
Kasus hantavirus kembali menarik perhatian dunia setelah tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi ini di sebuah kapal pesiar pada awal Mei 2026. Peristiwa itu membuat banyak pihak kembali menyoroti virus yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan wilayah pedesaan, padahal risiko penularannya juga bisa muncul di ruang tertutup.
Hantavirus menjadi sorotan karena termasuk penyakit zoonosis yang berasal dari hewan pengerat dan dapat memicu gangguan serius pada manusia. Kondisi ini penting dipahami karena infeksinya sering diawali gejala mirip flu, lalu dapat berkembang cepat menjadi masalah pernapasan yang mengancam nyawa.
Apa yang perlu diketahui tentang hantavirus
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus adalah kelompok virus yang terutama ditularkan oleh rodensia. Virus ini dapat menyebabkan penyakit berat di berbagai wilayah dunia, dengan dua sindrom utama yang paling dikenal, yaitu hantavirus pulmonary syndrome (HPS) di Amerika dan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) di Eropa serta Asia.
Nama hantavirus sendiri berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat Ho Wang Lee pertama kali mengisolasi virus ini pada 1978 setelah banyak tentara jatuh sakit selama Perang Korea. Dalam kasus yang teridentifikasi, HPS memiliki tingkat kematian sekitar 38 persen, sehingga infeksi ini tidak bisa dianggap ringan.
Mengapa kasus di kapal pesiar jadi perhatian
Investigasi atas kematian tiga penumpang kapal pesiar memunculkan dugaan adanya paparan hantavirus di ruang tertutup dengan ventilasi bersama. Menurut penjelasan para ahli yang dikutip dalam laporan media internasional, risiko dapat meningkat bila ada infestasi hewan pengerat di area tertentu seperti ruang penyimpanan atau jalur teknis kapal.
Kotoran atau urine tikus yang mengering dapat berubah menjadi partikel halus di udara. Saat partikel itu terhirup manusia, infeksi bisa terjadi, sehingga sanitasi di fasilitas transportasi dan pariwisata menjadi faktor penting.
Cara hantavirus menyebar
Banyak orang mengira hantavirus menular seperti flu biasa, padahal mekanismenya berbeda. American Lung Association menjelaskan bahwa penularan utamanya terjadi melalui paparan material dari tikus yang terinfeksi.
Jalur penularan yang umum meliputi inhalasi partikel dari kotoran tikus yang mengering, kontak langsung dengan permukaan terkontaminasi lalu menyentuh wajah, serta gigitan tikus yang meski jarang tetap mungkin terjadi. Sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antar manusia, kecuali beberapa pengecualian langka seperti Andes virus di Amerika Selatan.
Gejala awal yang sering disalahartikan
Gejala hantavirus kerap menyerupai flu sehingga sering tidak langsung dikenali. Masa inkubasinya biasanya berlangsung satu hingga delapan minggu setelah paparan, lalu keluhan awal dapat muncul secara bertahap.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, menggigil, nyeri otot berat terutama di punggung, pinggul, dan paha, serta kelelahan, sakit kepala, dan pusing. Pada sebagian pasien, mual, muntah, atau diare juga dapat muncul di fase awal.
Setelah 4–10 hari, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pada tahap ini, pasien membutuhkan pertolongan darurat karena risiko gagal napas meningkat tajam.
Data kasus dan sebaran global
Meski sering disebut langka, data National Institutes of Health (NIH) menunjukkan jumlah kasus yang tercatat cukup besar. Diperkirakan ada sekitar 150.000 kasus HFRS setiap tahun di seluruh dunia, dengan sebaran terbanyak di Asia dan Eropa.
Tiongkok menyumbang lebih dari 50 persen total kasus global, sementara di Amerika Serikat pemantauan sejak 1993 hingga 2023 mencatat 890 kasus. Kondisi ini menunjukkan bahwa hantavirus tetap menjadi ancaman kesehatan yang perlu dipantau lintas wilayah.
Keberadaan strain seperti Seoul virus juga menambah perhatian, karena virus ini dibawa tikus Norwegia atau tikus cokelat. Berbeda dari beberapa strain lain yang terbatas wilayahnya, strain ini tersebar secara global dan dapat muncul di kawasan padat penduduk.
Penanganan dan langkah pencegahan
World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya deteksi dini dan perawatan intensif karena hingga kini belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus. Pasien biasanya dirawat di unit perawatan intensif dengan dukungan oksigen atau ventilasi bila gangguan napas memburuk.
Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central juga menunjukkan bahwa penanganan lebih awal dapat meningkatkan peluang pemulihan. Karena itu, gejala yang mengarah ke hantavirus tidak boleh diabaikan, terutama bila ada riwayat paparan dengan area yang mungkin terkontaminasi tikus.
Pencegahan berfokus pada upaya meminimalkan kontak dengan hewan pengerat. Langkah yang disarankan mencakup pembersihan aman tanpa menyapu kotoran tikus kering, menutup celah masuk tikus ke bangunan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, dan membersihkan filter udara secara rutin di fasilitas umum.
WHO juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan urbanisasi dapat memperbesar interaksi manusia dengan hewan pengerat. Karena itu, kewaspadaan terhadap hantavirus tetap relevan, tidak hanya di pedesaan tetapi juga di lingkungan perkotaan dan fasilitas publik dengan standar sanitasi yang kurang ketat.
Source: www.beritasatu.com








