Gumoh Pada Bayi, Kapan Masih Normal dan Kapan Harus Waspada?

Hampir semua bayi pernah gumoh, dan kondisi ini umumnya berkaitan dengan fungsi saluran cerna yang belum matang. Pada banyak kasus, gumoh masih tergolong wajar karena pintu kerongkongan bawah bayi belum bekerja sempurna untuk menahan isi lambung.

Gumoh biasanya muncul setelah bayi minum susu atau saat posisi tubuhnya sering berbaring. Kondisi ini juga dipengaruhi kapasitas lambung dan kerongkongan bayi yang masih terbatas, sehingga cairan lebih mudah kembali ke atas.

Mengapa gumoh sering terjadi pada bayi

Menurut Sri Kesuma Astuti dari Divisi Gastrohepatologi Anak RS Mohammad Hoesin Palembang, gumoh dapat dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Faktor itu antara lain asupan bayi berupa cairan, kapasitas lambung yang kecil, kebiasaan bayi sering tidur, dan kapasitas kerongkongan yang masih terbatas.

Gumoh pada bayi bahkan mencapai puncaknya pada usia 2 sampai 5 bulan. Setelah itu, frekuensinya cenderung menurun dan menjadi kurang dari 5 persen setelah usia 12 bulan.

Meski sering terjadi, gumoh umumnya tidak langsung menimbulkan kerusakan pada kerongkongan. Padahal, cairan gumoh bisa mengandung asam lambung, empedu, dan enzim pencernaan.

Kapan gumoh masih dianggap aman

Gumoh cenderung aman bila bayi tetap tampak nyaman, berat badannya bertambah sesuai usia, dan tidak menunjukkan keluhan lain yang mengarah ke gangguan serius. Dalam kondisi seperti ini, gumoh lebih sering berkaitan dengan proses fisiologis normal pada bayi.

Namun, orang tua tetap perlu memerhatikan perubahan pola gumoh. Jika gumoh menjadi berlebihan atau berbeda dari kebiasaan biasanya, kondisi itu bisa menjadi tanda bahaya.

Sri Kesuma Astuti menyebut gumoh berlebihan perlu dikonsultasikan ke dokter. Langkah ini penting untuk memastikan apakah gumoh masih dalam batas wajar atau sudah mengarah ke masalah lain.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai

Beberapa kondisi berikut perlu mendapat perhatian lebih karena dapat menandakan gumoh tidak lagi normal:

  1. Muntah darah
  2. Berat badan tidak naik sesuai usia
  3. Postur Sandifer, yaitu bayi melengkungkan punggung
  4. Rewel berkepanjangan
  5. Menolak makan
  6. Sembelit atau diare
  7. Gangguan tidur

Tanda-tanda tersebut tidak boleh dianggap sepele, terutama bila muncul bersamaan atau berlangsung terus-menerus. Pemeriksaan dokter diperlukan agar penyebabnya bisa dinilai lebih tepat.

Langkah yang bisa dilakukan orang tua

Orang tua dapat membantu mengurangi gumoh dengan teknik menyusui yang benar. Pemberian minum juga sebaiknya tidak berlebihan agar lambung bayi tidak terlalu penuh.

Frekuensi dan volume makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Dengan cara ini, bayi tetap mendapat asupan yang cukup tanpa membebani saluran cerna yang masih berkembang.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait