Anggapan bahwa obesitas terutama disebabkan oleh faktor genetik perlu dilihat secara lebih hati-hati. Dokter spesialis gizi klinik, dr Maryam, menegaskan bahwa pengaruh genetik terhadap obesitas diperkirakan tidak lebih dari 20 persen, sedangkan sisanya sangat dipengaruhi pola hidup dan lingkungan.
Pernyataan itu menjadi penting karena banyak orang merasa tidak punya peluang menurunkan berat badan jika keluarganya memiliki riwayat tubuh gemuk. Padahal, menurut dr Maryam, masih ada banyak faktor yang bisa diubah, terutama pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Genetik Bukan Penentu Tunggal
Obesitas termasuk kondisi yang dipengaruhi banyak hal sekaligus. Selain genetik, ada faktor fisik, metabolisme, hormonal, dan psikologis yang ikut berperan dalam munculnya penumpukan lemak tubuh.
Di antara semua faktor itu, aspek yang paling bisa dikendalikan justru berasal dari lingkungan dan gaya hidup. Karena itu, perubahan pada kebiasaan makan dan gerak tubuh tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan berat badan.
Dr Maryam mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan riwayat keluarga sebagai alasan untuk menyerah. “Genetik itu bisa berpengaruh, tetapi tidak sampai 20%,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Obesitas Berdampak Lebih Luas dari Sekadar Timbangan
Secara medis, obesitas tidak berhenti pada persoalan penampilan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kolesterol.
Dampaknya juga bisa merambat ke kesehatan reproduksi dan kesuburan. Artinya, obesitas dapat memengaruhi tubuh dari berbagai sisi, bukan hanya pada angka di timbangan.
Selain risiko fisik, obesitas juga sering berkaitan dengan persoalan psikologis. Gangguan citra tubuh, turunnya kepercayaan diri, depresi, hingga pola makan yang tidak sehat dapat muncul dan memperburuk kualitas hidup.
Dalam banyak kasus, dampak tersebut ikut memengaruhi produktivitas dan kondisi ekonomi seseorang. Karena itu, obesitas dipahami bukan semata masalah estetika, melainkan persoalan kesehatan yang lebih kompleks.
Yang Dinilai Bukan Sekadar Berat Badan
Dr Maryam menekankan bahwa obesitas tidak selalu identik dengan berat badan yang tinggi. Penilaian yang lebih tepat perlu melihat komposisi tubuh, terutama kadar lemak tubuh.
“Obesitas itu bukan kelebihan berat badan, tetapi kelebihan lemak tubuh,” tegasnya. Kondisi ini membuat seseorang bisa terlihat kurus, tetapi tetap memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi atau dikenal dengan istilah skinny fat.
Karena itu, penanganan obesitas tidak bisa disamaratakan. Setiap orang membutuhkan pendekatan yang personal agar upaya penurunan berat badan berjalan aman dan sesuai kebutuhan tubuh.
Penurunan berat badan juga perlu dilakukan secara terukur. Tujuannya agar lemak tubuh berkurang tanpa menurunkan massa otot secara berlebihan, sehingga kesehatan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Source: www.beritasatu.com






