Baru-baru ini, video sejumlah pria yang menenggak oli mesin viral di media sosial dan memicu perhatian luas publik. Aksi itu disebut sebagai terapi kesehatan, padahal tidak memiliki dasar medis maupun bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Fenomena tersebut kembali menunjukkan bagaimana informasi kesehatan menyesatkan bisa cepat menyebar di ruang digital. Konten yang terlihat meyakinkan kerap dianggap aman, meski praktiknya justru berpotensi membahayakan tubuh.
Oli mesin bukan bahan yang layak diminum
Oli mesin dibuat untuk melumasi komponen kendaraan, bukan untuk dikonsumsi manusia. Kandungannya berisi senyawa kimia yang dapat bersifat toksik dan berisiko ketika masuk ke tubuh.
Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) menjelaskan bahwa oli mesin, terutama yang sudah digunakan, bisa mengandung logam berat dan senyawa hidrokarbon hasil pembakaran serta gesekan mesin. Publikasi National Institutes of Health (NIH) juga menyebut zat berbahaya dari oli dapat terserap ke organ vital seperti hati dan ginjal.
Risiko tidak selalu langsung terasa
Salah satu alasan klaim semacam ini mudah dipercaya adalah karena efeknya tidak selalu muncul seketika. Pada awalnya, paparan oli bisa saja hanya memunculkan mual, muntah, sakit perut, atau gangguan pencernaan.
Poison Control Center (PCC) di Children’s Hospital of Philadelphia juga menyebut paparan zat berbasis minyak tidak selalu menimbulkan gejala instan. Kondisi itu sering membuat sebagian orang keliru menganggap bahan tersebut aman, padahal dampaknya dapat muncul beberapa jam, hari, atau lebih lama setelah paparan.
Bahaya kesehatan yang perlu diwaspadai
Mengutip CDC dan Edu Centers, konsumsi oli mesin dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan serius. Risiko itu tidak terbatas pada keluhan ringan, tetapi juga dapat menyangkut organ dan sistem tubuh yang lebih vital.
Berikut sejumlah dampak yang disebutkan dalam sumber referensi:
Kerusakan hati dan ginjal
Kedua organ ini bekerja menyaring racun dari tubuh. Saat bahan kimia berbahaya masuk melalui oli, hati dan ginjal dipaksa bekerja lebih keras dan bisa mengalami penurunan fungsi.Gangguan sistem saraf
Kandungan logam berat seperti timbal dapat memengaruhi otak dan saraf. Dampaknya bisa berupa sakit kepala, pusing, gangguan konsentrasi, dan menurunnya koordinasi tubuh.Gangguan darah
Paparan zat toksik juga dapat mengganggu pembentukan sel darah merah dan memicu anemia. Akibatnya, tubuh mudah lelah, lemas, dan rentan sakit.Masalah pencernaan
Respons awal yang paling umum mencakup mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Gejala ini muncul karena tubuh bereaksi terhadap zat asing yang berbahaya.- Risiko jangka panjang
Zat beracun dalam oli bisa menumpuk di dalam tubuh tanpa gejala yang jelas pada awalnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu penyakit kronis yang sulit dikenali sejak dini.
Mengapa klaim terapi seperti ini mudah menyebar
Media sosial membuat konten kesehatan yang dikemas secara visual dan disampaikan dengan percaya diri tampak meyakinkan. Padahal, tampilan meyakinkan tidak otomatis berarti aman atau benar secara medis.
Saat seseorang terlihat baik-baik saja setelah melakukan aksi berbahaya, publik bisa salah menilai praktik itu tidak berisiko. Di sisi lain, banyak zat beracun bekerja perlahan, sehingga kerusakan baru terasa setelah tubuh mengalami gangguan yang lebih serius.
Perlu lebih kritis terhadap tren kesehatan di internet
Kasus viral ini menjadi pengingat bahwa tidak semua tren di internet layak diikuti, terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Tanpa bukti medis yang valid, klaim pengobatan alternatif seperti minum oli mesin justru dapat membahayakan nyawa.
Masyarakat perlu lebih selektif dalam menyaring informasi dan mengandalkan sumber kesehatan yang kredibel. Mengonsumsi oli mesin bukan terapi, melainkan paparan zat berbahaya yang dapat mengganggu organ vital dan menimbulkan dampak serius dalam jangka pendek maupun panjang.
Source: www.beritasatu.com






