Ikan sapu-sapu kerap menarik perhatian karena mudah ditemukan dan harganya murah. Namun, ikan yang hidup di dasar perairan kotor ini juga memunculkan kekhawatiran karena berpotensi membawa logam berat, bakteri, dan parasit.
Kekhawatiran itu makin besar ketika ikan sapu-sapu disebut ikut diolah menjadi berbagai makanan, termasuk somay. Meski ada anggapan soal manfaatnya, informasi ilmiah yang kuat tentang keamanan dan nilai gizinya masih terbatas.
Mengapa ikan sapu-sapu jadi sorotan
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang cepat berkembang biak dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Kebiasaannya berada di dasar sungai atau selokan yang tercemar membuat ikan ini lebih rentan terpapar zat berbahaya.
Kondisi habitat tersebut menjadi alasan utama mengapa konsumsi ikan sapu-sapu perlu diwaspadai. Risiko kesehatan bukan hanya datang dari ikan itu sendiri, tetapi juga dari lingkungan tempat ikan hidup.
1. Paparan logam berat
Ikan sapu-sapu dapat menyerap polutan dari perairan yang tercemar limbah rumah tangga dan industri. Lingkungan seperti ini berpotensi mengandung merkuri, timbal, dan kadmium.
Jika masuk ke tubuh dalam jumlah tertentu, logam berat dapat menumpuk dan mengganggu sistem saraf, ginjal, serta perkembangan tubuh. Risiko ini menjadi perhatian karena paparan berulang bisa berlangsung tanpa disadari.
2. Kontaminasi bakteri
Habitat yang kotor meningkatkan peluang ikan sapu-sapu terpapar bakteri seperti E. coli dan Salmonella. Jika pengolahan tidak higienis atau ikan tidak dimasak matang, bakteri dapat tetap hidup.
Kondisi ini bisa memicu gangguan pencernaan seperti diare dan muntah. Risiko kontaminasi semacam ini menjadi lebih tinggi ketika proses penyajian dilakukan tanpa standar kebersihan yang memadai.
3. Adanya parasit
Perairan tercemar juga dapat menjadi tempat parasit bertahan pada tubuh ikan. Parasit berpotensi tetap aktif jika proses memasak tidak mencapai suhu yang cukup.
Infeksi parasit dapat menimbulkan nyeri perut dan mengganggu penyerapan nutrisi. Dalam jangka tertentu, kondisi ini dapat membuat tubuh tidak bekerja optimal.
4. Kandungan gizi yang belum jelas
Informasi ilmiah mengenai kandungan nutrisi ikan sapu-sapu masih terbatas. Data tentang kadar protein, lemak, dan unsur gizi lainnya belum banyak tersedia secara pasti.
Dibandingkan ikan konsumsi yang umum seperti lele atau nila, kepastian soal nilai gizi ikan sapu-sapu masih lebih lemah. Situasi ini membuat penilaian manfaat konsumsinya belum bisa dilakukan secara meyakinkan.
5. Reaksi alergi
Pada sebagian orang, konsumsi ikan dapat memicu reaksi alergi. Karena ikan sapu-sapu bukan bahan pangan yang umum dikonsumsi, potensi reaksinya juga belum banyak terdokumentasi.
Gejala yang mungkin muncul antara lain gatal, ruam, atau gangguan pernapasan. Risiko ini perlu diperhatikan, terutama pada orang yang memiliki riwayat alergi makanan laut atau ikan.
6. Risiko luka saat diolah
Ikan sapu-sapu memiliki kulit keras dan tekstur tubuh yang kasar. Ciri fisik ini dapat menambah risiko luka ketika ikan dibersihkan atau diproses.
Bahaya juga bisa muncul jika ada bagian tajam atau serpihan keras yang tidak terolah dengan baik. Karena itu, penanganannya membutuhkan kehati-hatian lebih dibandingkan ikan konsumsi pada umumnya.
7. Akumulasi zat berbahaya jangka panjang
Konsumsi ikan dari perairan tercemar secara berulang dapat meningkatkan penumpukan zat berbahaya dalam tubuh. Proses ini sering tidak langsung terasa, tetapi dapat menjadi masalah dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan kronis. Karena itu, aspek keamanan pangan dari ikan sapu-sapu tetap menjadi perhatian utama, terutama bila sumber air asalnya tidak jelas.
Secara umum, ikan sapu-sapu bukan hanya dipandang sebagai ikan invasif yang mengganggu ekosistem, tetapi juga sebagai bahan pangan yang perlu kehati-hatian ekstra. Risiko paparan logam berat, bakteri, parasit, hingga masalah kebersihan pengolahan membuat konsumsi ikan ini sebaiknya dipertimbangkan secara cermat.
Source: www.suara.com