Kebiasaan minum alkohol kerap dianggap sebagai pilihan gaya hidup, tetapi dampaknya jauh melampaui efek sesaat. Sejumlah temuan riset menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari kanker hingga gangguan hati, jantung, dan metabolisme.
Peringatan ini juga sejalan dengan pandangan lembaga kesehatan global. CDC menyebut minum alkohol dalam jumlah sedang tetap membawa risiko kesehatan, sementara WHO menegaskan bahwa tidak ada jumlah alkohol yang benar-benar aman.
20 penyakit yang dikaitkan dengan konsumsi alkohol
Sebuah studi yang menganalisis 843 studi kohort dan studi kasus-kontrol hingga 2023 meninjau ulang hubungan antara konsumsi alkohol dan 20 hasil kesehatan. Penelitian itu mencakup 10 jenis kanker, empat penyakit kardiovaskular, dan enam kondisi lain yang sering muncul dalam pembahasan risiko alkohol.
Daftar 20 kondisi tersebut meliputi kanker payudara, kolorektal, esofagus, laring, hati, bibir dan rongga mulut, faring, pankreas, prostat, dan lambung. Empat penyakit kardiovaskular yang ikut dikaji adalah fibrilasi dan flutter atrium, stroke iskemik, stroke hemoragik, dan penyakit jantung iskemik.
Enam kondisi lainnya adalah penyakit Alzheimer dan demensia lainnya, sirosis dan penyakit hati kronis lainnya, infeksi saluran pernapasan bawah, pankreatitis, tuberkulosis, dan diabetes tipe 2. Hasil kajian ini membantu memperlihatkan bahwa risiko alkohol tidak hanya berkaitan dengan satu organ, melainkan banyak sistem tubuh sekaligus.
Risiko yang paling menonjol
Penelitian tersebut menemukan bahwa alkohol meningkatkan risiko lima hasil kesehatan sebesar 15–50 persen. Kelompok ini mencakup kanker bibir dan rongga mulut, kanker laring, sirosis dan penyakit hati kronis lainnya, pankreatitis, serta kanker usus besar dan rektum.
Risiko terbesar tercatat pada kanker faring, dengan peningkatan risiko 105 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan konsumsi alkohol dalam jumlah apa pun dapat memberi dampak signifikan pada area tenggorokan dan saluran pencernaan bagian atas.
Di sisi lain, ada sembilan hasil kesehatan yang menunjukkan kenaikan risiko lebih kecil, yakni sekitar 0–15 persen, atau pada beberapa kasus penurunan risiko 0–13 persen. Kelompok ini mencakup kanker esofagus, kanker payudara, penyakit Alzheimer dan demensia lainnya, fibrilasi dan flutter atrium, diabetes tipe 2, kanker hati, kanker pankreas, infeksi saluran pernapasan bawah, dan kanker prostat.
Kaitan alkohol dengan kanker dan penyakit kronis
Salah satu poin terpenting dari temuan itu adalah hubungan alkohol dengan kanker utama. Studi tersebut menyebut bahwa konsumsi alkohol apa pun dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, kanker payudara, dan kanker pankreas, selain beberapa jenis kanker lain yang ikut dianalisis.
Ahli bedah kolorektal bersertifikat di MemorialCare Todd Cancer Institute, Ketan Thanki, MD, menilai temuan itu tidak mengejutkan. Ia menyebut alkohol bersifat toksik bagi tubuh, terutama saat dikonsumsi dalam jumlah besar, karena memengaruhi banyak mekanisme biologis sekaligus.
Untuk penyakit hati, risikonya juga menonjol. Alkohol dikaitkan dengan sirosis dan penyakit hati kronis lainnya, yang menunjukkan bahwa organ hati menjadi salah satu target paling rentan terhadap kebiasaan minum jangka panjang.
Hasil yang masih lemah atau belum konsisten
Tidak semua hubungan yang diteliti menunjukkan hasil yang kuat. Peneliti mencatat ada lima kondisi yang bukti kaitannya dengan alkohol masih lemah atau tidak konsisten.
Lima kondisi itu adalah kanker lambung, stroke hemoragik, stroke iskemik, tuberkulosis, dan penyakit jantung iskemik. Dengan kata lain, data pada area ini belum cukup seragam untuk menarik kesimpulan yang sekuat penyakit lain dalam studi tersebut.
Kajian itu juga menemukan pola yang menarik pada diabetes tipe 2. Risiko penyakit ini tampak menurun pada konsumsi alkohol rendah, tetapi meningkat ketika konsumsi menjadi lebih tinggi.
Mengapa temuan ini penting untuk publik
Para peneliti menilai hasil studi ini memberi gambaran yang lebih jelas tentang risiko kesehatan yang terkait dengan alkohol. Informasi tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih sadar soal konsumsi minuman beralkohol.
Matt Glowiak, PhD, konselor berlisensi dan kepala spesialis kecanduan di Recovered, menegaskan bahwa pantang minum adalah pilihan yang paling aman. Ia juga mengingatkan bahwa siapa pun yang memilih minum perlu memahami implikasi kesehatannya secara utuh, bukan hanya dari peringatan pada label minuman.
Bagi pembaca yang ingin menilai ulang kebiasaan minum, poin terpenting dari temuan ini cukup jelas: alkohol tidak hanya berkaitan dengan satu penyakit, tetapi dengan spektrum gangguan yang luas, termasuk kanker, penyakit hati, gangguan jantung, dan masalah metabolik yang dapat berkembang secara bertahap.
Source: lifestyle.bisnis.com






