
Pendidikan di sekolah kini makin dipahami sebagai ruang penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Di tengah tantangan kesehatan fisik, mental, dan sosial yang dihadapi anak serta remaja, banyak sekolah di Indonesia mulai bergerak dari sekadar memberi pengetahuan menjadi membangun aksi nyata yang bisa dijalankan setiap hari.
Perubahan itu terlihat dari meningkatnya inisiatif yang menyentuh kebiasaan sederhana, seperti minum air putih, mengelola sampah, menjaga kesehatan mental, dan membiasakan gaya hidup aktif. Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga wadah untuk menanamkan perilaku sehat yang dapat bertahan hingga dewasa.
Partisipasi Indonesia melonjak
Semangat tersebut tercermin dalam ajang AIA Healthiest Schools 2026. Indonesia mencatat partisipasi tertinggi dibandingkan negara peserta lain dengan 2.896 pendaftar dan 359 proyek sekolah sehat yang dikumpulkan.
Angka itu menunjukkan semakin banyak sekolah yang melihat kesehatan sebagai bagian dari budaya belajar. Fokusnya tidak hanya pada tubuh yang sehat, tetapi juga lingkungan sekolah yang mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial siswa secara berkelanjutan.
Presiden Direktur AIA, Harsya Prasetyo, menegaskan bahwa sekolah punya posisi strategis dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Ia menyebut AIA ingin berkontribusi terhadap kualitas generasi bangsa melalui modul pembelajaran yang bisa diakses gratis, fleksibel, dan menyenangkan untuk siswa di Asia Pasifik termasuk Indonesia, lalu dilanjutkan dengan Kompetisi Proyek Sekolah Sehat.
Pernyataan itu menekankan bahwa membangun budaya hidup sehat tidak cukup lewat kampanye singkat. Diperlukan proses belajar yang berjalan terus-menerus dan melibatkan guru, siswa, orang tua, hingga komunitas sekitar.
Langkah kecil yang memberi hasil nyata
Salah satu contoh datang dari SDN Cipedak 01 Jakarta yang meraih penghargaan nasional untuk kategori sekolah dasar. Sekolah ini memulai dari persoalan sederhana, yakni rendahnya konsumsi air putih pada siswa, lalu mengembangkan program GEMARIPAH SEGAR atau Gerakan Minum Air Putih Aah Segar.
Program tersebut disusun dengan cara yang dekat dengan keseharian siswa. Sekolah menerapkan jadwal minum bersama, kartu pemantauan hidrasi, lomba poster edukasi, dan pembentukan Duta Hidrasi Cilik untuk memperkuat kebiasaan sehat di lingkungan sekolah.
Hasilnya terlihat dalam waktu singkat. Dalam satu minggu, jumlah siswa yang memenuhi kebutuhan air harian meningkat tajam, sementara temuan risiko dehidrasi yang sebelumnya masih ada berhasil ditekan hingga nol persen.
Keberhasilan itu menunjukkan bahwa perubahan perilaku bisa tumbuh ketika sekolah mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan kolektif. Program yang sederhana pun dapat efektif jika dijalankan konsisten dan melibatkan warga sekolah secara aktif.
Lingkungan sekolah jadi ruang belajar yang lebih luas
Pendekatan berbeda dilakukan SMP IL Kapten Fatubaa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sekolah yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste itu mengangkat isu lingkungan melalui Huka Upcycling Project atau HUP.
Program tersebut mengolah limbah kulit pisang menjadi es krim, pupuk kompos, dan pupuk cair organik. Melalui kegiatan itu, siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga mengenal kewirausahaan dan ekonomi sirkular sejak usia sekolah.
Daya tarik program ini juga terlihat dari keterlibatan siswa Timor-Leste melalui seminar kolaboratif dan pengujian produk bersama. Dampaknya meluas ke petani lokal, masyarakat sekitar, dan ratusan siswa lintas negara yang ikut merasakan manfaat dari kegiatan tersebut.
Contoh dari SDN Cipedak 01 dan SMP IL Kapten Fatubaa memperlihatkan bahwa budaya hidup sehat dapat diwujudkan dalam bentuk yang berbeda. Ada sekolah yang menekankan kesehatan fisik lewat kebiasaan minum air putih, dan ada pula yang menggabungkan kesehatan lingkungan, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat.
Gerakan yang tumbuh dari kebutuhan nyata
Chief Marketing Officer AIA, Kathryn Parapak, menilai proyek sekolah sehat tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menurut dia, yang terpenting adalah memahami tantangan nyata di lingkungan sekolah, menghadirkan solusi yang relevan, dan memastikan dampaknya bisa dirasakan serta diukur secara berkelanjutan.
Pandangan itu sejalan dengan pola perubahan yang muncul di banyak sekolah. Ketika guru, siswa, orang tua, dan komunitas bergerak bersama, perubahan positif cenderung lebih kuat dan bertahan lebih lama.
Karena itu, keberhasilan program kesehatan di sekolah tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau rumitnya kegiatan. Ukuran utamanya ada pada kemampuan program menciptakan kebiasaan sehat yang konsisten dan dapat dijalankan bersama.
Di tengah kebutuhan untuk menjaga kualitas kesehatan generasi muda, sekolah memiliki peluang besar menjadi agen perubahan. Saat kebiasaan hidup sehat tumbuh melalui aksi sehari-hari, sekolah ikut membentuk siswa yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga lebih peduli pada kesehatan diri dan lingkungan sekitarnya.
Source: www.suara.com








