Korea Selatan menghadapi gelombang panas yang naik level menjadi darurat. Pemerintah setempat pada Minggu (12/7/2026) mengeluarkan peringatan darurat pertama dalam sejarah di bawah sistem penilaian baru, setelah suhu melonjak drastis dan memicu kekhawatiran akan risiko fatal.
Otoritas juga meminta warga menghentikan aktivitas di luar ruangan dan mencari tempat teduh yang sejuk. Peringatan ini memperlihatkan bahwa kondisi yang terjadi bukan sekadar cuaca terik biasa, melainkan situasi yang bisa membahayakan kesehatan hingga memicu kematian akibat paparan panas ekstrem.
Suhu Tembus Batas Darurat
Sistem baru itu dipakai ketika suatu wilayah diperkirakan mengalami perceived temperature 38 derajat Celsius atau suhu aktual 39 derajat Celsius selama satu hari penuh. Badan Meteorologi Korea (KMA) mengeluarkan peringatan gelombang panas darurat pada pukul 10 pagi untuk dua kota di selatan Provinsi Gyeongsang Utara, yaitu Gyeongsan dan Pohang.
Kepala KMA, Lee Mi-seon, mengatakan kepada Channel News Asia bahwa ini adalah kali pertama peringatan tersebut diterbitkan sejak sistem baru berlaku. Lee menegaskan status darurat itu menunjukkan peningkatan risiko serius bagi orang sehat sekalipun, termasuk penyakit hingga risiko kematian.
Warga Diminta Waspada di Luar Ruangan
Di tengah suhu yang terus menekan, warga yang masih berada di luar ruangan diimbau segera berhenti beraktivitas dan berteduh. Otoritas setempat juga mengingatkan agar anak-anak maupun hewan peliharaan tidak ditinggalkan di dalam kendaraan, karena suhu di dalam mobil bisa naik sangat cepat dan berbahaya.
Sejumlah wilayah di Korea Selatan, termasuk Seoul, juga masih berada di bawah peringatan gelombang panas. Status ini dikeluarkan ketika suhu yang dirasakan diperkirakan bertahan di angka 35 derajat Celsius atau lebih tinggi selama dua hari berturut-turut.
Di Seoul, anak-anak terlihat mencoba menyejukkan diri dengan berlari melewati pancuran air di Lapangan Gwanghwamun. Sementara itu, warga dewasa memilih berlindung di pusat perbelanjaan atau mal yang lebih sejuk.
Gelombang Panas Makin Panjang dan Intens
Data KMA menunjukkan jumlah rata-rata hari gelombang panas tahunan di Korsel telah melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 19 hari dalam lima tahun terakhir. Pada era 1970-an, angka itu hanya sekitar 8 hari.
Fenomena malam tropis juga meningkat tajam, dari 4 menjadi 14 hari, yaitu ketika suhu malam tidak turun di bawah 25 derajat Celsius. Kondisi ini memperlihatkan bahwa panas ekstrem bukan hanya terjadi pada siang hari, tetapi juga bertahan hingga malam.
Cuaca ekstrem serupa tidak hanya dirasakan di Asia. Eropa lebih dulu dihantam musim panas yang membakar dan memecahkan rekor suhu di Jerman, Polandia, hingga Inggris.
Prancis bahkan mencatat lebih dari 2.000 kematian tambahan akibat gelombang panas ekstrem tersebut. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat ulah manusia, ditambah kembalinya fenomena El Nino, ikut mendorong suhu bumi terasa semakin mendidih.







