Doomscrolling di media sosial kini menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan tanpa disadari, terutama saat seseorang terus menggulir layar untuk membaca berita negatif, konflik, atau kabar buruk lain. Kebiasaan ini tidak hanya menguras waktu, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental karena otak terus menerima rangsangan yang memicu stres dan kecemasan.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan sebagai salah satu pemicu gangguan kesehatan jiwa. Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, ia menyoroti bahwa banyak orang terjebak scrolling berjam-jam hingga sulit berhenti karena otak terus mencari sensasi dari konten yang dikonsumsi.
Doomscrolling dan efek “brain rot”
Istilah brain rot kerap dipakai untuk menggambarkan penurunan kemampuan berpikir, fokus, daya ingat, dan suasana hati akibat paparan konten digital yang berlebihan. Meski bukan istilah medis, fenomena ini semakin sering dibahas karena berkaitan erat dengan pola konsumsi media sosial sehari-hari yang makin intens.
Doomscrolling biasanya berawal dari rasa ingin tahu terhadap berita terkini. Namun, ketika seseorang terus mencari informasi negatif tanpa kontrol, kebiasaan itu bisa berubah menjadi pola yang sulit dihentikan dan berdampak pada kondisi psikologis.
Apa yang terjadi pada otak saat doomscrolling
Secara ilmiah, paparan berita negatif berulang dapat mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan respons ancaman, yaitu amigdala. Saat bagian ini terus terstimulasi, otak menjadi lebih waspada dan cenderung mencari konten serupa secara berulang.
Pada saat yang sama, kemampuan berpikir rasional bisa melemah karena otak lebih fokus pada sinyal bahaya daripada proses menilai informasi secara tenang. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah cemas, sulit rileks, dan semakin sulit menghentikan kebiasaan menggulir layar.
Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti bahwa konsumsi konten pendek yang terus-menerus dapat memicu lonjakan dopamin yang tidak sehat. Ia menyebut efek itu membuat emosi menjadi tidak stabil karena otak menerima rangsangan tanpa jeda yang cukup.
Dampak yang perlu diwaspadai
Mengutip Psychology Today, doomscrolling dapat memicu beberapa gangguan yang berhubungan dengan kesehatan mental dan kualitas hidup. Berikut dampak yang paling sering muncul:
- Meningkatkan stres dan kecemasan.
- Menurunkan kualitas tidur.
- Memicu kelelahan dan emosi tidak stabil.
- Mengurangi fokus dan produktivitas.
- Memperburuk kondisi mental yang sudah ada.
Dampak ini sering muncul secara perlahan karena banyak orang merasa sedang “hanya membaca berita”. Padahal, paparan informasi negatif yang terus berulang bisa membuat tubuh dan pikiran tetap siaga dalam waktu lama.
Temuan studi tentang konsumsi berita berlebihan
Sebuah studi yang dimuat dalam Health Communication menemukan 17 persen peserta dengan pola konsumsi berita bermasalah mengalami tingkat stres tinggi dan kesehatan yang menurun. Peneliti McLaughlin dan Nerurkar menjelaskan bahwa kebiasaan bingeing berita 24 jam membuat otak terus mencari informasi negatif dan membentuk siklus yang berbahaya.
Temuan itu memperkuat peringatan bahwa konsumsi informasi tidak selalu sehat jika dilakukan tanpa batas. Dalam konteks media sosial saat ini, risiko tersebut semakin besar karena konten negatif sering muncul silih berganti dalam format video pendek, headline sensasional, dan algoritma yang mendorong pengguna untuk terus bertahan di layar.
Tanda seseorang mulai terjebak doomscrolling
Kebiasaan ini sering tidak terasa karena dilakukan dalam momen singkat yang berulang. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi alarm awal.
- Sulit berhenti membuka media sosial meski tidak ada tujuan.
- Merasa gelisah saat tidak mengecek berita atau aplikasi.
- Sering tidur larut karena masih terus menggulir layar.
- Lebih cepat lelah, sulit fokus, dan mudah terdistraksi.
- Emosi menjadi naik turun setelah membaca banyak konten negatif.
Jika tanda-tanda ini muncul terus-menerus, kondisi tersebut bisa memengaruhi rutinitas harian, pekerjaan, dan hubungan sosial. Karena itu, kebiasaan digital perlu diatur agar tidak mengganggu kesehatan mental.
Cara mengurangi doomscrolling
Mengurangi doomscrolling tidak selalu berarti berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah pengaturan yang lebih sehat agar konsumsi informasi tetap terkontrol.
Berikut langkah yang bisa dilakukan:
- Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari.
- Aktifkan fitur screen time atau pembatas waktu aplikasi.
- Hindari akun yang sering menyebarkan konten negatif.
- Ganti waktu scrolling dengan olahraga, membaca, atau aktivitas lain.
- Susun pola konsumsi informasi yang lebih terarah dan sehat.
Budi Gunadi Sadikin juga menyarankan pemanfaatan fitur ponsel untuk mengontrol akses aplikasi. Ia menyebut pengguna bisa mengaktifkan App Time Limit, misalnya 30 menit sehari, serta menyembunyikan aplikasi agar tidak mudah dibuka berulang kali.
Mengelola informasi agar tidak menjadi beban mental
Di era digital, arus informasi berjalan sangat cepat dan tidak semuanya layak dikonsumsi terus-menerus. Pengguna perlu lebih selektif dalam menentukan kapan harus membaca berita, seberapa lama bertahan di media sosial, dan konten apa yang perlu dihindari demi menjaga ketenangan pikiran.
Kebiasaan kecil seperti memberi jeda sebelum membuka aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan membatasi paparan berita negatif dapat membantu menekan risiko doomscrolling. Dengan cara ini, media sosial tetap bisa menjadi sumber informasi tanpa berubah menjadi pemicu stres yang menggerus kesehatan mental.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com




