Penyakit pes pernah tercatat sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia dan Indonesia pernah mengalami wabah ini, terutama di Pulau Jawa pada awal abad ke-20. Hingga kini, penyakit pes tetap perlu diwaspadai karena bisa muncul lagi jika bakteri penyebabnya masih bertahan di lingkungan yang mendukung penularan.
Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa tidak adanya kasus manusia dalam beberapa tahun terakhir tidak selalu berarti Indonesia bebas dari pes. Peneliti BRIN, Ristiyanto, menyebut ada kondisi silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi lama tetapi tetap berpotensi muncul kembali.
Apa yang menyebabkan penyakit pes
Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini menyebar melalui pinjal atau kutu yang hidup pada binatang pengerat seperti tikus, kelinci, dan tupai.
Penularan juga bisa terjadi dari manusia ke manusia pada jenis tertentu, terutama lewat droplet dari penderita yang mengalami infeksi saluran napas. Karena itu, pes tidak hanya terkait hewan pengerat, tetapi juga dapat menyebar lebih luas jika tidak dikenali sejak awal.
Jenis penularan yang perlu dikenali
- Bubonic plague, yang muncul setelah gigitan pinjal pada hewan pengerat.
- Septicemic plague, saat bakteri masuk langsung ke aliran darah dan berkembang biak di sana.
- Pneumonic plague, yang menyebar lewat udara melalui batuk atau bersin dari penderita yang terinfeksi.
Masing-masing jenis memiliki karakter penularan dan tingkat risiko yang berbeda. Namun, semuanya membutuhkan penanganan cepat karena infeksi dapat berkembang dengan cepat.
Gejala penyakit pes pada tubuh
Gejala pes bisa berbeda tergantung jenis infeksinya. Pada bubonic plague, tanda yang paling sering muncul adalah pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak, selangkangan, atau leher yang terasa lunak dan nyeri.
Keluhan lain pada jenis ini dapat berupa demam tinggi mendadak, menggigil, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, lemas, hingga kejang. Ukuran benjolan di kelenjar getah bening juga dapat bervariasi, mulai dari setengah inci hingga empat inci.
Pada septicemic plague, gejala utama biasanya mencakup demam tinggi, menggigil, lemas, sakit perut, diare, mual, muntah, pendarahan, syok, dan kematian jaringan. Jenis ini menyerang aliran darah dan dapat memburuk dengan cepat.
Sementara itu, pneumonic plague menyerang paru-paru dan bisa muncul dalam beberapa jam setelah paparan. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk berdarah atau berlendir, nyeri dada, sesak napas, sakit perut, muntah, sakit kepala, dan kelemahan tubuh.
Mengapa penyakit pes perlu diwaspadai
BRIN menyoroti bahwa bakteri penyebab pes, bersama vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia. Kondisi lingkungan yang berubah juga dapat meningkatkan risiko munculnya kembali penyakit ini.
Berangkat dari temuan itu, pes tidak bisa dianggap selesai hanya karena tidak ada kasus manusia yang terlapor dalam waktu lama. Wabah ini tetap menyimpan potensi bahaya, terutama jika penularan tidak terdeteksi sejak awal.
Cara pengobatan penyakit pes
Pes harus segera diobati setelah diagnosis ditegakkan karena infeksinya berkembang cepat. Pengobatan utama dilakukan dengan antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab sekaligus mencegah penyebaran infeksi.
Pemberian antibiotik biasanya berlangsung selama beberapa minggu sampai gejala mulai membaik. Dalam kasus tertentu, penderita juga memerlukan cairan infus, oksigen, dan alat bantu pernapasan sesuai kondisi klinis.
Jika tidak ditangani dengan tepat, pes dapat meningkatkan risiko kematian dalam waktu singkat, bahkan terutama dalam 24 jam setelah gejala mulai muncul. Karena itu, mengenali tanda awal dan mencari pertolongan medis secepat mungkin menjadi langkah penting untuk menekan dampak penyakit ini.
