Ikan Sapu-Sapu Aman Dimakan?, Risiko Tersembunyi dari Dasar Perairan Tercemar

Ikan sapu-sapu belakangan ikut dibicarakan karena sebagian warga mulai mengolahnya menjadi makanan. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah ikan ini aman dikonsumsi, terutama karena hewan tersebut hidup di perairan yang tidak selalu bersih.

Secara umum, ikan sapu-sapu tidak beracun secara alami. Namun, risiko utamanya justru datang dari lingkungan tempat hidupnya yang kerap dekat dengan sedimen, limbah rumah tangga, maupun limbah industri.

Mengapa ikan sapu-sapu dinilai berisiko

Ikan sapu-sapu hidup di dasar perairan dan memakan alga, detritus, serta sisa organik. Kebiasaan ini membuatnya sering bersentuhan langsung dengan sedimen yang bisa menjadi tempat berkumpulnya zat berbahaya.

Karena itu, ikan ini berpotensi menyerap dan menyimpan polutan tanpa menunjukkan tanda fisik yang jelas. Kondisi tubuhnya bisa tampak normal meski sudah terpapar zat toksik dari lingkungan.

Penelitian dalam jurnal Aquatic Toxicology menunjukkan adanya perubahan biomarker pada ikan sapu-sapu yang terpapar kadmium. Temuan itu memperlihatkan bahwa zat berbahaya bukan hanya berada di air, tetapi juga masuk ke sistem biologis ikan.

Logam berat jadi perhatian utama

Kadmium, timbal, dan merkuri termasuk logam berat yang menjadi sorotan dalam konsumsi ikan dari perairan tercemar. WHO menyebut ikan sapu-sapu dapat mengandung logam berat tersebut dan masuk ke tubuh manusia melalui makanan jika ikan berasal dari lingkungan yang tidak sehat.

Paparan logam berat tidak selalu langsung terasa. Dalam banyak kasus, efeknya muncul setelah konsumsi berulang dalam jangka panjang karena zat berbahaya dapat menumpuk sedikit demi sedikit di dalam tubuh.

Kadmium diketahui dapat memicu gangguan ginjal, kerusakan jaringan tubuh, dan gangguan metabolisme. Sementara itu, timbal dan merkuri juga dapat berdampak pada sistem saraf serta organ vital.

Lingkungan hidup menentukan tingkat aman

Ikan sapu-sapu banyak ditemukan di sungai perkotaan, saluran air, dan perairan yang terpapar limbah. Situasi ini membuat potensi kontaminasi bakteri dan mikroorganisme patogen ikut meningkat.

Ahli keanekaragaman hayati Amirrudin Ahmad, seperti dikutip The Straits Times, menyoroti risiko konsumsi ikan sapu-sapu dari habitat yang tidak sehat. Ia mengatakan, “Meskipun kandungan timbalnya masih dalam batas aman, ini bukan alasan untuk mengonsumsinya jika menyangkut keselamatan publik.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa angka yang masih dianggap aman tidak otomatis membuat ikan tersebut layak dikonsumsi bebas. Sebagai ikan dasar, sapu-sapu memang punya peluang lebih besar bersentuhan dengan sedimen yang mengandung polutan.

Apakah aman jika dimasak?

Proses memasak dapat membantu mengurangi sebagian risiko biologis dari bakteri atau mikroorganisme. Namun, pemanasan tidak bisa menghilangkan logam berat yang sudah terlanjur menumpuk di jaringan tubuh ikan.

Itu sebabnya, masalah utama pada ikan sapu-sapu bukan sekadar cara memasaknya. Faktor penentu justru ada pada kualitas perairan tempat ikan tersebut hidup dan sejauh mana paparan polutannya terjadi.

Dari sisi konsumsi, karakter ikan ini juga kurang menguntungkan. Kulitnya keras dan dagingnya relatif tipis, sehingga manfaat yang didapat tidak selalu sebanding dengan potensi risikonya.

Pada akhirnya, ikan sapu-sapu tidak dapat disebut aman secara umum untuk dikonsumsi, terutama jika berasal dari perairan tercemar. Memilih ikan dari sumber yang jelas dan perairan yang terjaga kualitasnya tetap menjadi langkah yang lebih aman untuk konsumsi sehari-hari.

Source: www.beritasatu.com

Terkait