Heboh Hantavirus di Kapal Pesiar, Jejak Panjang Virus Ini dan Cara Penularannya yang Mematikan

Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian global karena tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia dan delapan kasus sudah terkonfirmasi. Kapal berbendera Belanda itu bertolak dari Argentina, sementara badan kesehatan dunia tetap menilai risiko terhadap populasi global secara keseluruhan masih rendah.

Kasus ini penting karena penyebabnya adalah Andes virus, varian hantavirus yang menjadi sorotan khusus di Amerika Selatan. Virus tersebut dikenal sebagai satu-satunya hantavirus yang terbukti dapat menular dari manusia ke manusia, meski penularan seperti itu tergolong langka.

Apa yang Terjadi di Kapal Pesiar MV Hondius

Menurut laporan resmi Organisasi Kesehatan Dunia, Inggris menjadi titik fokus International Health Regulations yang menyampaikan notifikasi terkait klaster penyakit pernapasan berat di kapal tersebut. MV Hondius membawa 147 penumpang dan kru, dengan perjalanan yang dimulai dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026.

Penumpang pertama dilaporkan meninggal pada 11 April 2026. Istrinya kemudian meninggal dua hari setelah diturunkan di Johannesburg, sementara satu korban lain wafat saat masih berada di atas kapal.

Mengapa Andes Virus Menjadi Sorotan

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention, penyebab wabah itu adalah Andes virus, salah satu hantavirus yang umum ditemukan di Amerika Selatan. Virus ini menjadi perhatian karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia yang tidak dimiliki varian hantavirus lain yang sudah dikenal luas.

WHO menyatakan pemantauan terhadap kasus di kapal pesiar itu terus dilakukan. Meski begitu, lembaga tersebut menegaskan bahwa risiko terhadap masyarakat dunia tetap tergolong rendah berdasarkan informasi yang tersedia.

Jejak Panjang Hantavirus di Dunia

Hantavirus pertama kali dikenali lewat wabah yang menyerang tentara PBB saat Perang Korea pada 1951 hingga 1954. Lebih dari 3.000 prajurit mengalami demam tinggi, perdarahan, syok, hingga gagal ginjal, dan penyakit itu kemudian dikenal sebagai Korean hemorrhagic fever.

Selama bertahun-tahun, penyebabnya sulit dipastikan. Baru pada 1976, virologis Korea Ho Wang Lee dan timnya berhasil mengisolasi virus penyebab penyakit tersebut dari tikus ladang bergaris yang ditangkap di sekitar Sungai Hantan, Korea Selatan.

Virus itu kemudian dinamai Hantaan virus, dan kelompok virus serupa kemudian disebut hantavirus. Pada 1981, para ilmuwan mengonfirmasi hantavirus sebagai anggota baru keluarga Bunyaviridae.

Berbeda dari banyak virus lain, hantavirus tidak membutuhkan serangga sebagai perantara. Virus ini hidup dan menular melalui hewan pengerat sebagai inang utamanya.

Pelajaran dari Wabah Besar di Amerika Serikat

Pandangan bahwa hantavirus hanya menjadi masalah di Asia dan Eropa berubah setelah wabah besar muncul di kawasan Four Corners, Amerika Serikat, pada 1993. Saat itu, sepasang pemuda dari komunitas Navajo di perbatasan Arizona dan New Mexico meninggal dalam selang beberapa hari akibat gagal napas mendadak.

Penyelidikan menemukan pola yang sama pada kasus lain, yakni diawali demam dan nyeri otot, lalu berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat. Pada Juni 1993, peneliti mengidentifikasi jenis baru yang dinamai Sin Nombre virus, dengan tikus rusa sebagai inang utamanya.

Berbeda dari hantavirus di Asia dan Eropa yang lebih sering memicu gangguan ginjal, Sin Nombre virus menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome atau HPS. Sepanjang 1993, tercatat 48 kasus terkonfirmasi di AS dengan tingkat kematian mencapai 56%.

Menurut laporan American Association for the Advancement of Science, wabah itu dipicu lonjakan populasi tikus rusa hingga sepuluh kali lipat. Pemicunya adalah hujan lebat setelah bertahun-tahun kekeringan, yang membuat tanaman pakan tikus tumbuh subur dan meningkatkan kontak dengan manusia.

Mengapa Hantavirus Bisa Menular ke Manusia

Secara global, ada lebih dari 50 jenis hantavirus yang menginfeksi hewan pengerat. Tidak semuanya berbahaya bagi manusia, tetapi puluhan di antaranya diketahui dapat menimbulkan penyakit serius.

Di Asia dan Eropa, hantavirus umumnya menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS yang berkaitan dengan gagal ginjal. Di Amerika, banyak varian lebih sering memicu HPS yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan.

Penularan paling sering terjadi saat manusia bersentuhan dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Risiko juga bisa muncul ketika partikel terkontaminasi terhirup, terutama di area seperti ladang, hutan, gudang, atau tempat lain yang banyak dihuni hewan pengerat.

Masa inkubasi hantavirus berkisar antara satu hingga delapan minggu. Pada kasus Andes virus, gejala awal biasanya muncul empat hingga 42 hari setelah paparan, dengan tanda berupa demam, nyeri otot di paha, pinggul, dan punggung, serta gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.

Mengapa Andes Virus Dianggap Berbeda

Pada tahap lanjut, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru dalam waktu singkat. Hingga kini belum tersedia obat antivirus spesifik maupun vaksin untuk hantavirus, sehingga kewaspadaan terhadap paparan hewan pengerat tetap menjadi kunci pencegahan.

Argentina mencatat kasus penularan hantavirus dari manusia ke manusia pertama pada 1996, dan penyebabnya adalah Andes virus di kawasan Patagonia. Temuan itu membuat virus tersebut dipandang sebagai varian yang paling berbeda dibanding hantavirus lain karena memiliki kemampuan transmisi antarmanusia, meski kasusnya tetap terbatas.

Saat ini, otoritas kesehatan di berbagai negara masih memantau para penumpang MV Hondius yang sudah turun sebelum wabah terdeteksi. WHO juga merekomendasikan pemantauan gejala selama 45 hari bagi siapa pun yang pernah berada di sekitar kasus terkonfirmasi hantavirus di kapal itu.

Source: www.beritasatu.com
Terkait