Daging Kurban Perlu Dicuci? Ini Risiko yang Sering Tak Disadari sebelum Dimasak

Pertanyaan apakah daging kurban perlu dicuci sebelum dimasak kembali ramai dibahas setiap Iduladha karena banyak orang ingin memastikan olahan daging tetap aman dan bersih. Jawaban yang paling sering dianjurkan dari sisi keamanan pangan adalah daging kurban umumnya tidak perlu dicuci, karena proses itu justru bisa menambah risiko penyebaran bakteri di dapur.

Anggapan bahwa daging mentah harus dicuci agar lebih higienis masih cukup kuat di masyarakat. Namun, berbagai lembaga kesehatan dan keamanan pangan menilai kebersihan daging lebih ditentukan oleh cara penanganan, penyimpanan, dan pemasakan yang benar daripada pencucian dengan air.

Mengapa daging kurban tidak dianjurkan dicuci

Mencuci daging mentah tidak efektif untuk menghilangkan bakteri yang menempel di permukaan. Beberapa patogen yang kerap ditemukan pada daging mentah antara lain Salmonella, E coli, Campylobacter, dan Listeria.

Air mengalir tidak cukup kuat untuk menghapus mikroorganisme yang melekat pada permukaan daging. Cara yang paling efektif untuk membunuh bakteri tetap melalui proses memasak hingga suhu aman, bukan lewat pencucian.

Umumnya, bakteri akan mati saat daging mencapai suhu internal sekitar 70 derajat celsius atau lebih, tergantung jenis olahannya. Karena itu, fokus utama seharusnya ada pada pemasakan yang matang dan merata.

Risiko yang muncul saat daging mentah dicuci

Mencuci daging mentah bisa memicu kontaminasi silang atau cross contamination. Saat air mengenai daging, percikan kecil dapat menyebar ke wastafel, meja, talenan, pisau, dan bahan makanan lain di sekitarnya.

US Department of Agriculture atau USDA menyebut cipratan dari pencucian daging mentah dapat menyebar hingga sekitar 50–60 sentimeter dari area pencucian. Kondisi ini membuat bakteri lebih mudah berpindah tanpa terlihat.

World Health Organization atau WHO juga mencatat sekitar 1 dari 10 orang di dunia mengalami penyakit akibat makanan yang terkontaminasi setiap tahunnya. Pada rumah tangga, salah satu pemicunya adalah penanganan bahan pangan yang kurang higienis.

Risiko kesehatannya dapat berupa mual, muntah, diare, infeksi saluran pencernaan, hingga infeksi bakteri seperti Salmonella atau Campylobacter. Pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia, bakteri E coli juga dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Kondisi tertentu saat daging boleh dibilas

Meski secara umum tidak disarankan, daging tidak sepenuhnya harus dijauhkan dari air dalam semua kondisi. Jika ada pasir, serpihan tulang, sisa kotoran fisik, atau darah segar yang cukup banyak menempel, pembilasan singkat masih dapat dilakukan.

Pencucian itu sebaiknya memakai air mengalir dan berlangsung singkat. Daging juga tidak disarankan direndam terlalu lama karena air bisa terserap ke jaringan daging.

Jika dibiarkan terlalu lama di air, tekstur daging dapat berubah menjadi lebih keras dan rasa alaminya berkurang. Sebagian nutrisi juga berpotensi larut bersama air, sehingga kualitas daging tidak lagi optimal.

Setelah dibilas, daging perlu segera ditiriskan. Pengeringan dengan tisu dapur sekali pakai juga membantu mengurangi kelembapan berlebih sebelum proses memasak.

Langkah yang lebih penting saat menangani daging kurban

Fokus utama seharusnya ada pada kebersihan peralatan dan tangan, bukan pada pencucian daging. Pisau dan talenan untuk daging mentah sebaiknya dipisahkan dari alat yang digunakan untuk sayuran, buah, atau makanan matang.

Pemisahan alat ini penting untuk mencegah perpindahan bakteri ke bahan makanan lain. Kebiasaan tersebut juga membantu menjaga proses memasak tetap higienis sejak awal.

Kebersihan tangan juga perlu dijaga dengan serius. Tangan sebaiknya dicuci memakai sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan sesudah memegang daging.

Jika daging belum langsung diolah, penyimpanan juga harus diperhatikan. Daging sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup di lemari pendingin dengan suhu sekitar 4 derajat celsius, atau di freezer dengan suhu sekitar -18 derajat celsius untuk penyimpanan lebih lama.

Daging mentah juga tidak boleh diletakkan berdekatan dengan buah, sayuran, atau makanan matang. Pemisahan ini penting agar bakteri tidak berpindah ke bahan pangan lain.

Cara aman mengolah daging kurban di dapur

Proses memasak menjadi tahap paling menentukan dalam keamanan daging kurban. Pemanasan yang cukup tetap menjadi cara paling efektif untuk membunuh bakteri berbahaya yang mungkin masih tersisa.

Karena itu, sate, gulai, rendang, tongseng, maupun olahan lain sebaiknya dimasak sampai benar-benar matang. Dengan begitu, risiko gangguan pencernaan akibat bakteri bisa ditekan.

Penanganan yang tepat sejak daging diterima, penyimpanan yang benar, dan proses memasak yang matang jauh lebih penting dibanding kebiasaan mencuci daging mentah. Dalam banyak kondisi, membiarkan daging tetap kering lalu langsung diolah justru menjadi pilihan yang lebih aman bagi keluarga.

Source: www.beritasatu.com
Terkait