Aktivitas industri yang padat di Serang dan wilayah Banten ikut meningkatkan kebutuhan layanan medis yang cepat dan terintegrasi. Di tengah tingginya risiko kecelakaan kerja dan kecelakaan lalu lintas, penanganan trauma kini menuntut fasilitas yang tidak hanya siap di ruang gawat darurat, tetapi juga mampu membaca cedera secara detail sejak awal.
Data tahun 2024 menunjukkan ada sekitar 5.600 kawasan industri di Banten, dengan sekitar 1.200 hingga 1.300 di antaranya berada di Serang. Sejalan dengan aktivitas itu, angka kecelakaan kerja tercatat mencapai hampir 1.200 kasus, sehingga kebutuhan layanan trauma komprehensif menjadi semakin mendesak.
Trauma Tidak Sering Terjadi di Satu Titik Saja
Direktur Sales, Marketing & Business Development Bethsaida Healthcare, Iwan A. Setiawan, menegaskan bahwa cedera akibat kecelakaan dapat muncul di banyak bagian tubuh sekaligus. Ia menyebut trauma bisa terjadi di kepala, leher, perut, kaki, lutut, dan area lain yang membutuhkan tata laksana menyeluruh.
Karena itu, penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial. Jika cedera kepala diperiksa tanpa melihat kemungkinan gangguan di bagian tubuh lain, hasil penanganan berisiko tidak optimal dan bisa menghambat pemulihan pasien.
Layanan seperti Advanced Trauma Center dibutuhkan agar pasien mendapat evaluasi terintegrasi sejak awal. Fasilitas ini idealnya melibatkan berbagai disiplin, mulai dari dokter spesialis bedah saraf, bedah umum, bedah ortopedi, hingga penunjang medis lain yang saling terhubung.
MRI 1.5 Tesla Membantu Membaca Cedera Lebih Detail
Dalam kasus trauma, waktu menjadi faktor krusial. Semakin cepat sumber cedera diketahui, semakin besar peluang dokter menentukan tindakan yang tepat dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
Di titik ini, MRI 1.5 Tesla menjadi salah satu alat penting dalam diagnosis trauma. Teknologi pencitraan ini mampu menampilkan gambaran detail organ dan jaringan tubuh, termasuk otot, ligamen, tulang belakang, dan saraf yang kerap tidak terlihat jelas melalui pemeriksaan biasa.
Dokter Spesialis Radiologi Bethsaida Hospital Serang, dr. Eha Juleha, Sp.Rad, menjelaskan bahwa pemeriksaan radiologi punya peran besar dalam menentukan arah penanganan. Ia menyebut, “Dengan dukungan MRI 1.5 Tesla, evaluasi terhadap jaringan lunak, tulang belakang, sendi maupun saraf dapat dilakukan dengan lebih baik, sehingga dokter dapat menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.”
Pada kondisi tertentu, pemeriksaan lain seperti USG juga tetap dibutuhkan, terutama untuk mendeteksi perdarahan di rongga dada atau perut akibat trauma tumpul. Namun, ketika dokter perlu melihat struktur dan jaringan tubuh lebih rinci, MRI menjadi salah satu alat diagnostik yang sangat membantu.
Pemulihan Pasien Tidak Berhenti di Ruang Operasi
Penanganan trauma tidak selesai setelah pasien keluar dari ruang gawat darurat atau menjalani operasi. Tahap pemulihan dan rehabilitasi menjadi bagian penting agar pasien bisa kembali beraktivitas dengan aman dan bertahap.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Bethsaida Hospital Serang, dr. Mochamad Sri Arya H., Sp.BS, menyampaikan bahwa layanan trauma yang ideal harus mendampingi pasien dari awal cedera hingga benar-benar pulih. Ia menilai proses ini harus berjalan “komprehensif dari awal sampai pasien benar-benar fit dan dapat kembali bekerja.”
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antarspesialis serta dukungan pemeriksaan penunjang yang memadai. Dengan alur seperti itu, evaluasi dan penentuan tindakan medis bisa dilakukan lebih cepat, terarah, dan sesuai kebutuhan klinis pasien.
Di wilayah seperti Serang yang ditopang aktivitas industri dan mobilitas tinggi, kehadiran trauma center modern dengan dukungan MRI 1.5 Tesla menjadi kebutuhan nyata. Saat kecelakaan terjadi, ketepatan diagnosis dan kecepatan penanganan dapat sangat menentukan keselamatan serta kualitas hidup pasien ke depan.
Source: www.suara.com






