahkan. Beberapa gejala yang paling sering dilaporkan meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala hebat, nyeri otot di seluruh tubuh, kelelahan ekstrem, serta demam tinggi disertai keringat dingin atau menggigil.
Musim flu 2024–2025 ini tercatat sebagai salah satu yang paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan sekitar 4,6 juta kasus flu dengan 49.000 pasien harus dirawat di rumah sakit karena komplikasi akibat Super Flu.
Untuk menghadapi ancaman Super Flu, vaksinasi tetap dianjurkan oleh para ahli meskipun efektivitasnya menurun. Tujuan utama vaksin adalah mengurangi keparahan gejala dan risiko rawat inap. Vaksin membantu sistem imun melawan virus secara lebih efektif meski virus mengalami mutasi.
Pengobatan dengan antiviral seperti Oseltamivir (Tamiflu) juga dianggap efektif, terutama jika diberikan dalam 24-48 jam setelah gejala muncul. Obat tersebut dapat memperpendek durasi penyakit dan mengurangi intensitas gejala yang dirasakan pasien.
Tindakan pencegahan lain yang direkomendasikan meliputi menjaga daya tahan tubuh, mengenakan masker saat merasa kurang sehat, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit. Langkah-langkah ini penting untuk mengurangi penyebaran virus dan melindungi kelompok rentan di masyarakat.
Super Flu bukan alasan untuk panik, melainkan sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan dan persiapan. Penyebaran yang cepat mengharuskan setiap individu berperan aktif dalam pencegahan agar dampak dari gelombang flu ini bisa diminimalkan secara optimal.
Baca selengkapnya di: www.suara.com