Lima Penyakit Dari Tikus yang Sering Luput, Selain Hantavirus dan Cara Menularnya

Kasus hantavirus yang ramai dibahas membuat perhatian publik kembali tertuju pada risiko kesehatan yang datang dari tikus. Hewan pengerat ini tidak hanya menimbulkan masalah kebersihan, tetapi juga dapat membawa sejumlah penyakit serius yang menular melalui urine, kotoran, air liur, gigitan, atau makanan yang terkontaminasi.

Risiko itu meningkat saat tikus berada dekat area rumah, dapur, saluran air, atau lingkungan yang lembab. Karena itu, mengenali penyakit yang dapat dibawa tikus penting agar masyarakat bisa lebih cepat waspada terhadap gejala awal dan sumber penularannya.

Leptospirosis

Leptospirosis menjadi salah satu infeksi bakteri yang paling sering dikaitkan dengan tikus. Penularannya biasanya terjadi saat seseorang bersentuhan dengan urine tikus atau air yang sudah terkontaminasi bakteri leptospira.

Bakteri ini dapat bertahan di lingkungan lembab dan genangan air, sehingga risikonya cenderung meningkat saat musim hujan atau banjir. Gejalanya dapat berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, serta kulit dan mata yang menguning, dan pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gangguan ginjal atau hati.

Salmonelosis

Tikus juga dapat membawa bakteri salmonela yang menyerang sistem pencernaan. Penularan umumnya terjadi lewat makanan atau permukaan yang sudah terkontaminasi, terutama jika makanan dibiarkan terbuka di area yang sering dilewati tikus.

Keluhan yang muncul biasanya meliputi diare, muntah, demam, dan keram perut. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harian dan berlangsung selama beberapa hari, sehingga kebersihan dapur dan penyimpanan makanan menjadi langkah pencegahan yang penting.

Pes atau plague

Pes atau plague disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini umumnya menular melalui gigitan kutu yang sebelumnya mengisap darah tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi.

Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah bubonic plague, dengan gejala berupa pembengkakan kelenjar getah bening, demam tinggi, dan tanda-tanda mirip flu yang berkembang cepat. Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menyebut rata-rata masih ada sekitar tujuh kasus pes setiap tahun di Amerika Serikat.

Rat-bite fever

Rat-bite fever atau demam akibat gigitan tikus muncul akibat bakteri dari air liur tikus. Penularan biasanya terjadi setelah seseorang tergigit atau tercakar tikus yang terinfeksi, sehingga luka akibat kontak tersebut tidak boleh dianggap ringan.

Gejalanya meliputi demam, muntah, nyeri otot, dan ruam pada tubuh. Jika tidak ditangani, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi yang memengaruhi jantung, otak, dan paru-paru.

Lymphocytic choriomeningitis virus

Lymphocytic choriomeningitis virus atau LCMV adalah infeksi virus yang bisa menular melalui urine, kotoran, dan air liur tikus. Banyak kasus awal tidak disadari karena gejalanya kerap tampak ringan dan menyerupai flu.

Keluhan yang muncul bisa berupa demam, sakit kepala, dan tubuh lemas. Namun, dalam beberapa kasus, infeksi dapat berkembang menjadi meningitis atau peradangan otak yang serius, sementara ibu hamil juga perlu lebih waspada karena infeksi ini dapat berdampak pada janin.

Pencegahan tetap menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko penyakit dari tikus. Menjaga kebersihan rumah, menutup makanan rapat, membersihkan area dapur secara rutin, dan segera menangani luka akibat gigitan atau cakaran dapat membantu mengurangi peluang penularan berbagai infeksi tersebut.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button