GERD sering dipandang sebagai gangguan lambung biasa, tetapi pada sebagian orang kondisinya bisa memicu dampak fisik dan psikologis yang berat. Pengalaman itu dialami Dera Nur Tresna, M.Kes, ketika suaminya didiagnosis GERD kronis dan harus menjalani masa pemulihan yang panjang sejak keluhan berat muncul pada 2019.
Dalam cerita itu, GERD tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman di lambung, tetapi juga menghadirkan ketakutan yang terus-menerus. Dera melihat sendiri bagaimana suaminya mengalami kecemasan, sulit tidur, dan rasa waswas berlebihan karena khawatir gejala kambuh sewaktu-waktu.
Awal Krisis di Rumah Tangga
Malam ketika gejala berat muncul menjadi titik balik yang sulit dilupakan. Suami Dera terbangun dengan napas tersengal, jantung berdebar, dan kondisi yang membuatnya merasa seperti berada di ambang bahaya.
Di tengah situasi darurat itu, Dera yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan mengaku sempat kebingungan. Pemeriksaan medis kemudian menegaskan bahwa kondisi yang dialami sang suami adalah GERD kronis.
Setelah diagnosis tersebut, pengobatan medis berjalan selama sekitar dua tahun. Namun tantangan tidak berhenti pada obat, karena rasa takut tidur sendiri dan kekhawatiran akan kambuh ikut membebani kondisi mental sang suami.
Pendekatan yang Lebih Menyeluruh
Berbagai upaya sempat dicoba untuk membantu pemulihan, termasuk perubahan pola makan dan sejumlah pendekatan alternatif. Tidak semua memberikan hasil yang baik, dan sebagian justru membuat kondisi semakin tidak stabil.
Dera lalu mencari cara yang lebih terarah dengan mempelajari hubungan antara nutrisi, tubuh, dan respons biologis manusia. Dari proses itu, ia menilai bahwa penanganan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada gejala, tetapi juga perlu memahami kondisi tubuh secara utuh.
Ia dan suaminya kemudian menerapkan perubahan gaya hidup secara lebih disiplin. Pola makan diatur ulang, stres dikelola lebih baik, dan kebiasaan harian dibuat lebih seimbang agar pemulihan bisa berjalan bertahap.
Nutrigenomik Jadi Titik Temu
Pendekatan nutrigenomik menjadi salah satu konsep yang dipelajari Dera dalam perjalanan tersebut. Nutrigenomik mengkaji interaksi antara nutrisi dan genetik, sehingga makanan dipahami bukan hanya sebagai asupan, tetapi juga bagian dari proses pemulihan tubuh.
Dera menilai pendekatan ini relevan karena membantu melihat bahwa tubuh perlu didukung dari berbagai sisi. Dalam kasus suaminya, perubahan yang konsisten akhirnya menunjukkan hasil positif, hingga ia bisa kembali beraktivitas normal dan berolahraga lagi.
Perubahan itu tidak datang cepat, tetapi bertahap melalui disiplin menjalankan pola hidup yang lebih terkontrol. Pengalaman tersebut kemudian memunculkan pertanyaan baru bagi Dera tentang ketersediaan pangan yang aman untuk lambung namun tetap nyaman dikonsumsi sehari-hari.
Lahirnya Nutriged dari Pengalaman Pribadi
Keresahan itu mendorong Dera meluncurkan Nutriged bersama Ramdani, seorang ahli nutraceutical. Produk ini dirancang sebagai solusi pangan fungsional berbahan alami yang ditujukan untuk mendukung proses pemulihan lambung.
Nutriged disusun dengan kombinasi bahan yang disebut terukur secara ilmiah. Umbi ararut digunakan untuk membantu melapisi dinding lambung, oat berperan membentuk rafting gel untuk mencegah refluks, dan susu kambing etawa dipilih karena kandungan nutrisinya.
Dera menegaskan bahwa tujuan produk itu bukan sekadar meredakan keluhan sesaat. Fokus utamanya adalah membantu lambung pulih secara alami melalui pendekatan yang lebih fungsional dan selaras dengan kebutuhan tubuh.
Dari pengalaman personal yang berat, Dera mengubah keresahan menjadi inisiatif kesehatan yang lebih luas. Kini, Nutriged diposisikan sebagai jawaban bagi masyarakat urban yang mencari solusi lambung yang praktis, rasional, dan mendukung kualitas hidup yang lebih baik.
Source: www.suara.com






