Dengue Tetap Jadi Penyakit Utama di Indonesia, Waspadai Gejala dan Cara Pencegahannya

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dengue atau demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi penyakit menular dominan di Indonesia sejak tahun 1968 hingga 2024. Penyakit ini terus muncul berulang kali di berbagai wilayah Indonesia, menandakan tantangan yang belum terselesaikan dalam pengendalian penularannya.

Transmisi dengue sangat dipengaruhi oleh pola iklim yang berubah-ubah, terutama fenomena El Nino dan La Nina. Perubahan curah hujan dan suhu yang dipicu oleh fenomena tersebut meningkatkan risiko penyebaran nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penyakit.

Persebaran Dengue di Indonesia

Indonesia memiliki lebih dari 500 kabupaten dan kota yang tersebar di seluruh Nusantara. Sekitar 92% wilayah tersebut diklasifikasikan sebagai daerah endemis dengue. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 161.752 kasus dengue dengan lebih dari 600 orang meninggal dunia. Kasus kematian ini tersebar di 224 daerah, sekitar 43% dari seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.

Beberapa daerah dengan tingkat kematian case fatality rate (CFR) tertinggi berada di Serang Barat, Donggala, Solok Selatan, Kota Salatiga, dan Sumba Timur. Daerah-daerah ini menjadi fokus utama intervensi oleh pemerintah untuk menekan angka kematian akibat dengue.

Pengendalian Dengue: Pendekatan Multi-Komponen

Kementerian Kesehatan menjalankan program pengendalian dengue melalui tiga jalur utama:

  1. Pengendalian Lingkungan
    Melakukan modifikasi dan manipulasi lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biak nyamuk, seperti pengelolaan air dan pembangunan infrastruktur sanitasi.

  2. Pengendalian Vektor
    Melibatkan pendekatan kimiawi dan pemanfaatan teknologi pengendalian nyamuk untuk menekan populasi vektor di masyarakat.

  3. Pengendalian Manusia
    Meliputi edukasi kesehatan, deteksi dini kasus dengue, dan tata laksana klinis yang tepat untuk pasien.

Tantangan dalam Pelaksanaan Program

Pengendalian dengue di Indonesia menghadapi berbagai kendala, terutama karena wilayah yang sangat luas dan heterogen. Kapasitas fasilitas kesehatan dan sistem surveilans masih perlu diperkuat agar deteksi dini dan respons kasus dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi.

Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa sistem pemantauan real-time harus ditingkatkan untuk mendukung respons yang efektif. Selain itu, keterlibatan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat menjadi aspek penting yang harus terus digalakkan.

Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029

Menjawab tantangan tersebut, pemerintah sedang menyusun Rencana Aksi Nasional untuk periode 2026–2029. Rencana ini berorientasi pada target global nol kematian akibat dengue pada tahun 2030. Strategi yang diterapkan meliputi:

  1. Penguatan kapasitas deteksi dini kasus dan surveilans terintegrasi
  2. Peningkatan tata laksana klinis bagi pasien dengue
  3. Pengendalian faktor risiko termasuk kampanye vaksinasi
  4. Pengembangan sistem informasi kesehatan yang terhubung secara nasional

Dokter Murti Utami, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, menegaskan bahwa meskipun intervensi yang ada mampu menekan angka kasus di beberapa daerah, inovasi dan peningkatan integrasi terus diperlukan agar pengendalian dengue dapat berkelanjutan.

Dengan perhatian besar dari pemerintah dan masyarakat, pengendalian dengue di Indonesia membutuhkan sinergi yang kuat agar beban penyakit ini dapat dikurangi secara signifikan dalam jangka panjang.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button