Ebola kembali menyita perhatian dunia karena wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dipicu strain Bundibugyo ebolavirus yang belum memiliki vaksin resmi. Kondisi ini membuat WHO menetapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat hanya dua hari setelah wabah diumumkan, saat ratusan kasus infeksi sudah terdeteksi.
Situasi di lapangan juga makin rumit karena konflik di DRC masih berlangsung dan mobilitas penduduk tetap tinggi. WHO menilai penyebaran wabah bergerak lebih cepat daripada kemampuan respons yang tersedia, sehingga pengembangan vaksin baru dipercepat secara signifikan.
Mengapa vaksin yang sudah ada belum cukup
Selama ini dunia memang sudah memiliki vaksin untuk Ebola Zaire, strain yang memicu sebagian besar wabah besar di Afrika Barat dan Afrika Tengah. Dua vaksin yang tersedia adalah Ervebo dari Merck dan kombinasi dua dosis Zabdeno serta Mvabea dari Johnson & Johnson.
Namun, vaksin tersebut tidak dirancang untuk melawan Bundibugyo ebolavirus. Para ahli menegaskan vaksin untuk satu strain Ebola tidak bisa langsung dipakai pada strain lain tanpa pengujian dan persetujuan resmi dari WHO.
Tingkat kematian Bundibugyo ebolavirus disebut berada di kisaran 30% hingga 50%. Meski lebih rendah dibanding Ebola Zaire yang mencapai sekitar 50% hingga 70%, kurangnya wabah besar pada strain ini membuat riset vaksinnya tidak berkembang secepat strain lain.
Tiga kandidat vaksin yang kini dikejar
Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menyebut ada tiga kandidat vaksin utama yang sedang dievaluasi untuk kemungkinan uji coba darurat. Tiga nama yang paling disorot adalah vaksin rVSV Bundibugyo dari IAVI, ChAdOx1 Bundibugyo dari Universitas Oxford, dan vaksin mRNA dari Moderna.
Ketiganya memakai pendekatan berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Semua kandidat ini dirancang untuk melatih sistem kekebalan tubuh agar mengenali glikoprotein Bundibugyo di permukaan virus.
Kandidat paling menjanjikan dari IAVI
Vaksin rVSV Bundibugyo dari International AIDS Vaccine Initiative (IAVI) menjadi kandidat yang paling banyak mendapat perhatian. Proyek ini memperoleh pendanaan US$ 3,2 juta dan memakai platform yang serupa dengan vaksin Ebola strain Zaire yang sebelumnya sukses.
Dalam penelitian pada monyet, vaksin eksperimental ini disebut mampu memberi perlindungan hampir 100% dan melatih sistem imun dengan cepat. WHO bahkan menilai kandidat ini sebagai yang paling menjanjikan saat ini, meski masih perlu menyelesaikan tahapan pengembangan sebelum uji klinis efektivitas.
Berdasarkan evaluasi para ahli WHO, vaksin tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sembilan bulan sebelum siap diuji dalam studi klinis pencegahan. Jika proses berjalan lancar, uji klinis bisa dimulai pada awal 2027.
Oxford berpeluang masuk uji klinis lebih cepat
Kandidat kedua berasal dari kerja sama Universitas Oxford dan Serum Institute of India dengan platform ChAdOx1. Teknologi ini sebelumnya dipakai dalam pengembangan vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca dan dinilai lebih cepat dikembangkan karena memiliki data keamanan yang kuat.
CEPI baru-baru ini mengalokasikan tambahan dana sebesar US$ 8,6 juta untuk mempercepat produksi dosis uji. Estimasi terbaru menyebut kandidat vaksin Oxford berpotensi masuk tahap uji klinis hanya dalam waktu dua hingga tiga bulan.
Bagi banyak pakar, kecepatan ini membuat vaksin Oxford dipandang sebagai salah satu harapan penting untuk membantu menahan wabah yang sedang berlangsung.
Moderna masih di tahap awal, tapi dinilai penting untuk jangka panjang
Moderna juga ikut mengembangkan vaksin berbasis mRNA khusus untuk Bundibugyo ebolavirus bersama CEPI. Teknologi mRNA menawarkan fleksibilitas tinggi karena desain vaksinnya bisa diubah lebih cepat dibanding vaksin tradisional.
Meski begitu, kandidat Moderna masih berada pada fase praklinis dan belum punya jadwal pasti untuk pengujian pada manusia. CEPI telah berkomitmen memberikan pendanaan hingga US$ 50 juta untuk mendukung pengembangan praklinis dan uji klinis awal.
CEO Moderna Stéphane Bancel menegaskan perusahaannya akan bergerak dengan urgensi tinggi dan tetap berpegang pada prinsip ilmiah. Jika hasil awal positif, vaksin ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk berbagai strain Ebola di masa depan.
Tekanan besar di lapangan dan opsi pengobatan yang terbatas
Selain vaksin, terapi antibodi eksperimental untuk Ebola Zaire seperti MBP134 juga sudah disetujui, dan panel ahli independen WHO merekomendasikan penggunaannya dalam wabah saat ini. Tetapi untuk Bundibugyo Ebola, pengobatan yang tersedia masih berfokus pada perawatan suportif.
Perawatan itu mencakup menjaga pasien tetap terhidrasi dan mempertahankan tekanan darah agar stabil. Joanne Liu, pakar Ebola sekaligus profesor kedokteran dari Universitas McGill, Kanada, menyoroti keterbatasan itu sebagai salah satu tantangan utama dalam penanganan wabah.
WHO juga menilai konflik bersenjata, keterbatasan laboratorium, perpindahan penduduk lintas negara, dan rendahnya pelacakan kontak memperberat upaya pengendalian. Dalam kondisi seperti ini, ketiadaan vaksin dan terapi yang disetujui membuat petugas kesehatan kehilangan salah satu alat paling efektif untuk menghentikan penyebaran, yakni vaksinasi darurat terhadap kontak pasien.
Obat pencegahan juga mulai diuji
Di luar pengembangan vaksin, peneliti juga mulai menguji pendekatan pencegahan baru berupa obat antivirus. Untuk pertama kalinya dalam sejarah wabah Ebola, dokter akan menguji pemberian obat kepada orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien positif untuk melihat apakah infeksi bisa dicegah.
Pil antivirus obeldesivir disebut menunjukkan hasil menjanjikan dalam penelitian pada monyet. Obat itu mampu memberi perlindungan hingga 100% terhadap dua strain Ebola lain ketika diberikan setiap hari selama 10 hari dalam waktu 24 jam setelah paparan.
Profesor Christophe Fraser dari Universitas Oxford menekankan bahwa keberhasilan uji semacam ini tidak hanya bergantung pada efektivitas obat. Kemampuan tim kesehatan menemukan dan memantau orang yang tepat juga sangat menentukan jalannya penelitian.
Di tengah wabah yang bergerak cepat, perhatian dunia kini tertuju pada tiga kandidat vaksin utama dan berbagai upaya pendukung lainnya. Selama perlindungan resmi untuk Bundibugyo ebolavirus belum tersedia, deteksi dini, pelacakan kontak, isolasi pasien, serta dukungan internasional tetap menjadi penopang utama pengendalian wabah.
Source: www.beritasatu.com






