Bukan Karena Mengantuk, Ini Rahasia Menguap yang Menular, Otak dan Ikatan Sosial Bekerja Bersama

Menguap sering dianggap sebagai tanda lelah atau kurang tidur, padahal perilaku ini juga punya sisi sosial yang kuat. Seseorang bisa ikut menguap hanya karena melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan orang lain yang menguap.

Fenomena itu disebut menguap menular, dan para ilmuwan menilainya sebagai respons yang jauh lebih kompleks daripada refleks tubuh biasa. Sejumlah penelitian menunjukkan kaitannya dengan kerja otak, perhatian, empati, kedekatan sosial, hingga mekanisme evolusi yang sudah terbentuk lama.

Menguap bukan sekadar tanda kantuk

Dalam kajian sains, menguap biasanya dibagi menjadi dua jenis, yakni menguap spontan dan menguap menular. Menguap spontan muncul tanpa pemicu sosial, misalnya saat tubuh lelah, mengantuk, atau sedang bergeser tingkat kewaspadaannya.

Sementara itu, menguap menular muncul setelah seseorang terpapar orang lain yang menguap. Tinjauan penelitian dalam jurnal Frontiers in Neuroscience menyebut belum ada konsensus ilmiah mengenai fungsi utama menguap karena pemicunya sangat beragam.

Ulasan lain yang dikutip dari Library of Congress juga menyebut para ilmuwan masih memperdebatkan alasan pasti manusia menguap. Meski begitu, beberapa teori dinilai cukup kuat untuk menjelaskan mengapa perilaku ini terus ada pada manusia dan sejumlah hewan sosial.

Peran otak dalam membuat menguap menular

Salah satu penjelasan yang paling sering dibahas adalah teori neuron cermin atau mirror neurons. Sel saraf ini aktif bukan hanya saat seseorang melakukan tindakan, tetapi juga ketika ia melihat orang lain melakukan tindakan yang sama.

Saat seseorang melihat orang lain menguap, neuron cermin di otaknya ikut terpicu. Respons itu bisa mendorong tindakan meniru secara otomatis, sehingga orang tersebut ikut menguap meski sebelumnya tidak merasa mengantuk.

Mekanisme inilah yang membuat menguap bisa menyebar cepat dalam kelompok. Fenomena serupa juga ditemukan pada beberapa hewan sosial, termasuk anjing, simpanse, bonobo, dan primata lain dalam penelitian yang terbit di jurnal seperti Current Biology, Animal Behaviour, dan Plos One.

Temuan itu memperkuat dugaan bahwa menguap menular berkaitan dengan interaksi sosial dan empati. Dalam kelompok makhluk hidup yang berinteraksi intens, kemampuan meniru bisa menjadi bagian dari cara otak merespons lingkungan sosial.

Kedekatan sosial ikut menentukan respons

Menguap menular tidak muncul secara acak pada semua orang. Sejumlah studi menunjukkan hubungan sosial yang dekat membuat respons ini lebih mudah muncul dibandingkan ketika seseorang melihat orang asing menguap.

Penelitian di Plos One pada 2013 menemukan anjing lebih sering menguap setelah melihat pemiliknya menguap daripada saat melihat orang yang tidak dikenal. Para peneliti juga mencatat bahwa frekuensi respons itu berkaitan dengan kedekatan emosional antara anjing dan manusia yang diamatinya.

Fenomena ini dikenal sebagai familiarity bias, yakni kecenderungan memberi perhatian lebih besar kepada individu yang sudah familiar. Pada manusia, pasangan, keluarga, atau teman dekat cenderung lebih mudah memicu respons serupa karena perhatian sosial terhadap mereka lebih tinggi.

Hasil yang sejalan juga ditemukan pada simpanse dan bonobo. Pada primata tersebut, menguap menular lebih sering terjadi di antara anggota kelompok yang memiliki ikatan sosial lebih kuat.

Ada kaitan dengan kewaspadaan kelompok

Beberapa ilmuwan menilai menguap menular juga punya fungsi yang berkaitan dengan kesiagaan. Salah satu teori menyebut menguap membantu mendinginkan otak, sehingga kemampuan berpikir dan konsentrasi tetap optimal.

Jika benar demikian, penyebaran menguap di dalam kelompok bisa membawa manfaat kolektif. Ketika satu individu menguap dan yang lain ikut menguap, tingkat kewaspadaan kelompok bisa meningkat secara bersamaan.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa sekadar melihat orang lain menguap dapat meningkatkan kemampuan mendeteksi ancaman. Dalam konteks evolusi, kondisi itu bisa menjadi keuntungan besar bagi nenek moyang manusia yang hidup di lingkungan penuh risiko.

Meski manfaatnya tidak selalu tampak dalam kehidupan modern, mekanisme biologis tersebut diduga tetap bertahan. Hal itu membuat menguap menular dipandang sebagai perilaku yang punya nilai adaptif, bukan sekadar kebiasaan yang muncul tanpa alasan.

Sinkronisasi aktivitas dalam kelompok

Teori lain menyebut menguap menular membantu menyelaraskan ritme aktivitas dalam kelompok. Menguap sering muncul saat tubuh memasuki fase transisi, misalnya ketika akan beristirahat, bangun tidur, atau berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Saat satu orang menguap lalu orang lain ikut menguap, respons itu dapat membantu menyamakan kondisi fisik dan perhatian antaranggota kelompok. Bagi hewan yang hidup berkelompok, keselarasan seperti ini penting untuk bergerak, berburu, beristirahat, atau menghindari ancaman bersama.

Dukungan terhadap gagasan ini juga muncul dari studi pada singa Afrika liar. Dalam penelitian tersebut, singa yang tertular menguap dari anggota kelompok lain cenderung lebih sering meniru gerakan dan aktivitas yang dilakukan singa pertama.

Temuan itu menunjukkan menguap bisa berkaitan dengan koordinasi sosial, bukan hanya respons tubuh individual. Dalam kelompok sosial, mekanisme semacam ini membantu setiap anggota berada pada ritme yang sama.

Tidak semua orang mudah tertular menguap

Meski umum terjadi, tidak semua orang memiliki kerentanan yang sama terhadap menguap menular. Berbagai penelitian menyebut sekitar 40% hingga 60% orang dewasa akan menguap setelah melihat orang lain menguap.

Beberapa studi juga menemukan bahwa orang dengan empati lebih tinggi cenderung lebih mudah tertular. Sebaliknya, ada hubungan negatif antara menguap menular dan sifat psikopatik, meski hubungan ini tidak selalu muncul konsisten di semua penelitian.

Faktor perhatian tampaknya juga penting. Pada penelitian terhadap anak dengan autisme, perbedaan respons terhadap menguap menular dapat berkurang ketika mereka diminta lebih fokus pada orang yang menguap.

Temuan itu menunjukkan bahwa kemampuan memperhatikan stimulus sosial ikut memengaruhi apakah respons menguap akan muncul atau tidak. Dengan kata lain, otak tidak hanya meniru, tetapi juga memilih sinyal mana yang dianggap penting.

Menguap sebagai sinyal keterhubungan sosial

Dalam kajian psikologi, menguap menular sering dipandang sebagai bentuk keterhubungan sosial yang terjadi tanpa disadari. Sejumlah penelitian yang dikutip Psychology Today menyebut perilaku ini terkait dengan peniruan otomatis dan pemodelan empatik.

Proses itu membantu seseorang merasa lebih selaras dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam jangka panjang, mekanisme semacam ini dapat memperkuat kohesi kelompok, mempererat rasa kebersamaan, dan melancarkan interaksi sosial.

Itulah sebabnya menguap menular lebih sering muncul di antara orang-orang yang punya ikatan emosional kuat. Teman dekat, anggota keluarga, dan pasangan cenderung lebih mudah memicu respons ini dibandingkan orang yang tidak dikenal.

Dari sudut pandang itu, menguap bukan hanya sinyal tubuh yang berkaitan dengan kantuk. Perilaku sederhana ini juga menjadi bagian dari cara otak manusia menjaga hubungan sosial dan merespons lingkungan sekitarnya secara otomatis.

Source: www.beritasatu.com

Terkait